Anak-Anak di Tahun Terburuk Perang Suriah

Bagian apa yang paling mengenaskan dari sebuah perang? Adalah hilangnya jutaan harapan, mimpi dan rasa aman dari anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Ketika sebuah negara yang tengah berkembang maju dengan timbunan minyak buminya, hancur porak poranda dalam konflik yang berlangsung selama 6 tahun yang hingga kini belum menemukan titik temu penyelesaiannya.

Sebagian besar jumlah korban dalam setiap konflik atau perang adalah anak-anak, termasuk yang terjadi di Suriah. Data UNICEF menunjukkan bahwa tahun 2016 adalah tahun terburuk bagi anak-anak Suriah dengan sedikitnya 652 anak tewas pada tahun 2016. Tahun lalu menjadi tahun terburuk dengan banyaknya letupan serangan yang ditujukan ke sekolah-sekolah, rumah sakit, taman bermain, taman, dan rumah, baik oleh tentara pemerintah maupun lawan-lawan sekutu. Mereka menjatuhkan bom dengan begitu ringannya tanpa menunjukkan sedikitpun kepeduliaan terhadap nasib anak-anak yang berada di dalamnya dan sama sekali mengacuhkan hukum dalam perang.

Data UNICEF menunjukkan sedikitnya 255 anak tewas di atau dekat sekolah pada tahun lalu dan 1,7 juta anak-anak mengalami putus sekolah. Kemudian, satu dari setiap tiga sekolah di Suriah tidak dapat lagi digunakan, beberapa di antaranya karena kelompok bersenjata menduduki tempat mereka. Sedangkan 2,3 juta anak-anak Suriah mengungsi ke tempat lain di Timur Tengah.

Angka-angka tersebut terdapat dalam sebuah laporan UNICEF yang dirilis menjelang tahun ke-enam di akhir pekan ini, yakni dari 2.011 pemberontakan rakyat terhadap pemerintahan Presiden Bashar Assad yang terjadi seperti dilansir dari AP. Pemberontakan yang merupakan bagian dari gerakan Musim Semi Arab di Timur Tengah, dengan cepat meningkat menjadi perang saudara besar-besaran.

Meningkatnya Korban Anak-Anak

Sebuah laporan yang dirilis minggu lalu oleh Save the Children mengungkapkan bahwa anak-anak Suriah menunjukkan tanda-tanda “stres beracun” yang dapat menyebabkan masalah kesehatan seumur hidup. Mereka harus berjuang dengan gangguan kecanduan dan mental yang berlangsung sampai dewasa. Dampak psikologis tersebut sulit disembuhkan. Psikolog Tara Adhisti mengatakan bahwa anak-anak korban perang bisa jadi membutuhkan waktu penyembuhan selama siklus hidup mereka. “Banyaknya terpaan yang dihadapi oleh anak-anak dalam kondisi perang membuat mereka sulit atau bahkan impossible untuk dipulihkan 100%. Terapi trauma healing, kognitif terapi, serta emotional healing dan yang diberikan bisa saja untuk pemulihan seumur hidup,” papar Tara.

Anak-anak juga sangat rentan beresiko mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Tidak hanya itu, anak-anak korban perang cenderung akan tumbuh menjadi seorang yang anarkis, pemarah, pembenci dan tidak bisa menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain. Karena mereka terbiasa melihat perlakuan buruk selama konflik berlangsung. Muna, seorang gadis kecil yang selamat menuturkan bahwa “Ketika saya tidur, saya merasa ketakutan. Tetapi, saya tidak akan biarkan siapapun membunuh saya,” ucap Muna.

Dapat terlihat bahwa bagaimana seorang gadis kecil bahkan telah menumbuhkan self defense yang begitu kuat di usianya yang belum genap 5 tahun. Luka psikologis lain juga dirasakan oleh Hubbo yang telah kehilangan segalanya dalam sekejap. “Saya berjalan kaki sepulang sekolah dan lingkungan rumah saya telah hancur. Ada banyak darah di jalan. Teman saya terbunuh dan rumah saya hancur.”

Tidak terbayangkan betapa dalam luka psikologis yang mereka rasakan di usia yang begitu muda. Belum lagi, sexual harassement yang dialami oleh anak perempuan dalam konflik. Tentara ISIS di Suriah bahkan memperkosa anak-anak perempuan di hadapan sanak saudara dan orang tua mereka. Selain itu, UNICEF mengungkapkan bahwa penggunaan tentara anak-anak juga terus meningkat di Suriah. Setidaknya sebanyak 851 anak-anak direkrut oleh faksi-faksi bersenjata tahun lalu atau lebih banyak dua kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Anak-anak di seluruh negeri berada pada risiko mengalami cedera parah saat bermain di sekitar ranjau darat dan bom curah. Operasi penghapusan ranjau di daerah oposisi yang diadakan telah sangat terhambat karena tidak dapat diaksesnya tempat tersebut oleh para ahli di luar.

Sementara itu, Norwegian Refugee Council mengungkapkan bahwa di tahun ke-enam, sebanyak 13,5 juta orang membutuhkan bantuan, karena mereka masih berada dalam kondisi mengerikan dan memburuk. “Selama tahun lalu di Suriah, semua pihak yang terlibat telah memblokir pasokan bantuan dan jutaan penduduk telah menjadi lebih miskin, lapar dan lebih terisolasi dari bantuan dunia,” kata Direktur Timur Tengah NRC, Carsten Hansen kepa AP.

Dalam konflik yang masih terus berlangsung, para pihak menggunakan pengepungan dan kelaparan penduduknya sebagai senjata perang. Bahkan, sekitar 5 juta orang masih terperangkap di daerah pertempuran aktif, termasuk hampir satu juta penduduk berada di daerah terkepung yang tidak memiliki akses ke bantuan kemanusiaan.

BAGIKAN HALAMAN INI:



Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 - Saksikan eksklusif live streaming Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 yang akan dilangsungkan di Paris pukul 2.30 pm waktu Paris atau Pukul 7.30 pm waktu Jakarta.