Berdayakan Difabel Tuli

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdirinya Sampaguita Foundation dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadi Putri Sampaghita  (Thie) yang pernah mengalami sulitnya mencari pekerjaan. Thie bercerita bahwa setelah lulus sebagai sarjana jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) pada tahun 2014, dirinya telah mengalami penolakan dari hampir 500 perusahaan. “Pernah ada satu lamaran saya diterima dan kemudian dipanggil untuk interview. Tetapi, ketika melihat kondisi saya yang tuli, perusahaan tersebut segera menolak dengan halus,” cerita Thie. Kemudian, ada seorang ibu yang mendengar kisahnya di media, Bu Lucia Dinda Yuniar namanya. Lucia kemudian menghubungi Thie dan menawarkan untuk membuat yayasan khusus difabel tuli yang kemudian pendiriannya diresmikan pada 2 Agustus 2016.

Sampai saat ini, baik masyarakat maupun pemerintah belum ramah terhadap difabel tuli. Hal ini pula yang membuat para difabel tuli kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Berbeda halnya dengan tuna daksa dan tuna rungu yang sudah lebih maju. Oleh karenanya, Thie bersama dengan Sampaguita Foundation memberikan pelatihan kepada difabel tuli dan menyalurkan mereka kepada perusahaan-perusahaan yang bekerjasama. Hingga sat ini sudah ada empat program yang dijalankan. Tiga program pertama adalah tata boga dan yang keempat pelatihan untuk membuat dompet kulit, roti, melukis gelas dan sepatu. Program keempat yang dibuka untuk difabel se-jabodetabek ternyata mendapatkan respon yang luar biasa. Ada sekitar 1700 orang yang mendaftar, tetapi sponsor membatasi hanya 150 orang.

Thie telah melalui semua kesulitan sebelum akhirnya mendirikan Sampaguita Foundation untuk memberdayakan difabel tuli sepertiu dirinya. Salah satu yang membuatnya begitu putus asa adalah hinaan dan ejeken teman-teman ketika Thie SMP. “Saya pernah ingin bunuh diri saja karena tidak kuat terus diejek dan dihina oleh teman-teman di sekolah. Namun, bibi (asisten rumah tangga) terus menasehati saya dan menenangkan hati saya agar saya tidak nekat,” kenang Thie.

Tidak hanya di SMP, Thie bercerita sewaktu kuliah tidak ada satupun teman yang mau membantunya. Semua ia lakukan seorang diri. Masa-masa sulit itu ia hadapi dengan dukungan semangat dari ibu dan kekasihnya. Perempuan yang berkeinginan menjadi seorang difablepreneur berharap masyarakat dan pemerintah mulai ramah terhadap difabel tuli, kemudian juga menyarankan kepada perusahaan-perusahaan agar mau menerima karyawan dari difabel tuli. “Jika mereka lebih ramah, maka difabel tuli bisa maju dan berkarya,” ucapnya.

BAGIKAN HALAMAN INI: