Botox Adalah Problem Kejiwaan?

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat diperkenalkan pada tahun 2002, botox menghentak dunia kecantikan. Setelah lima belas tahun berlalu, tidak ada tanda-tanda peredupan dari tingkat penggunaan botox. Menurut data dari American Society for Aesthetic Plastic Surgery, jumlah perempuan usia 19-34 tahun yang melakukan prosedur ini melonjak pesat hingga 41% ditahun 2011.

Fenomena penggunaan botox kini sudah menyentuh persoalan kecanduan. Bagi para wanita muda yang memiliki addiction terhadap injeksi ini, ada satu buku yang perlu Anda baca, yaitu Botox Nation: Changing the Face of America karya Dana Berkowitz, PhD. Menurut Berkowitz, efek botox yang bersifat sementara, yakni hanya bertahan sekitar empat sampai enam bulan, adalah salah satu faktor yang menyebabkan seseorang ingin terus melakukannya.

Akan tetapi, bukan hanya efek sementara Botox yang membuat para wanita ingin terus memberi injeksi. Lebih jauh dari itu, kecanduan botox juga berkaitan dengan masalah psikis perempuan itu sendiri di mana penggunanya berusaha keras untuk melawan penuaan. Berkowitz kemudian mencurigai bahwa problem kejiwaan tersebut sesungguhnya merupakan dampak dari upaya bisnis kecantikan dalam mempromosikan produk-produknya dengan cara “mencuci” otak perempuan agar tak merasa puas dengan dirinya.

Nah, bagaimana dengan Anda? Masih perlu segudang cara untuk bisa menghargai tubuh Anda sendiri?

BAGIKAN HALAMAN INI: