Claire Danes: Great Heights

Claire Danes mencintai segala hal tentang pekerjaannya dalam membintangi serial Homeland. Tetapi hal yang paling ia nikmati adalah saat menghabiskan waktunya di markas besar Central Intelligent Agency (CIA) di Langley, Virginia, Amerika Serikat. Setiap tahun, selama beberapa waktu ia akan menghabiskan waktu di markas tersebut untuk belajar bagaimana kehidupan agen rahasia yang asli. “Pengalaman mereka sangat liar, Anda tidak akan habis pikir,” ceritanya dengan mata yang berbinar. “Mereka adalah sekelompok orang-orang yang memiliki cerita menarik untuk kita, ahli dalam bidang media sosial, anti terorisme dan perdagangan narkoba. Semua itu sangat menarik. Ini adalah bagian yang paling saya sukai,” ceritanya.

Kami sedang duduk di Cafe Clover di New York West Village pada siang hari yang hangat dan pada saat itu, penampilan Danes tidak bisa terlihat seperti seorang mata-mata. Ia mengenakan blus berwarna kuning, celana pensil jeans gelap, dan sepatu kulit ular dari Chloé. Ia tampak menonjol dan stylish di tengah kerumunan pusat kota dan semua mata tertuju padanya.

Di usianya yang ke-37 tahun, Danes terlihat lebih cantik daripada saat di kamera. Ia memiliki kulit pucat bercahaya, pribadi yang baik, dan sangat ramah. Sangat mudah membayangkan ia tampil dalam foto terbaiknya bersama teman lamanya Lena Dunham dalam acara Emmy tahun 2013, atau saat melihat Danes dan suaminya Hugh Dancy serta putra mereka yang berumur 4 tahun (Cyrus) berjalan-jalan ke Soho. Tapi ketika ia berbicara tentang Homeland, serial thriller yang sudah memasuki season ke-6, sisi lain Danes sebagai seorang mata-mata yang mengidap bipolar, Carrie Mathison, mulai terlihat. Mata Danes melebar, kepalanya miring dan penuh tanda tanya seperti belalang. Danes merupakan sebuah kombinasi yang menarik antara ketenangan dan kewaspadaan. “Saat ini, kami mengejar shooting dua episode, sangat intens,” kata Danes. Ia harus bagun pukul 04.30 pagi untuk lari pagi sejauh enam mil dan berada di lokasi shooting selama 12 sampai 15 jam sehari, lima hari dalam seminggu selama produksi berlangsung.

Danes menyadari bahwa Carrie Mathison adalah peran seumur hidup, peran yang menyelamatkannya dari bayang-bayang peran sebelumnya sebagai perempuan lemah dalam My So-Called Life dan Romeo+Juliet. Danes mendapatkan lima nominasi dalam Emmy Award untuk serial TV Homeland dan memenangkan dua penghargaan, serta dua penghargaan Golden Globes. “Saya tidak pernah bekerja dengan seorang aktris seperti Danes,” kata produser eksekutif Homeland, Alex Ganza, yang menggambarkan sosok Carrie untuk Danes dalam pikirannya. “Mandy Patinkin (yang berperan sebagai mentor dari Carrie, Saul Berenson dalam serial TV Homeland) berkata bahwa beradu akting dengan Danes seperti bermain basket satu lawan satu bersama Michael Jordan. Ia dapat membuatmu tertawa dan menangis sekaligus dalam satu kalimat secara langsung.”

Menemukan Passion

Namun saat ini, Danes lebih senang tertawa daripada menangis. Serial TV Homeland diproduksi di New York pada season ke-6 ini (setelah menjalankan tugas ke Cape town, Afrika Selatan, dan Maroko), yang berarti Danes ada di ‘kandangnya’ sendiri. “Bagi saya, New York adalah kota paling menakjubkan yang ada di planet,” kata Danes. Ia sangat menikmati melakukan shooting di kotanya tersebut. “Kami shooting di Raoul’s, Soho, saya bisa pulang ke rumah untuk makan siang, Hugh ada disana. Saya tidak terbiasa dengan rutitinitas ini, terasa aneh tapi menyenangkan.”

Akting selalu menjadi passion utama bagi Danes dan hal yang paling penting baginya. Sekarang ketika ia bekerja di kampung halamannya, ia merasakan semangat yang dulu ia rasakan. Danes tumbuh besar di New York bersama orang tuanya yang seniman di sebuah apartemen di Crosby Street. Saat itu ia menyadari bahwa ia ingin mendala-mi dunia seni, agar ia bisa tampil. Ia menyadari hal tersebut ketika ia menonton Sophie’s Choice atau Masterpiece Theatre. Tetapi sebenarnya ke-inginan tersebut sudah ada sejak lama keti-ka ia menonton video Madonna. “Saya berumur 5 tahun dan sedang menonton TV, dan Madonna sedang menari diatas panggung. Melihat Madonna menyadarkan saya bahwa tampil di panggung adalah hal yang juga saya inginkan,” katanya. “Saya sangat gembira dan melompat-lompat di kasur!” kenangnya. Di sinilah letak kompleksitas penting dari karakter Danes, ia dengan sangat mudah bergeser dari cerdas pendiam namun kemudian bisa me-ledak-ledak gembira, intense dan playful, ra-puh menjadi tangguh, seorang kutu buku menjadi seorang yang glamour. Ia adalah seorang perempuan yang terdiri dari berbagai hal. Hal ini lah yang membuat ia menjadi aktris yang hebat.

Danes merasa beruntung ia dilahirkan di dalam keluarga yang mendukung pengalaman seperti “pencerahan Madonna” dengan serius. Ibunya adalah seorang pelukis yang mengelola sebuah rumah penitipan di luar rumahnya. Ayahnya adalah seorang fotografer dan konsultan komputer. Danes tumbuh menjadi seorang yang menghadiri P.S 3 dan Professional Performing Arts School secara bersamaan, sekolah tari dan kelas akting. “Saya dibesarkan di waktu dan tempat dimana anak-anak diminta untuk bergabung dengan percakapan dewasa,” katanya. “Zac Posen, Lena Dunham, dan saya; kami semua berada di lingkungan itu, dan saya pikir hal ini berdampak besar bagi kami.”

Pada usia 9 tahun, Danes menyadari bahwa akting adalah cinta pertamanya dan tidak lama setelah itu, orang tuanya mendaftarkan Danes ke The Lee Strasberg Theatre & Film Institute. “Orang tua saya benar-benar berempati de-ngan keinginan kami untuk mengekspresikan diri,” kata Danes (Danes memiliki kakak laki-laki, Asa.) Pada umur 14 tahun, Danes mengambil audisi untuk peran sebagai Angela Chase dalam sebuah TV show “My So-Called Life” dan berhasil menarik keluarganya untuk pindah ke California sehingga ia bisa mendapatkan peran tersebut.

Serial televisi tersebut hanya bertahan satu season, namun berhasil membuat Danes menjadi seorang bintang dengan karakter Danes yang tegas dalam berpikir pada generasinya sebagai remaja suburban tahun 90’an. Peran Danes dalam serial TV tersebut berhasil membawa Danes mendapatkan peran dalam Romeo + Juliet dari Baz Luhrmann. Lawan mainnya Leonardo DiCaprio mengatakan, “Hanya dia perempuan yang be-rani menatap langsung ke mata saya.” Filmnya men-jadi populer, dengan Luhrmann menyatakan bahwa Danes seorang Meryl Streep bagi generasinya”. Pada usia 20 tahun, Danes memutuskan untuk kuliah ke Yale dan mempelajari psikologi, namun setelah dua tahun, dunia akting memikatnya lagi. Perannya di The Hours, Stardust, dan Shop-girl serta yang lainnya mengikuti pada tahun 2006 hingga Danes bertemu de-ngan Dancy pada set drama Evening.

Romansa Asmara

“Pada saat itu saya sedang sendiri, dan saya tidak pernah sendiri sebelumnya, jadi kami hanya berteman untuk sementara,” Danes menjelaskan awal hubungannya dengan Hugh Dancy. “Hugh dan saya bertemu di Rhode Island yang sangat indah, pada musim gugur. Suatu hari ketika kami sedang bersepeda melewati sungai dan melihat pemandangannya sangat indah, tiba-tiba saya menyadari bahwa saya merasa benar-benar bahagia.” Seperti Danes, Dancy adalah seorang yang cerdas dan bijaksana, Dancy adalah anak dari seorang Filsuf Jonathan Dancy, dan ia sangat menyukai techno dance.

Pada tahun 2009, Danes mendapatkan peran sebagai aktivis yang autis, Temple Grandin, untuk sebuah biopic di HBO, dari sana ia belajar bahwa ia benar- benar bisa berperan apa saja. Danes memberikan kinerja yang tak terhapuskan, ia memenangi Emmy Award, Golden Globes Award, dan Screen Actors Award. Hal tersebut membuatnya merasa didukung oleh pengalaman dan bertekad untuk mencari peran lainnya yang lebih menantang.

Namun untuk mencari suatu hal lain yang bermakna, Danes memilih tidak bekerja selama dua tahun. “Itu adalah mimpi buruk,” katanya. “Saya seperti berada di dalam penderitaan yang mendalam, saya sangat bernafsu dan berenergi, saya merasa saya kuat, mampu dan bersemangat. Tapi saya tidak ingin kembali berperan sebagai perempuan biasa-biasa saja, atau mendapatkan jenis peran seperti sekretaris, saya ingin berperan menjadi seseorang yang sangat berpengaruh untuk ceritanya.”

Dan selama masa istirahatnya dari akting, Danes mengalami depresi dan banyak menangis. Pada satu titik, ia mengalami keterpurukan pada sebuah permainan Mets. “Pada saat itu saya bersama dengan teman saya Janette, dan saya tidak bisa berhenti menangis,” kenang Danes. “Lalu dia berkata ‘Ok, kita akan berbuat sesuatu untukmu, kamu harus bekerja’, hal tersebut sa-ngat membantu, saran yang pragmatis, dan saya hanya berdiri disana menangis tersedu-sedu dan sambil memegang hotdog di tangan,” cerita Danes.

Ketika kehidupan kariernya untuk sementara terhenti, kehidupan pribadinya pun merekah. Ia dan Dancy menikah di Perancis pada tahun 2009 dalam sebuah upacara yang diresmikan oleh teman dekat mereka Michael Cunningham, yang telah menulis naskah untuk drama Evening. Danes menghabiskan banyak waktu di New York. Ia mengambil kelas seni tari dan kelas akting dan pergi bersama dengan teman-teman lama. “Memerankan sebuah karakter adalah suatu hal yang sangat serius bagi Danes,” kata aktris Gaby Hoffman, yang sama-sama berada di P.S 3 bersama dengan Danes. Hoffman mengibaratkan Danes fleksibel dan berani untuk kemampuannya menari walaupun ia adalah seorang aktris: “Ketika Claire menari, tidak ada satupun bagian dari tubuhnya yang tidak ikut me-nari. Kebanyakan orang membutuhkan obat agar bisa menari seperti Claire menari. Jalan menuju alam bawah sadarnya sangat menakjubkan.”

Homeland

Tanpa diketahui, Danes, Gansa dan eksekutif Produser dari serial Homeland Howard Gordon sedang menulis naskah berdasarkan drama sebuah tahanan perang di Israel dan dengan pikiran khusus mereka tentang Danes. “Dalam beberapa hal, Carrie sebenarnya seperti Claire,” kata Gansa yang melihat Danes di Temple Grendin dan merasa “takjub” dengan performa Danes.

Danes merasa ketakutan ketika ia membaca naskah dari serial Homeland. Bagi Danes, ketakutan ketika ia membaca sebuah naskah merupakan pertanda bagus bahwa ia menemukan peran berikutnya. “Carrie adalah pribadi yang berani, bisa diandalkan dan terakomodasi, sedangkan saya tidak,” kata Danes. “Saya gugup, saya merasa seperti ini merupakan sebuah latihan dan apakah saya akan mampu mempertahankan itu?”

Namun Danes seperti memotret sosok Carrie de-ngan kecerdasannya yang anggun, kerentanan dan kekuasaan yang membuat pemirsa ketagihan. Wajah menangis Carrie menjadi sebuah lelucon dimana-mana. Anne Hathaway menirunya saat berada di dalam acara Saturday Night Live. Dan Danes merasa senang bisa kembali di TV. “Ternyata saya benar-benar bekerja,” katanya. “Hal ini jauh lebih mudah untuk menerapkannya ke diri sendiri daripada harus menunggu berada di atas panggung. Saya tahu bahwa enam bulan dalam setahun ini, saya akan memiliki sesuatu yang nyata dalam hidup.”

Begitu juga serial Homeland, banyak hal yang membuatnya takjub. “Tujuan saya adalah untuk selalu melakukan hal-hal yang berada di luar jangkauan saya, dan serial Homeland terus melakukan itu. Setiap musim, ada saja hal yang menakutkan untuk saya. Acara ini seperti berlian yang jatuh dari langit, saya akan selalu merasa terpukul oleh itu, namun dengan cara yang baik.”

BAGIKAN HALAMAN INI: