Dinda Ismail: Menemukan Cinta Sejati di Dunia Maya

Walau banyak yang skeptis dengan konsep hubungan yang dimulai dari kencan online dan LDR, Dinda Ismail membuktikan bahwa hubungan yang berawal dari sebuah pesan elektronik itu dapat memiliki fondasi yang kuat. Komunikasi dan komitmen menjadi kunci dalam sepuluh tahun pernikahan mereka.

Di awal tahun 2000, blog menjadi platform online yang digemari banyak orang termasuk saya. Suatu pagi di akhir bulan Oktober 2006, saya menerima sebuah email yang tidak biasa. Saat itu saya masih bekerja sebagai jurnalis di LA Times di Jakarta. Setelah mencari tahu, ternyata pengirim email tersebut adalah laki-laki yang kerap membaca dan memberikan beberapa komentar di blog saya yang biasanya hanya saya balas sekadarnya saja. Laki-laki itu mengirimkan sebuah email untuk mengajak saya minum kopi dengan cara unik yang membuat saya tersipu. “Saya sedang mengurangi minum kopi, bagaimana kalau kita minum jus saja?” begitu balas saya.

Komunikasi melalui email tersebut kemudian berlanjut di messenger. Laki-laki bernama Teuku Ismail tersebut sedang bekerja di perusahaan minyak di Timur Tengah. Mengetahui hal itu saya berpikir kapan kami akan bertemu karena ia memiliki waktu tujuh minggu bekerja dan tiga minggu untuk cuti. Ketika saya menanyakan kelanjutan rencana kami untuk bertemu, Teuku mengatakan sebentar lagi ia akan pulang ke Indonesia.

Pertemuan pertama kami dapat dibilang tidak biasa. Ia meminta saya untuk menjemputnya di Bandara Soekarno – Hatta. Saya sempat ragu karena baru satu bulan kenal melalui dunia maya, ia sudah meminta saya untuk menjemputnya. Tetapi Teuku menjelaskan bahwa bandara adalah tempat yang aman. Mengingat kami hanya berkomunikasi melalui messenger. Ia mengatakan bahwa saya dapat menelepon dan melihat bagaimana sosoknya dari kejauhan. Ia juga membebaskan saya untuk memutuskan jika saya tidak tertarik dan tidak yakin dengannya, maka saya boleh pulang dan kami tidak akan melanjutkan pertemuan tersebut. Jujur saja, jika dilihat dari lokasi kerjanya, saya membayangkan ia akan berperawakan tinggi besar dan berkulit gelap, ciri khas orang lapangan. Namun rasa penasaran membuat saya yakin untuk bertemu. Setelah telepon dan melihat sosok Teuku dari kejauhan, ternyata ia jauh berbeda dari apa yang saya bayangkan. Teuku Ismail, seorang ahli geofisika ternyata memiliki perawakan kurus, tinggi dan berkulit putih. Pertemuan pertama tersebut terasa sangat menyenangkan. Kami membicarakan banyak hal di sebuah kafe untuk makan siang bersama dan tentunya minum jus.

Hubungan kami semakin bertambah dekat ketika kami melakukan perjalanan ke Bali. Waktu itu saya memiliki tugas kerja untuk membuat photo story di Bali. Karena Teuku tidak memiliki banyak kegiatan saat di Indonesia, ia kemudian menawarkan diri untuk ikut ke Bali bersama saya. Meskipun merasa terkejut, tetapi saya tidak memiliki alasan untuk menolak. Setelah saya menyelesaikan tugas, kami menghabiskan waktu berdua untuk menikmati Pulau Bali. Suatu ketika, kami mengunjungi butik aksesori dan ia meminta saya untuk memilihkan sebuah aksesori yang akan diberikan kepada temannya. Hal itu membuat hati saya merasa sedikit kecewa. Bagaimana tidak, kami sudah beberapa hari menghabiskan waktu bersama tetapi ia tiba-tiba ingin membelikan sesuatu untuk orang lain. Namun karena saya sadar bahwa hubungan kami belum memiliki kesepakatan yang jelas, maka saya tidak menghiraukan pikiran tersebut dan memilihkan sebuah kalung manik-manik berwarna hijau untuknya. Setelah keluar dari butik, ia kembali mengejutkan saya dengan memberikan kalung tersebut kepada saya. Katanya untuk pengingat saat ia kembali ke Timur Tengah nanti.

Rutinitas Selamat Pagi

Setelah ia kembali bekerja, kami berlanjut menjalani komunikasi melalui messenger. Sapaan selamat pagi mulai menjadi rutinitas untuk memulai hari bagi kami. Tidak dapat dipungkiri bahwa perasaan-perasaan baru mulai tumbuh seiring berjalannya waktu. Karena sudah lelah dengan hubungan yang hanya main-main dan bahkan sempat diselingkuhi dalam hubungan sebelumnya, mendorong saya untuk mencari kejelasan mengenai hubungan yang kami jalani meskipun baru mengenal satu sama lain dalam waktu sekitar dua bulanan.

Saat ia kembali lagi ke Indonesia, kami akhirnya berencana untuk bertemu dengan orang tua masing-masing, orang tua saya di Medan dan orang tua Teuku di Aceh. Namun sebelumnya saya sudah memberitahu orang tua saya agar tidak berekspektasi lebih karena pertemuan nanti hanya sebatas perkenalan saja. Tujuannya agar kami mendapat restu sepenuhnya dari orang tua. Jika mereka menyetujui, maka kami dapat melanjutkan hubungan, namun jika tidak kami dapat segera menyudahinya sebelum perasaan kami semakin dalam terhadap satu sama lain.

Setelah bertemu dengan orang tua saya, kami pergi ke Aceh untuk bertemu orang tua Teuku. Ketika tiba di rumahnya, kami tidak banyak berbicara dengan orang tuanya karena bapaknya juga sudah terbaring sakit. Teuku adalah anak terakhir dan satu-satunya yang belum menikah. Saat itu ibunya mengatakan jika sudah saling yakin sebaiknya kami segera menikah, saat itu juga di rumahnya. Kami yang berniat hanya berkenalan sangat terkejut dengan pernyataan ibunya, terutama saya. Pikiran sudah tak karuan, rasa takut dan ketidaksiapan pun langsung menyelimuti. Pasalnya kami baru saja kenal, saya masih berusia 25 tahun dan Teuku 28 tahun. Saat itu kami masih memiliki banyak hal yang ingin dilakukan dan mimpi yang ingin dicapai sebelum menikah.

Malam itu juga, kami berdua membicarakan secara serius mengenai hal tersebut. Kami berusaha untuk menyamakan pikiran mengenai definisi menikah. Bagi saya, menikah bukan berarti istri harus menyiapkan segala sesuatu untuk suami dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Pernikahan juga berarti kesetaraan, di mana laki-laki turut andil dalam mengurus rumah dan segala keperluan lainnya karena saat menikah berarti kami akan menjadi sebuah tim yang bekerjasama untuk membuat pernikahan berjalan sesuai dengan semestinya.

Saya akhirnya menelepon orang tua dan menceritakan apa yang terjadi di Aceh. Mereka jelas saja terkejut, ibu saya sampai menangis tersedu karena saya anak perempuan satu-satunya. Setelah dijelaskan, orang tua saya akhirnya menyetujui dengan syarat pernikahan harus berlangsung di rumah orang tua saya di Medan. Setelah menemui kesepakatan, kami mulai menghitung tanggal dan sisa cuti Teuku. Ternyata kami hanya memiliki waktu 10 hari untuk mempersiapkan pernikahan. Tepat pada tanggal 27 Maret 2007 kami menikah. Saya tidak menyangka akan menikah di usia muda, dengan orang yang saya kenal dari sebuah pesan elektronik.

Setelah menikah, kami tidak sempat berbulan madu karena Teuku harus kembali ke Timur Tengah. Kami kembali menjalani ritual kencan online. Berkomunikasi melalui pesan dan saling mengirim foto jika sedang rindu. Menjalani hubungan jarak jauh setelah menikah terasa begitu berat. Komunikasi, kepercayaan dan komitmen menjadi kunci utama dalam pernikahan kami.

Pernikahan Jarak Jauh


Pernikahan kami memang berbeda dengan pasangan lainnya. Saya menganggap diri saya sebagai half single wife. Karena saya lebih banyak sendiri dan mengurus segala keperluan rumah tangga sendiri. Menjalani hubungan jarak jauh tidak semudah yang terlihat. Kecanggihan teknologi hanya menjadi perangkat agar hubungan kami tetap berjalan normal. Berbicara melalui pesan dan melakukan Facetime seakan tidak berfungsi jika kami sedang menghadapi masalah. Kehadiran secara fisik tidak dapat dikalahkan dengan alat komunikasi apapun.

Tujuh tahun setelah menikah akhirnya kami dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Teuku Malik Albara. Memiliki anak dan menjadi seorang ibu adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Namun ketika Malik memasuki usia dua tahun, rasa ingin tahunya memuncak dan banyak beraktivitas. Semuanya menjadi begitu sulit karena saya melakukan segala sesuatunya sendiri, mulai dari mengurus rumah hingga kebutuhan Malik. Memiliki asisten rumah tangga rupanya tidak banyak membantu. Saya merasa sangat kelelahan dan memiliki perubahan mood yang ekstrim. Saya dapat tiba-tiba merasa bahagia dan tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Saya menjadi sulit tidur nyenyak dan kerap merasa sendirian. Saya bahkan menarik diri dari dunia luar karena pikiran terasa begitu penuh hingga bernafas saja rasanya sulit. Hal ini terjadi pada pertengahan tahun 2016 dan terjadi dalam waktu berbulan-bulan. Pada saat seperti ini, hubungan saya dengan suami benar-benar kacau. Saya sering marah dan malas untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi karena sudah lelah. Saya selalu merasa suami saya tidak akan memahami apa yang saya hadapi karena ia tidak ada di hadapan saya untuk melihat bagaimana saya berjuang sendirian. Saya membutuhkan keberadaan suami saya secara fisik.

Setelah berkonsultasi ke psikiater, ternyata saya mengalami gejala depresi. Saya diberikan obat oleh dokter untuk menenangkan diri. Suami saya tidak menyangka bahwa keadaan saya seburuk itu. Kemudian kami berdiskusi dari hati ke hati dan saya sudah dapat menceritakan apa yang selama ini saya hadapi. Kami menyadari bahwa komunikasi yang selama ini dijalani ternyata tidak dapat menjadi solusi. Setelah kejadian itu, suami saya berubah menjadi begitu perhatian dan selalu menanyakan bagaimana kesehatan saya. Ia juga lebih sering mengungkapkan rasa sayangnya kepada saya. Benar saja, ternyata gejala depresi saya berangsur membaik dan saya kembali menjalani hidup dengan bahagia.

Selain mengubah cara berkomunikasi, kejadian tersebut membuat saya menyadari bahwa kita harus memberi ruang untuk mencintai diri sendiri. Jika rasa cinta pada diri sendiri saja tidak cukup, lantas bagaimana mungkin dapat dibagi untuk orang lain. Kami tumbuh dewasa dari masalah-masalah yang kami hadapi. Kami selalu berusaha untuk menyelesaikan masalah langsung pada akarnya sehingga keesokan harinya, kami tidak akan membahas masalah yang sama. Prinsip itu yang kami jalani hingga saat ini dan menjadi salah satu fondasi kami dalam masa sepuluh tahun kami menikah.”

BAGIKAN HALAMAN INI: