Elin Waty: “Dulu Saya Sangat Ambisius Dalam Berkarier”

Menjadi CEO lokal dan perempuan pertama untuk perusahaan Sun Life Financial Indonesia, Elin Waty memetik pelajaran berharga dari kesuksesan yang ia raih sejak usia yang masih sangat muda.

Elin Waty memulai kariernya di usia sangat muda dan pada usia 27 tahun ia sudah mencapai posisi General Manager. Ambisinya saat itu adalah mencapai top level pada usia 35 tahun. Namun posisi impiannya tersebut justru ia raih pada usia 45 tahun. Di perusahaan asuransi asal Kanada yang sudah berdiri selama 20 tahun di Indonesia tersebut, ia tidak hanya menjadi perempuan pertama yang memegang jabatan tertinggi, namun juga menjadi orang lokal pertama.

Sebelum di Sun Life, Elin telah sempat berkarier di AIA dan Cigna serta memiliki pengalaman 20 tahun di dunia asuransi. Dari awal karier tersebut ia mengaku telah memikirkan langkah-langkah untuk mencapai goalnya. “Dulu saya sangat ambisius dalam urusan karier saya,” ujarnya ketika kami bertemu di kantornya di Menara Sun Life di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Elin mengaku memetik pelajaran yang sangat berharga dengan kesuksesan yang ia raih di usia muda tersebut. Pelajaran yang memberinya bekal dalam memimpin saat ini.

 

Marie Claire (MC): Anda adalah perempuan pertama dan orang lokal pertama yang menjadi presiden direktur Sun Life Indonesia. Bagaimana refleksi Anda terhadap pengalaman tersebut?

Elinwaty (EW) : Sebenarnya ketika penawaran itu datang, saya sempat ragu. Jadi, saya katakan pada mereka bahwa saya butuh waktu untuk berpikir. Yang jadi pertimbangan saya adalah fakta bahwa ini merupakan kesempatan pertama yang diberikan oleh Sun Life terhadap orang Indonesia. Jika saya gagal maka saya takut akan memberi reputasi yang buruk bagi orang Indonesia. Fakta bahwa saya adalah perempuan bukan sesuatu yang menjadi masalah.

MC: Berapa hari yang Anda butuhkan untuk mempertimbangkan tawaran ini?

EW: Saya minta waktu 2 minggu walaupun atasan saya hanya mau memberi waktu 3 hari. CEO Sun Life Global, membantu meyakinkan saya. Ia bilang, “Elin, kesempatan itu tidak pernah datang pada saat yang tepat. Kadang terlalu cepat, kadang terlalu lambat. Mungkin kamu merasa ini terlalu cepat, tapi harus kamu ambil. Sun Life tidak mungkin memberi posisi ini jika kami tidak yakin kamu bisa.” Karena orang nomor satu Sun Life yang bicara begitu, akhirnya saya terima tawaran tersebut. Sekarang sudah dua tahun saya ada di posisi Presiden Direktur Sun Life.

MC : Lalu bagaimana di tahun kedua ini, apakah hal-hal yang membuat Anda ragu sebelumnya benar terjadi?

EW : Yang paling sulit menurut saya adalah merubah sikap. Maksudnya, pada posisi tertentu ada banyak hal yang tidak bisa kita bagi begitu saja dengan orang lain. Saya harus belajar mengelola informasi yang bisa saya sampaikan pada orang lain dan tim.

Yang kedua adalah bagaimana membagi waktu. Sebelumnya, ketika di bagian Distribution dan Marketing saya hanya mengurusi dua bidang tersebut saja. Saat ini tentu saya juga harus mengurusi finance, accounting, HR, Operation dan lain-lain. Walaupun saya tidak bisa expert dalam semua hal, namun saya harus tahu informasi dasarnya. Jadi, kadang agak sulit membagi waktu antara satu hal dengan hal yang lain

MC : Berdasarkan survei dan beberapa wawancara yang saya lakukan, banyak yang mengungkapkan bahwa yang membuat perempuan Indonesia sulit mencapai top level salah satunya adalah karena selalu ada dilema, perasaan ragu, dan mungkin juga isu kepercayaa diri. Anda setuju dengan anggapan terseut?

EW: Menurut saya sih tidak. Saya tidak yakin bahwa permasalahan perempuan Indonesia adalah karena ragu atau tidak percaya diri. Yang saya lihat lebih banyak dirasakan perempuan Indonesia adalah rasa bersalah. Jadi misalnya jika seorang perempuan mendapatkan promosi, akan ada pertanyaan apakah ia akan punya waktu yang cukup untuk keluarga. Dalam case saya, saya beruntung tidak menghadapi perasaan bersalah itu karena anak dan keluarga saya mendukung dan saya selalu membicarakan hal-hal seperti ini dengan keluarga. Ketika saya berdiskusi dengan mereka tentang tawaran saya menjadi CEO, tanggapan dari mereka betul-betul membuat saya terkejut. Anak laki-laki saya yang sudah berusia 18 tahun bilang, ‘Selama ini Mama sudah menahan diri dalam karier Mama untuk kami semua. Jadi ini saatnya waktu untuk karier Mama.” Itu merupakan blessing yang sangat penting buat saya

MC : Dalam hal karier apakah Anda tipe orang yang selalu menentukan target bahwa di usia tertentu Anda sudah bisa mencapai jabatan tertentu?

EW : Saya mulai bekerja di usia yang cukup muda, yaitu ketika berusia 21 tahun. Pada usia tersebut saya sudah tahu langkah apa yang ingin saya ambil dalam karier, dan saya sangat ambisius. Dulu mimpi saya adalah bahwa di usia 35 tahun saya sudah bisa menduduki jabatan CEO. Tapi seiring berjalannya waktu, ambisi tersebut sudah tidak lagi mengenai pencapaian pribadi namun lebih ke bagaimana saya bisa berkontribusi pada kesuksesan orang lain.

Kesempatan untuk menjadi seorang CEO justru datang ketika saya tidak lagi memikirkan diri sendiri dan ambisi saya. Seorang sahabat saya bahkan bercanda mengatakan bahwa jika tawaran ini datang 10 tahun yang lalu, saya pasti tidak akan perlu waktu berpikir panjang dan akan langsung saya terima.

Kembali ke perjalanan kesuksesan saya, Di usia 23 tahun saya sudah jadi manager, 25 tahun udah jadi Assistant GM, dan di usia 27 tahun saya sudah menjabat General Manager. Jadi karena sudah sukses di usia muda, pada satu titik saya merasa menjadi orang yang berbeda. Saya melihat diri saya menjadi arogan dan emosional hingga ada masa di mana saya tidak suka dengan diri saya sendiri. Pada titik itulah saya mulai merubah diri saya. Saya mulai memberikan mentoring pada tim-tim-tim saya dan saya merasa bahwa perjalanan karier saya bukan lagi tentang diri saya sendiri

MC : Menarik sekali Anda mengatakan bahwa kesuksesan Anda di usia muda menjadi sebuat pelajaran penting bagi Anda. Apalagi pelajaran lain yang Anda dapat dari pengalaman tersebut?

EW : Menurut saya, secara skill saya mampu melakukannya namun saya belum siap secara mental sehingga ada kecenderungan saya kurang menghargai orang lain. Perasaan itu timbul karena saya meraih kesuksesan atas kerja keras saya sendiri sehingga ada perasaan bahwa apapun yang saya inginkan bisa saya capai.

MC : Lalu apakah Anda pernah mengalami kegagalan?

EW : Sering banget lah! hahaha

MC: Seperti apa?

EW : Seperti yang saya bilang tadi, bahwa dulu saya sangat ambisius dan dari kecil saya memang memiliki karakter yang direct. Jadi, satu hal yang saya pelajari adalah kadang kita tidak bisa terlalu menabrak semua hal dalam melakukan apa yang kita inginkan. Kita harus berusaha mempertimbangkan, adakah jalan lain yang lebih baik? Kenapa mesti menyakiti atau menabrak orang kalau masih ada jalan lain yang lebih baik. Saya akui selama perjalanan karier, dulu saya banyak ‘menabrak orang’. Artinya, apapun yang saya mau, apapun yang saya rasakan, akan langsung saya katakan apa adanya, tanpa memikirkan cara bicara yang mungkin harusnya lebih halus. Dan karakter saya tersebut memberi saya banyak masalah, karena banyak orang merasa tidak nyaman dan tidak semua atasan nyaman memiliki anak buah dengan karakter seperti saya.

Hal tersebut memberi saya pelajaran dan saya berjanji jika saya menjadi leader saya akan menghormati karakter individu yang terbuka dan direct. Jadi saat ini ketika saya menjadi CEO, saya justru mendorong tim untuk bertanya dan mempertanyakan setiap keputusan yang saya buat, agar tidak ada keputusan yang satu arah. Karena itu di Sun Life kami banyak membuat program debat karyawan supaya mereka bisa bicara. Saya membuat program CEO Breakfast di mana karyawan bisa daftar dan bisa bertanya dan berkomentar apapun pada saya.

 

MC : Pemimpin perempuan selalu ditanya bagaimana mereka menjalani double role di kehidupan personal dan profesional. Bagaimana Anda mengatur peran ganda tersebut?

EW : Beberapa waktu lalu saya ikut seminar tentang women empowerment, dan ada satu komentar yang membuat saya merasa terbangun. Komentar tersebut mempertanyakan mengapa ketika seorang laki-laki sukses di kehidupan karier, ia tidak dituntut untuk juga bisa sukses sebagai suami dan ayah. Sementara perempuan yang sukses dalam karier selalu dituntut untuk juga sukses di rumah sebagai istri dan ibu. Memang begitu nilai sosial yang kita anut dari kecil mungkin ya?

Saya sudah bekerja sejak sebelum menikah dan sampai sesudah menikah. Bukan karena saya tidak mau menjadi istri dan ibu rumah tangga, tapi saya merasa tidak sanggup menjalaninya. Pekerjaan ibu rumah tangga menurut saya sangat luar biasa dan tidak untuk semua orang. Banyak orang bilang jika ibunya sibuk di luar pasti tidak akan dekat dengan anaknya, tapi menurut saya adalah bagaimana kita menyiasatinya.

MC : Bisakah Anda memberi 3 career advice berdasar pengalaman Anda?

EW : Yang pertama jangan menjadikan gender sebagai faktor menentukan dalam karier kita. Laki-laki atau perempuan, be professional saja. Perempuan dan laki-laki menurut saya punya kesempatan yang sama.

Yang kedua, jangan merasa bersalah meninggalkan keluarga untuk bekerja. Kita bekerja bukan untuk senang-senang, tapi untuk aktualisasi diri dan membantu ekonomi keluarga. Karena itu selalulah berusaha untuk melakukan yang terbaik, toh, kita sudah meninggalkan keluarga. Ketika di kantor lakukan yang terbaik. Jika kita sudah meninggalkan keluarga, namun di kantor tidak bisa melakukan yang terbaik, ya mendingan di rumah saja.  Dan ketika kita di rumah, lakukanlah yang terbaik untuk keluarga kita.

Yang ketiga, sebagai perempuan timur, bagaimana pun kita diajarkan bahwa anak itu merupakan tanggung jawab perempuan walau mestinya itu menjadi tanggung jawab bersama suami dan istri. Karena itu ketika kita butuh, jangan ragu untuk minta pertolongan siapapun karena akan ada hari-hari di mana kita tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Kita harus bisa terbuka dan berkomunikasi dengan suami karena anak itu bukan hanya punya kita namun juga punya suami.

 

BAGIKAN HALAMAN INI: