“Enough is Enough!” Hannah Al Rashid tentang Kekerasan Terhadap Perempuan

Image: Courtesy Hannah Al Rashid

Tidak perlu heran jika Anda melihat aktris Hannah Al Rashid berada di tengah kerumunan massa yang tengah melakukan aksi demonstrasi, ikut menyuarakan yel yel, dan memegang sign board berisi pesan mengenai isu-isu perempuan.  Besar sekali kemungkinan ia  tidak sedang syuting film atau syuting iklan namun memang sedang ikut berdemo. Terakhir kali kami melihat Hannah melakukan hal tersebut adalah ketika event Women’s March di Jakarta Maret 2017 lalu untuk merayakan Hari Perempuan Internasional.

Namun aksi Hannah tidak sekadar sampai di situ. Ia benar-benar memiliki komitmen dan perhatian besar terhadap isu perempuan. “Saya pikir, secara tidak sadar saya sudah menjadi feminis sejak kecil, meskipun waktu itu saya belum pernah mendengar kata feminis,” ujarnya.

Akhir November ini, Hannah kembali memperlihatkan komitmennya dalam mengangkat isu yang penting bagi perempuan. Untuk menandai Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang dimulai pada 25 November hingga 10 Desember setiap tahun, Hannah akan merilis 16 video melalui Youtube channelnya yang setiap videonya berisi percakapan 2 orang  mengenai isu kekerasan terhadap perempuan.

Simak percakapan kami dengan Hannah mengenai kampanye ini, passion-nya terhadap isu sosial dan komitmennya untuk melawan kekerasan terhadap perempuan.

Marie Claire (MC): Di akun instagram pribadi, Anda mulai mempublikasi teaser video dengan hashtag #16daysofactivism. Bisa ceritakan mengenai video ini?

Hannah al Rashid (HR): Setiap tahun badan PBB meluncurkan kampanye global 16 Days of Activism to End Violence Against Women (Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan). Jadi tahun lalu saya dan teman saya Nadine Alexandra mengunggah video kami yang sedang berbicara mengenai pengalaman kami tentang pelecehan seksual di jalanan di Youtube channel saya. Kami mendapatkan respon yang sangat positif dari penonton sehingga saya terinspirasi untuk membuat kembali di tahun ini.

Kali ini saya ingin mengajak lebih banyak orang, terutama teman-teman aktivis yang memiliki pandangan mendalam terhadap isu ini dan teman-teman saya dari industri hiburan  yang memiliki daya jangkau audiens yang sangat luas. Sangat penting juga bagi saya untuk melibatkan laki-laki dalam kampanye ini. Saya percaya bahwa langkah awal yang perlu kita ambil untuk mengatasi masalah kekerasan terhadap perempuan adalah dengan mulai berbicara terbuka mengenai hal itu. Jika kita masih berpikir bahwa itu tabu untuk dibicarakan dan memilih untuk mengabaikannya, maka kita tidak akan pernah menyelesaikan masalah ini.

MC: Apa pesan yang ingin Anda sampaikan melalui video-video tersebut?

HR:  Saya ingin orang sadar bahwa berbicara mengenai kekerasan terhadap perempuan sangatlah penting. Hal yang sangat positif yang kami dapat dari video tahun lalu adalah betapa banyak korban yang mau berbicara mengenai pengalaman mereka. Biasanya mereka memilih diam. Jadi memancing orang untuk berbicara sangat penting.

Saya memilih orang-orang yang terlibat dalam video saya dengan cermat. Mereka berasal dari latar belakang berbeda dengan perspektif beragam untuk menunjukkan betapa luasnya kaitan isu ini. Wajar jika kita punya pendapat berbeda dan berdebat mengenai isu ini, selama hal tersebut menuju ke sesuatu yang positif.

Yang paling penting tentunya adalah saya ingin orang menonton ini, sehingga mereka bisa mendapatkan insight untuk membentuk opini mereka sendiri.

Baca juga: http://marieclaire.co.id/aktris-hannah-al-rashid-luncurkan-video-kampanye-anti-kekerasan-terhadap-perempuan/

MC: Apakah ada rencana untuk membawa kampanye ini ke skala yang lebih besar lagi?

HR: Saya pikir untuk tahun ini saya sudah melakukan satu langkah lebih besar dari tahun lalu; dari 1 video ke 16 video. Tentu saja, walau banyak tantangan, saya ingin terus maju dan berbuat lebih banyak lagi. Proyek seperti ini menggabungkan dua passion saya, produksi film dan aktivitas sosial.

MC: Apa yang Anda lakukan selama Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan yang akan dimulai pada 25 November ini?

HR: Saya akan meluncurkan 1 video setiap hari, sehingga setelah 16 hari kampanye, audiens akan mendapatkan insight yang penting mengenai isu dan fakta kekerasan terhadap perempuan. Kampanye tahun ini tampaknya akan lebih besar dari tahun sebelumnya. Ada diskusi, pemutaran film, dan bahkan fun run. Saya harap saya bisa datang ke banyak event dan menyerap energi positif.

MC: Anda menunjukkan komitmen besar Anda terhadap isu-isu perempuan dan bahkan menjadi UN SDG Mover for Gender Equality. Bagaimana komitmen ini terbentuk? Ada pengalaman pribadi yang membawa Anda menjadi seorang gender champion?

HR: Saya pikir secara tidak sadar saya sudah menjadi feminis sejak kecil meskipun saya belum pernah mendengar kata tersebut. Saya tumbuh pada masa fenomena Spice Girls dan Girl Power, di mana pada masa itu solidaritas antara sesama perempuan remaja begitu besar di sekolah saya. Ketika anak laki-laki tidak mau  mengajak kami ikut bermain bola bersama mereka, saya dan teman saya melobi guru untuk memberikan kami kesempatan kami bermain bola. Dan ia mengabulkan permintaan kami!

Tapi yang paling momentum adalah ketika saya mulai pindah ke Jakarta dan sering mengalami pelecehan di jalanan. Saya menyadari bahwa hal tersebut terjadi pada banyak perempuan, dan laki-laki bersikap seakan mereka memiliki hak dan kekebalan untuk melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan terhadap perempuan. Pada saat itu saya berpikir, enough is enough. Saya mulai menulis artikel untuk beberapa media seperti The Jakarta Post dan Magdalene, dan tentu juga menggunakan media sosial. Respon positif dan negatif yang saya dapat membuat saya ingin terus maju dengan isu ini. Respon negatif mendorong saya ingin berusaha lebih keras karena menyadarkan bahwa banyak orang yang belum menyadari isu ini, dan tugas kita adalah membuka mata mereka.

(Buka Youtube Channel Hannah Al Rashid untuk menonton seri video #16daysofactivism)

 

 

BAGIKAN HALAMAN INI: