Grace Forrest: Melawan Praktik Perbudakan Modern di Usia Belia

Lebih dari 45 juta penduduk dunia saat ini masih terjebak dalam lingkaran perbudakan modern, baik itu kerja paksa, eksploitasi seksual atau perdagangan manusia. Grace Forrest, perempuan muda berusia 24 tahun dari Perth, Australia berada di garis depan untuk memerangi praktik ini dan bertekad menghapuskannya melalui organisasi Walk Free Foundation.

 

Di usia yang masih sangat muda, Grace Forrest telah berkomitmen untuk memerangi salah satu permasalahan global terbesar.

Seperti khas perempuan usia muda dengan semangat dan passion yang tinggi, Grace Forrest terlihat sangat berapi-api ketika bicara subjek yang paling dekat ke hatinya. Ia selalu punya jawaban yang panjang untuk setiap pertanyaan yang kita berikan. Mungkin karakter inilah yang membuatnya mampu menarik perhatian berbagai pemimpin dunia untuk terlibat dalam organisasi Walk Free Foundation yang ia dirikan bersama keluarganya pada tahun 2012.

Walk Free Foundation, organisasi dengan tujuan mulia dan misi besar untuk menghapus perbudakan di muka bumi dalam 10-20 tahun mendatang, terbentuk dari kontemplasi yang dilakukan Grace setelah perjalanannya dalam sebuah school trip ke Nepal pada saat ia berusia 15 tahun. Pada perjalanan tersebut ia bekerja di sebuah rumah penampungan untuk anak-anak terlantar dan korban eksploitasi. Saat itu Grace menyadari bahwa anak perempuan seusianya memiliki nasib yang begitu berbeda dengan kehidupannya di Perth Australia, dan dari hidup kebanyakan orang yang ia kenal. Pulang ke rumah, ia duduk bersama orangtuanya, pengusaha tambang dan salah satu konglomerat terkaya Australia Andrew dan Nicola Forrest, agar mereka berbuat sesuatu untuk remaja-remaja perempuan di penampungan tersebut. Walau orangtuanya sempat ragu, tapi sifat Grace yang persistence berhasil meyakinkan mereka dapat berkontribusi untuk nasib jutaan anak perempuan di seluruh dunia.

Percakapan keluarga di meja makan tersebut berbuah sebuah organisasi internasional yang saat ini telah menginspirasi puluhan pemimpin agama dan pemimpin negara dari seluruh dunia untuk bertekad menghapus praktik perbudakan modern. Desember 2014 lalu, Walk Free Foundation berhasil mengumpulkan pemimpin agama dunia, termasuk Pope Francis  di Vatican City dan menandatangani komitmen mereka untuk menyampaikan pesan pelarangan perbudakan modern oleh agama (Declaration of Religious Leaders against Modern Slavery). Walk Free bermitra dengan berbagai organisasi kemanusiaan dunia seperti Amnesty International, Girls Not Bride, dan di Indonesia dengan Migrant Care.

Di usianya yang masih 24 tahun, Grace telah bergerak aktif untuk memerangi salah satu masalah terbesar di dunia modern saat ini, namun ia menolak menyebut dirinya sebagai seorang aktivis dan memilih kata abolitionist. “Saat ini orang dengan mudah menyalahartikan kata aktivis dengan sesuatu yang negatif,” ujarnya. “Saya lebih memilih menyebut diri saya seorang abolitionist.” Kepada Marie Claire ia bercerita mengenai passionnya dan bagaimana kita semua dapat menjadi bagian pergerakan menghapuskan praktik perbudakan.

Fitria Sofyani (FS) :Bagaimana pengalaman perjalanan Anda ke Nepal pada saat Anda berusia 15 tahun  menginspirasi terbentuknya Walk Free Foundation?

Grace Forrest (GF): Saat pertama kali bertemu dengan anak-anak yang berjuang untuk keluar dari eksploitasi, perbudakan dan perdagangan di Nepal, saya juga masih seorang anak-anak. Pengalaman tersebut benar-benar mengubah pandangan saya terhadap dunia dan keberadaan saya di sini. Saya lahir di Australia dan diberikan kesetaraan dengan saudara laki-laki saya. Tetapi hal tersebut berbeda sekali dengan anak perempuan yang ada di Nepal. Mereka memiliki talenta sama dengan saya namun tidak memiliki kesempatan dan berada di lingkungan yang tidak baik. Sejak pengalaman pada perjalanan tersebut, saya menjadi sangat passionate dengan isu menyangkut persoalan yang dihadapi perempuan seusia saya dan kemudian hal tersebut saya bicarakan pada keluarga saya.

Ketika berusia 17 tahun, saya dan keluarga kembali ke Nepal dan mengunjungi penampungan anak-anak tempat saya bekerja dua tahun sebelumnya. Namun anak-anak perempuan tersebut tidak berada di sana lagi dan tak seorangpun mengaku mengenali mereka. Hal itu membuat saya marah karena bagi saya itu tidak masuk akal dan orangtua sayapun akhirnya memahami bahwa apa yang saya pikirkan merupakan sebuah permasalah global yang sangat rumit. Pengalaman tersebutlah yang mengawali terbentuknya Walk Free Foundation.

Grace Forrest bersama aktris Maudy Ayunda yang juga merupakan duta Walk Free Foundation untuk Indonesia

FS: Menurut saya merupakan hal yang luar biasa bahwa pemikiran seorang anak perempuan berusia 15 tahun bisa menginspirasi sebuah gerakan yang begitu kuat berdasarkan pengalaman pribadinya. Bagaimana kepedulian tersebut terbentuk dalam diri Anda?

GF: Pertanyaan ini membuat saya ingat dengan komentar yang sering dilontarkan bahwa saya masih terlalu muda untuk melakukan apa yang saya lakukan saat ini. Saya rasa komentar tersebut sangat tidak adil. Saya rasa sejak saya berusia muda, saya memang sudah peduli dengan isu-isu sosial, terutama mengenai hak-hak anak dan hak edukasi anak. Hal ini juga mungkin tumbuh karena saya mendapatkan kesempatan untuk bepergian bersama orang tua saya saat saya masih kecil dan melihat tempat-tempat indah serta luar biasa di seluruh dunia.

Banyak orang mengatakan apa yang saya lakukan bukanlah hal yang tepat, tetapi saya merasa memiliki tanggung jawab besar atas apa yang terjadi di sekitar saya. Ada perbedaan antara; jika kita tidak mengetahui sesuatu sehingga tidak melakukan apa-apa, dengan jika kita mengetahui sesuatu dan tidak melakukan apapun. Saya tidak akan pernah bisa untuk pura-pura tidak melihat apa yang terjadi pada anak-anak perempuan di Nepal waktu itu. Saya berpikir, jika hal tersebut terjadi pada adik saya, saya tidak akan dapat membiarkannya begitu saja, saya rasa Anda pun begitu. Apalagi saya beruntung memiliki keluarga yang mendukung keinginan saya tersebut dan saya mendapat kesempatan untuk mempelajari mengenai hal tersebut lebih dalam lagi. Menurut saya, seseorang yang memiliki kelebihan untuk dapat menolong orang lain harus melakukan seperti yang saya lakukan.

FS: Seperti apa praktik perbudakan yang terjadi di era millenial ini?

GF: Permasalahan ini memang sangat rumit. Di Indonesia, misalnya terjadi dalam bentuk ketika perempuan dikirimkan ke negara lain untuk bekerja, namun ketika mereka mencapai negara tujuan, mereka diperlakukan dengan semena-mena. Itu adalah sebuah permasalahan besar karena hal tersebut terjadi meskipun mereka berada di bawah naungan pemerintah dan mendapat perlindungan hukum nasional atau internasional. Eksploitasi anak dalam jenis apapun seperti kawin paksa, dijadikan prostitusi adalah bagian dari praktik modern slavery. Lalu ada juga perdagangan anak dan organ-organ tubuh manusia. Namun inti dari modern slavery adalah sebuah penghapusan kebebasan seseorang secara sistematis yang dapat terjadi melalui kekerasan, ancaman dan kejahatan lainnya.

FS: Dari semua bentuk ini, bagian mana yang paling menjadi fokus Anda di Walk Free Foundation?

GF: Ketika membentuk Walk Free Foundation, passion pertama saya adalah melindungi anak-anak dan perempuan karena mereka adalah kelompok yang paling rentan di lingkupnya, hak mereka sudah banyak direnggut. Saya rasa mereka adalah orang yang harus diutamakan keselamatannya dan harus dilindungi. The Freedom Fund berfokus mengurusi hal itu. Tapi untuk Walk Free Foundation saat ini berfokus pada perbudakan.

FS: Bagaimana Walk Free Foundation beroperasi di Indonesia?

GF: Di Indonesia, organisasi kami bekerja melalui The Freedom Network, yang di Indonesia masih sangat baru. Namun yang terpenting adalah Indonesia sangat memahami dan bersedia untuk berdiri bersama dalam mengatasi masalah perbudakan ini. Dan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla juga meyakinkan bahwa kita harus memeranginya bersama-sama. Bulan Oktober mendatang kami akan menghadiri The Bali Process yang juga bertujuan untuk menggabungkan pemerintah dan dunia bisnis agar mereka mengetahui informasi mengenai modern slavery dan tahu bagaimana caranya untuk menjangkau daerah-daerah terpencil di Indonesia. Kami sudah memiliki bukti komitmennya di atas kertas, dan semuanya sudah siap disebarkan. Semua pihak memiliki perannya masing-masing tetapi yang paling penting adalah bagaimana cara mereka berdiri bersama untuk mengatasi masalah ini.

FS: Tentunya Anda juga harus melakukan banyak negosiasi dan lobbying untuk membangun organisasi ini, negosiasi apa yang paling sulit Anda lakukan?

GF: Sebagai sebuah organisasi kami memiliki tim yang sangat luar biasa yang bekerja keras dan tersebar di seluruh dunia. Bagi kami ini bukan sekadar sebuah pekerjaan melainkan sebuah komitmen karena semua orang sangat peduli dengan isu-isu yang kami perjuangkan. Salah satu hal yang sulit saya rasakan adalah bagaimana menyatukan dunia untuk bekerjasama. Seperti yang kami lakukan di Vatikan, untuk menyatukan hubungan terbesar dari seluruh dunia itu sangat luar biasa. Secara teknis kami harus bernegosiasi dengan mereka satu persatu, apakah mereka mau bergabung dengan kami atau tidak. Jadi bisa dikatakan itu adalah negosiasi tersulit yang pernah saya lakukan. Tetapi yang mengejutkan adalah, mengenai pemahaman modern slavery, para pemimpin itu sebenarnya tidak membutuhkan penjelasan yang dalam dan negosiasi sulit. Mereka langsung setuju bahwa tidak ada anak yang boleh dipaksa menikah, tidak ada perempuan yang boleh diperlakukan lebih rendah daripada laki-laki. Tapi bagian tersulitnya adalah memang untuk membuat mereka bersedia bekerjasama lebih lanjut dengan kami.

Selain itu kami harus bernegosiasi dengan pemerintah yang berbeda tentang kenapa mereka harus peduli dengan isu tersebut dan mengapa mereka harus melakukan sesuatu dan menghadapinya. Misalnya, saat ini kami bekerja sama dengan pemerintah Australia untuk menjangkau masyarakat dan menjelaskan mengenai modern slavery. Karena hal itu akan lebih sulit jika kami kerjakan sendiri. Kami beruntung karena bisa melakukan itu di Australia dan kami ingin melakukan hal yang sama di Indonesia.

Salah satu meeting yang menurut saya paling menakutkan adalah saat kami diberikan kesempatan untuk bertemu dengan tim kampanye online Hillary Clinton sebelum masa pemilihan. Kami menjelaskan apa yang sedang kami lakukan dengan The Global Slavery Index, kami ingin ia terlibat. Mereka mengatakan setuju untuk melibatkan kami dalam kampanye online Hillary dan mengatakan kepada saya agar mengirimkan informasi yang diperlukan. Saya tidak menyangka akan hal itu. Setelah itu saya berangkat ke lima negara dalam 10 hari untuk melakukan banyak presentasi seperti ke India dan Dubai ternyata saya melihat Tweet dalam akun Hillary mengenai isu yang kami angkat.

Grace Forrest bersama aktivis muda Malala Yousafzai, yang masing-masing didampingi oleh Ayah mereka.

FS: Dalam peran Anda sebagai Co-Founder Walk Free Foundation, apa tugas utama Anda?

GF: Tugas saya ada di tiga organisasi utama dalam Walk Free Foundation. Yang pertama adalah di online forum menjadi council influences. Kami sedang mengembangkan walkfree.org dan mulai membangun sebuah platform yang dapat diterima, menarik dan penting bagi banyak orang. Kemudian saya bekerja sebagai advokat di The Freedom Fund. Saya juga mengandalkan kemampuan fotografi saya untuk menunjukkan secara langsung foto-foto anak-anak di India yang menjadi korban sehingga mereka dapat lebih peduli dan melakukan sesuatu untuk membantu kami mengatasi hal tersebut dengan berdonasi. Untuk The Global Slavery Index, saya bekerja sebagai communication strategies, membuat sebuah platform akademis dan memastikan pesan kunci dari programnya tersampaikan dengan baik.

FS: Sebagai seorang duta bagi Walk Free Foundation. Siapa yang menjadi target utama Anda?

GF: Yang paling ingin saya ajak bicara adalah agen perubahan. Namun sebenarnya, adalah kita semua. Masyarakat di seluruh dunia adalah target saya karena mereka yang memiliki keputusan dalam kehidupan sehari-hari, produk apa yang mereka kenakan atau mereka konsumsi. Apapun yang kita lakukan berpotensi untuk menghasilkan sesuatu yang positif. Saya rasa membantu masyarakat untuk sadar akan kekuasaan yang mereka miliki sebagai konsumen itu sangat penting. Kami mungkin bukan abolitionist yang pertama, tapi kami bisa menjadi yang terakhir.

FS: Apa projek Anda selanjutnya?

GF: Projek selanjutnya adalah untuk membuat The Slavery Global Index untuk tahun 2018 yang di dalamnya akan terdapat data dari berbagai organisasi internasional mengenai slavery. Projek ini merupakan langkah kritikal untuk membuat orang paham dan mengakhiri perbudakan.

FS: Apa yang ingin Anda katakan kepada perempuan muda yang ingin berkontribusi pada perubahan sosial seperti yang Anda lakukan?

GF: Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah jangan pernah meremehkan suara yang Anda miliki karena itu adalah sebuah kesempatan. Suara Anda tersebut dapat memberikan pengaruh dalam keluarga, sekolah, di kampus, di perusahaan tempat Anda bekerja atau di pemerintahan. Meskipun hanya satu suara, itu dapat menjadi suara yang kuat untuk memerangi modern slavery.

 

 

 

 

 

 

BAGIKAN HALAMAN INI:



Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 - Saksikan eksklusif live streaming Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 yang akan dilangsungkan di Paris pukul 2.30 pm waktu Paris atau Pukul 7.30 pm waktu Jakarta.