Ingin Mendorong Lebih Banyak Anak Perempuan Bercita-cita Jadi Scientist

Memiliki karier sukses dengan segudang prestasi sekaligus menjadi ibu yang baik bukanlah hal yang tidak mungkin. Sastia Prama Putri membuktikan hal itu dengan prestasi yang ia raih sebagai ilmuwan, menjadi dosen, asisten dosen, dan peneliti di dalam dan luar negeri serta menjadi ibu yang sangat diidolakan oleh anak perempuannya.

Berusia 33 tahun, berprofesi sebagai ilmuwan yang telah meraih berbagai penghargaan, dan telah menikah dengan satu orang anak, Sastia Prama Putri memang layak menginspirasi kita semua. Di usianya yang masih awal kepala tiga, Sastia telah meraih gelar doktor dan menelurkan hasil penelitian teruji dalam bidang yang cukup langka.

Padahal pemenang penghargaan L’Oreal Women for Science tahun 2015 ini dulunya sama sekali tidak pernah membayangkan menjadi seorang ilmuwan. “Karena terinspirasi dari karakter pengacara dalam serial TV Ally McBeal saya sempat bercita-cita jadi pengacara atau belajar mengenai hukum dan politik,” ceritanya. Namun ternyata jalan Sastia menjadi ilmuwan memang sudah ditentukan karena ketika memilih jurusan kuliah di ilmu sosial politik, ia ternyata tidak lulus dan malah mendapatkan kursi di pilihan terakhir yaitu Biologi yang dipilihnya untuk menyenangkan hati sang Ayah. “ Saya sempat menjalani kuliah setengah hati di tahun pertama. Namun ketika mulai masuk laboratorium dan melakukan penelitan, saya mulai merasakan passion. Proses perkembangan penelitian yang menghasilkan penemuan baru memberi perasaan yang menyenangkan,” kenang Sastia.

Dalam waktu 3,5 tahun ia berhasil lulus kuliah dengan hasil akhir yang sangat memuaskan. Ia pun mencoba petualangan baru dan meneruskan kuliah S2 di Jepang di mana ia juga bertemu dengan tambatan hatinya, seorang ilmuwan asal Filipina. Dari sana, tidak ada lagi yang bisa menghentikan kiprahnya. Ia langsung mendapat tawaran untuk meraih gelar doktor, yang semakin menambah ketertarikannya terhadap dunia penelitian. “Saya tidak tahu apalagi yang bisa saya lakukan selain ini, this is my world. Pencapaian pentingnya adalah ketika saya lulus S3. Saya bisa jadi peneliti, konsultan, peneliti di industri dan di akademik atau juga jadi dosen; pilihannya banyak. Dulu, pemikiran saya jadi ilmuwan itu membosankan, ternyata menjadi ilmuwan sangat menyenangkan.”

Pembawaan Sastia yang sangat ceria juga membuyarkan pandangan umum tentang ilmuwan yang dianggap membosankan dan serius. “Saya memang agak berbeda dari peneliti kebanyakan. Saya hobi bicara,” ujarnya sembari tertawa. ‘Hobinya’ tersebut sangat terlihat selama perbincangannya dengan Marie Claire.

Marie Claire (MC): Ceritakan tentang penelitian yang sedang Anda kerjakan saat ini.

Sastia Putri (SP): Saat ini saya sedang menjalani dua penelitian, yaitu projek biofuel menggunakan mikroba dan teknologi pangan yang terfokus pada otentikasi dan kualitas makanan. Bersama dengan ITB dan IPB, saya juga sedang mengembangkan metode evaluasi kualitas manggis, tempe, dan jamu tradisional. Penelitian ini juga meliputi pengembangan kopi khas Indonesia. Saya ingin mengembangkan cara bagaimana produk pangan kita bisa bersaing dan punya kualitas internasional, memiliki value dan karakteristik yang lebih,” ungkap Sasti.

MC: Kegiatan selain di laboratorium?

SP: Saya masih mengajar di ITB. Jadi setiap awal semester saya pulang ke Indonesia untuk bertemu mahasiswa saya. Setelah itu perkuliahan kami lakukan melalui online. Selain itu saya juga banyak memberikan seminar-seminar mengenai materi penelitian saya seperti yang saya lakukan baru-baru ini di beberapa kota di Indonesia.

MC: Benarkah dunia penelitian masih identik dengan dunia ‘laki-laki’ ?

SP: Saya rasa tidak. Hanya saja untuk bidang-bidang tertentu seperti teknik, yang saya tekuni, laki-laki masih mendominasi. Jumlah peneliti perempuan di tempat saya kurang dari 5 %. Untuk negara yang semaju Jepang, indeks kesetaraan gender kan masih jauh di bawah Indonesia. Karena itu, saat ini di Jepang pemerintahnya sedang meningkatkan jumlah peneliti perempuan asing untuk internasionalisasi dan mengatasi ketimpangan gender. Mereka membuat lebih banyak posisi untuk para peneliti.

MC: Jepang memiliki kultur male-dominant yang sangat kuat. Adakah tantangan menarik dengan rekan peneliti laki-laki Anda di Jepang?

SP: Pertama kali bergabung dengan program post doctoral di sini, saya harus bekerja dan memimpin doktor-doktor laki-laki. Awalnya saya mengalami kesulitan karena banyak resistensi dari mereka sehingga saya harus menunjukkan sikap yang sangat ‘saklek’. Saya harus membentuk persona yang menunjukkan bahwa saya di sini tidak main-main.

Prinsip saya, meski saya juga seorang ibu, saya tidak mau menunjukkan kesulitan juggling yang saya alami. Segala kesulitan saya di rumah tidak saya tunjukkan di depan rekan kerja karena saya tidak ingin hal tersebut menjadi alasan bagi mereka untuk meragukan kemampuan saya. Komitmen saya untuk selalu mengutamakan profesionalitas tersebut sangat dihargai profesor yang malah mengingatkan agar saya tidak melupakan tugas saya sebagai ibu kepada anak saya. Selain itu, sebagai peneliti perempuan, saya merasa memiliki sesuatu yang peneliti laki-laki tidak bisa lihat. Saya memiliki beberapa sudut pandang yang berbeda, dan memberikan ide baru yang tidak pernah mereka pikirkan. Di situ saya sadar bahwa kehadiran saya bukanlah suatu kekurangan tapi keuntungan besar yang bisa saya jadikan aset.

MC: Pasangan Anda juga seorang ilmuwan dan bekerja di bidang dan departemen yang sama dengan Anda. Apakah hal tersebut memudahkan untuk urusan keluarga atau sebaliknya?

SP: Sebenarnya jadi lebih mudah. Rutinitas sehari-hari selalu kami kerjakan bersama, dari pagi hingga malam. Mulai dari sarapan, mengantar anak ke day-care, bekerja, pulang kerja, ke supermarket, makan malam, semua bisa kami kerjakan bersama.

MC: Lalu bagaimana dengan hubungan kalian secara professional?

SP: Meskipun dalam satu tim dan satu laboratorium yang sama, tugas kami berbeda. Pekerjaan saya lebih banyak bersifat pendelegasian tugas dan memberi instruksi misalnya bagaimana mendesain eksperimen kepada tim riset. Suami saya kemudian yang akan terlibat langsung dengan mereka dan turun tangan langsung untuk mengajarkan mereka. Karena kami sudah satu tim, kami juga sudah tahu ritme masing-masing seperti apa, begitupun dalam urusan keluarga. Meski dalam struktur saya adalah atasan dia, tapi Walter tidak masalah dengan hal tersebut. Dia malah berkata, “Tidak ada bedanya kan? Di rumah kamu kan juga sudah jadi bos saya.”

MC: Sebagai seorang ilmuwan, apa makna dan ukuran kesuksesan bagi Anda ?

SP: Bagi seorang ilmuwan kesuksesan yang paling utama adalah jika temuannya bisa berguna bagi orang banyak. Tetapi kalau untuk indikator kesuksesan yang terukur biasanya dilihat dari publikasi dan paten dari penemuannya.

MC: Prestasi apa yang paling Anda banggakan ?

SP: Ketika saya bisa lulus S3 di Osaka University dan sidangnya sepuluh hari sebelum saya melahirkan. Saya bisa lulus 3.5 tahun dari program lima tahun dan itu merupakan yang pertama di Jepang. Menurut saya, kalau saya bisa melewati itu saya akan bisa melewati apa aja.

MC: Saat ini L’Oreal memiliki program Girls in Science. Secara personal, apa yang telah atau ingin Anda lakukan untuk mendorong lebih banyak remaja perempuan Indonesia bercita-cita menjadi ilmuwan ?

SP: Setelah mendapat penghargaan L’Oreal Women in Science 2015, saya selalu berusaha memberikan sesuatu yang bisa menyemangati para peminat science. Untuk program yang konkrit di Jepang saat ini belum ada, tetapi kami sedang mengembangkan ide saya untuk mengadakan Osaka Metabolomics Student Award. Program ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah peneliti yang mampu menuangkan hasil idenya dalam bentuk tulisan berbahasa Inggris. Program ini juga saya tujukan untuk mahasiswa Indonesia.  Menurut saya, untuk menjadi peneliti yang sukses kuncinya adalah mampu menuangkan ide yang ada di pikiran mereka dengan baik dan dimengerti oleh semua orang.

MC: Berbicara tentang remaja perempuan saat ini, apa yang menjadi perhatian dan kekhawatiran Anda ?

SP: Menurut saya sebagai seorang perempuan kita harus tetap berkembang sebagai diri kita sendiri dan untuk kita sendiri. Jadi sangat sayang kalau ada perempuan yang semata-mata menggantungkan hidupnya pada orang lain tanpa menggunakan dan menghargai kemampuannya sendiri. Kekhawatiran saya adalah apakah konsep itu bisa diresapi oleh remaja perempuan atau mereka malah berpikir sekolah itu hanya formalitas saja dan pada akhirnya prosesnya berhenti sampai disitu dan pada akhirnya akan menikah juga. Saya ingin semua orang terus tergerak untuk belajar.

Sastia Putri bersama anak perempuannya, Aisha.

MC: Bagaimana pendidikan yang Anda terapkan pada anak perempuan Anda ?

SP: Saya agak mengikuti sistem di Jepang karena Aisha lahir dan tumbuh besar di sana. Menurut saya, pendidikan dasar itu bukan baca tulis atau hitung-hitungan, tetapi moral dan manner. Saya akan utamakan itu sampai Aisha kelas 3 SD. Saya mau Aisha tahu bagaimana harus bersikap dan tahu konsekuensi perbuatannya. Saya ingin ia bisa menjalankan hidupnya dengan orang yang memiliki martabat. Setelah itu yang lain lebih mudah untuk diajarkan. Saya tidak pernah memaksakan Aisha ingin menjadi apa. Kami hanya memberi fasilitas dan pengertian setelah itu ia bebas untuk memilih.

MC: Lalu bagaimana Anda ingin menginspirasi perempuan lain ?

SP: Lead by example. Jika saya bisa menunjukkan bahwa saya bisa berprestasi dengan martabat dan tetap rendah hati, tidak lupa dengan asal muasalnya, mudah-mudahan orang lain bisa terinspirasi. I will just do my best, and I hope my best is good enough for other people.  Intinya saya ingin punya pekerjaan yang bermanfaat untuk banyak orang, itu alasan kenapa saya mau jadi peneliti.

 

Stylist: Bio In God Bless

Fotografi: Turida Wijaya

BAGIKAN HALAMAN INI:



Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 - Saksikan eksklusif live streaming Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 yang akan dilangsungkan di Paris pukul 2.30 pm waktu Paris atau Pukul 7.30 pm waktu Jakarta.