Karen Lim: Wajah Baru BMW

karen lim BMW Indonesia

karen lim BMW Indonesia

Figur perempuan mulai memegang posisi penting di industri otomotif global, bidang yang lumrah didominasi laki-laki. Di Indonesia, Karen Lim adalah salah satu pionir dengan posisi barunya sebagai pimpinan tertinggi BMW Group.

Di Amerika, Mary Barra mencetak sejarah saat ia resmi menjadi CEO dari General Motors (GM) pada 2013. Ia adalah perempuan pertama yang menjadi pimpinan perusahaan otomotif internasional. Di Indonesia, Karen Lim menjadi pionir dengan menjadi Presiden Direktur BMW Group Indonesia.

Karier perempuan asal Singapura di perusahaan otomotif asal Jerman tersebut dimulai 17 tahun lalu. Selama hampir dua dekade, ia memegang berbagai posisi di departemen Keuangan, Akuntansi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia milik BMW Group Asia.

Untuk lebih mengenal tim barunya di Indonesia, Karen memilih pendekatan personal. Setiap Jumat pagi, ia mengadakan klub kopi mingguan. Staf dari departemen berbeda hadir tiap minggunya.

Marie Claire (MC): Anda bisa dibilang baru di Jakarta. Apa yang dirasa beda dari budaya kerja di BMW Group Indonesia dengan BMW Group Asia?
Karen Lim (KL): “Kebanyakan orang di Indonesia sangat menjaga keharmonisan hubungan di tempat kerja, berbeda dengan tipe orang Singapura yang cenderung lebih lugas”.

MC: Bicara tentang perbedaan, apakah sebagai perempuan eksekutif di dunia otomotif Anda pernah merasakan diskriminasi?

KL: “Untungnya tidak. Salah satu nilai utama BMW Group adalah menghargai perbedaan. Di tim saya sekarang, saya bekerja bersama orang dari Eropa dan berbagai negara di Asia. Sikap menghargai perbedaan ini juga diwujudkan dengan memberikan kesempatan yang sama untuk staf, terlepas dari gendernya”.

MC: Apa pendapat Anda tentang eksekutif perempuan di industri yang didominasi laki-laki, termasuk otomotif dan teknologi?
KL: “Saya merasa terpacu melihat pemimpin perempuan di berbagai industri yang mengekspresikan diri mereka dengan bebas, tidak terkungkung stereotipe gender”.

MC: Tipe pimpinan seperti apakah Anda?
KL: “Saya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Saya berusaha memberi ruang untuk anggota tim saya agar dapat bebas berbicara pada saya. Dari situ, saya bisa berdiskusi dan menilai kualitas mereka sebagai pekerja profesional”.

MC: Bagaimana proses Anda membangun gaya kepemimpinan yang seperti sekarang?
KL: “Tentunya dari pengalaman. Selain itu, ada dua tokoh panutan saya dalam bekerja. Yang pertama dr. Helmut Panke, yang adalah mantan Chairman BMW AG. Ia banyak mendengar dan berdiskusi dengan staf dari berbagai tingkatan dan departemen. Selain itu, sosok Lee Kuan Yew. Ia berhasil membangun Singapura, yang sejatinya cuma sebuah titik merah kecil di peta, menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang diperhitungkan secara global”.

MC: Selain berperan sebagai eksekutif, Anda juga seorang istri dan ibu. Apa ada tekanan dalam menyeimbangkan keduanya?
KL: “Sebagai perempuan bekerja, dukungan keluarga adalah yang membuat saya percaya bahwa karier dan keluarga bisa berjalan berdampingan. Suami saya adalah suporter terbesar saya. Ia secara rutin bolak-balik Singapura-Jakarta untuk menghabiskan waktu dengan saya dan anak-anak. Dalam hal ini, dia yang lebih banyak berkorban demi karier saya”.

MC: Sebagai pemimpin perempuan, apa yang ingin Anda sampaikan pada perempuan bekerja lainnya?
KL: “Jangan takut untuk menunjukkan dirimu yang sebenarnya. Seorang eksekutif perempuan bisa tegas dan task-oriented, tapi dia juga bisa mengayomi waktu diperlukan. Jangan pernah malu dengan sifat keibuan yang secara natural ada dalam diri perempuan, karena kualitas itulah yang dapat membuatmu jadi pemimpin yang sukses. Setiap pemimpin perempuan mengemban tugas mulia: mengayomi calon-calon pemimpin masa depan”.

(Teks: Nina Hidayat/Styling: Edwin Habibun/Fotografi: Wahyudi Tan)

BAGIKAN HALAMAN INI: