Kebijakan Presiden Amerika Tuai Kesedihan Malala

Langkah awal Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat banyak menuai kecaman dan keprihatinan banyak pihak. Salah satu kebijakan yang baru ia tandatangani untuk larangan bagi pengungsi dari negara-negara muslim untuk memasuki Amerika telah memicu reaksi kesedihan dari Malala Yousafzai, aktivitis perempuan sekaligus penerima nobel perdamaian tahun 2014.

Malala mengungkapkan kesedihannya melalui akun Facebook, Malala Fund. Malala menuliskan bahwa betapa sedihnya pada pengungsi dari negara-negara Islam yang melihat Amerika sebagai negeri harapan. Ketika negaranya tengah dilanda konflik, Malala teringat akan kisah temannya, Zaynab yang melarikan diri dari tiga negara selama masa perang. Zaynab kemudian datang ke Amerika dua tahun yang lalu untuk memulai kehidupan yang baru. Zaynab kemudian bisa bersekolah dan bahkan mengenyam pendidikan di perguruan tinggi untuk menjadi seorang pengacara yang membela hak asasi manusia.

Malala menyangsikan keputusan Trump yang telah menghilangkan harapan bagi para pengungsi dari negara Islam yang Trump sebut sebagai kebijakan untuk menjaga teroris islam radikal dari Amerika. “Saya membangun langkah-langkah pemeriksaan baru untuk menjaga teroris Islam radikal keluar dari Amerika Serikat. Kami tidak ingin mereka di sini,” ucap Trump. “Kami hanya ingin memasukkan orang-orang ke dalam negeri yang akan mendukung negara dan memiliki rasa cinta yang mendalam terhadap orang-orang kami.”

Berikut secara lengkap kesedihan Malala yang dituliskan dalam akun Facebooknya.

“Hati saya hancur bahwa hari ini Presiden Trump menutup pintu bagi anak-anak, ibu dan bapak yang melarikan diri dari kekerasan dan perang.

Saya patah hati bahwa Amerika sudah berubah kembali pada sejarah yang dulu dengan bangga menyambut para pengungsi dan imigran–orang-orang yang membantu membangun negara Anda, siap untuk bekerja keras dalam pertukaran untuk kesempatan yang adil di kehidupan baru.

Hati saya hancur bahwa anak-anak pengungsi Suriah, yang telah menderita melalui enam tahun perang yang bukan kesalahan mereka sendiri, yang dikhususkan untuk dikeluarkan dan didiskriminasi.

Saya patah hati untuk gadis-gadis seperti teman saya Zainab, yang melarikan diri perang di tiga negara – Somalia, Yaman dan Mesir – bahkan sebelum ia berusia 17 tahun. Dua tahun lalu dia menerima visa untuk datang ke Amerika Serikat. Dia belajar bahasa Inggris, lulus SMA dan sekarang di perguruan tinggi belajar untuk menjadi seorang pengacara bagi hak asasi manusia. Zainab dipisahkan dari adiknya saat ia melarikan diri kerusuhan di Mesir. Hari ini harapannya yang berharga untuk bersatu kembali dengan saudara yang sama meredup.

Dalam masa ketidakpastian dan kerusuhan di seluruh dunia, saya meminta agar Presiden Trump tidak berpaling pada anak-anak yang paling tidak berdaya di dunia dan keluarga (mereka)”.

BAGIKAN HALAMAN INI:



Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 - Saksikan eksklusif live streaming Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 yang akan dilangsungkan di Paris pukul 2.30 pm waktu Paris atau Pukul 7.30 pm waktu Jakarta.