L’Oreal Indonesia Berdayakan Perempuan Mataram Melalui Pelatihan Kecantikan

Melalui program Beauty For Better Life, L’Oreal menunjukkan bagaimana bisnis kecantikan tidak hanya tentang menjual kosmetik pada perempuan namun juga memberi kesempatan besar untuk mereka lebih berdaya.

Suasana training di pusat pelatihan Beauty for Better Life di Mataram

L’Oreal sebagai salah satu perusahaan kecantikan terbesar di dunia telah selalu menunjukkan komitmen mereka untuk memberdayakan perempuan melalui hal yang paling mereka sukai, yaitu kecantikan. Tidak hanya melalui salah satu slogan komersial mereka, “Karena Anda Begitu Berharga” yang memberikan peneguhan kepercayaan diri kepada perempuan, atau melalui ribuan jenis produk kecantikan yang telah menemani perempuan dalam setiap periode hidup mereka, namun juga melalui berbagai program yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada perempuan untuk pengembangan diri. Mulai dari program science yang ditujukan bagi ilmuwan perempuan hingga program pelatihan untuk membantu perempuan yang kurang beruntung dalam meningkatkan taraf hidup mereka.

Karena itu, ketika saya diundang oleh L’Oreal Indonesia untuk melihat langsung bagaimana salah satu program terbaru mereka untuk pemberdayaan perempuan, Beauty For Better Life (BFBL), Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) saya tidak ragu untuk segera bergabung dalam perjalanan tersebut.

Setelah melalui perjalanan pesawat 2 jam penuh turbulens, dan diteruskan perjalanan darat sekitar 30 menit, kami disambut sekelompok perempuan muda yang mengenakan pakaian adat NTB dan tata rias rambut dan makeup yang menawan. Saya pikir kami disambut secara khusus apalagi kami juga datang bersama Umesh Phadke, President Director L’Oreal Indonesia dan Melanie Masriel, Communication Director L’Oreal Indonesia. Ternyata para perempuan muda yang menyambut kami di training center Beauty For Better Life, baru saja mengikuti acara pernikahan, di mana sebagian dari mereka juga bekerja sebagai perias. Para perempuan muda yang berdandan lengkap ini merupakan lulusan batch pertama BFBL di Mataram.

Diluncurkan pertama kali pada tahun 2014 di Indonesia, BFBL  adalah sebuah program pendidikan yang diadaptasi dari inisiatif global L’Oreal Fondation. Program yang memberikan pelatihan kecakapan menata rambut ini diperuntukkan bagi perempuan yang pernah mengalami masa sulit dalam hidupnya, telah menjadi korban kekerasan, remaja yang telah meninggalkan pendidikan ataupun individu yang tergolong miskin. Meski awalnya ditujukan untuk perempuan, BFBL di Indonesia sekarang juga telah dibuka untuk laki-laki melalui kerjasama dengan SMK.

Suasana training di pusat pelatihan Beauty for Better Life di Mataram.

Selain di Mataram, BFBL juga membuka program di Karawang, Cianjur, Sukabumi, Pontianak, dan Jababeka. Menurut Melanie Masriel, Communications, Public Affairs & Sustainability Director PT L’Oreal Indonesia, di Mataram, BFBL bekerjasama dengan organisasi PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) yang membantu mereka memetakan lokasi yang tepat untuk program BFBL.

Mataram memiliki berbagai alasan yang membuat program BFBL tepat sekali ditujukan untuk perempuan-perempuan di NTB. Mataram merupakan kantong besar pengiriman buruh migran dengan peringkat ke-4 di Indonesia. Tingkat kekerasan terhadap perempuan juga cukup tinggi di NTB yang dipengaruhi berbagai faktor. Banyak perempuan ditinggalkan oleh suaminya untuk bekerja di luar negeri dan menimbulkan berbagai masalah. Salah satu masalah terbesar di NTB juga adalah tingginya angka pernikahan dini. Budaya serta tradisi merarik (kawin lari) menjadi salah satu faktor tingginya tingkat pernikahan dini tersebut.

Seorang mantan buruh migran di Arab Saudi, Halimah, atau dipanggil oleh masyarakat sekitar dengan Hajjah Halimah adalah salah satu pionir dan bisa dikatakan sebagai ‘duta’ program BFBL di Mataram. Kami berkunjung ke salon Halimah yang ia dirikan di teras rumahnya sendiri. Terletak di tengah sawah, rumah Halimah berdiri megah hasil dari pekerjaannya di Arab Saudi.

Ketika L’Oreal membuka program BFBL di desanya, Halimah merupakan orang pertama yang mendaftar. Sebelum ikut program BFBL Halimah mengaku sudah tertarik dengan tata rias, dan sudah menjalani sebagai tata rias keliling dengan upah Rp. 25.000 sekali merias. Ini ia lakukan untuk sebagai salah satu sumber pendapatan setelah ia pulang dari Arab Saudi. Ia juga sempat menganggur selama 7 tahun, dan mencoba bisnis kecil-kecilan dengan membuat makanan.

Di salonnya yang bersih dan sederhana, pada hari-hari yang ramai, Halimah bisa menerima pelanggan hingga 10-15 orang. Ia dibantu oleh 2 orang staf tetap dan pekerja magang dari BFBL. Untuk potong rambut, Halimah mematok harga Rp 15-20 ribu, dan creambath Rp 40 ribu, sementara untuk pewarnaan Rp 80 ribu dan untuk smoothing sekitar Rp 200 ribu.

Uang hasil usahanya disimpan dan diinvestasikan oleh Halimah untuk membeli perlengkapan salonnya. Dengan bangga ia memperlihatkan pada kami sebuah kursi salon untuk pencuci rambut yang baru saja ia beli. Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, Halimah mengandalkan kiriman uang dari suaminya yang masih bekerja sebagai buruh migran di Riyadh.

Halimah di teras rumahnya yang juga berfungsi sebagai salon.

“Saya ingin anak saya memiliki kehidupan yang lebih baik dari saya. Dan saya berharap ia suatu hari nanti bisa jadi dokter, jadi ia bisa membantu orang-orang yang tidak mampu agar tidak perlu membayar saat berobat,” ujarnya

Seperti Halimah, banyak perempuan muda di Lombok melihat peluang bekerja sebagai buruh di luar negeri menjadi satu-satunya jalan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Marni, seorang ibu muda dengan seorang anak balita, hampir saja berangkat kerja ke Taiwan dan meninggalkan anaknya yang masih bayi. Namun selagi ia mengurus surat-surat keberangkatannya, ia dapat informasi mengenai BFBL dan diajak oleh Halimah untuk mengikuti training BFBL. Sekarang bersama dengan sepupunya Semi, mereka membuka salon di ruang depan rumah petak Marni yang berjalan baik. Mereka juga mengembangkan usaha mereka melalui penyewaan pakaian adat.

Begitupun dengan Mutia, yang sempat bekerja beberapa tahun di Malaysia dan kembali ke Mataram setelah suaminya tertangkap karena mengedarkan narkoba di Batam. Setelah lulus program BFBL, sekarang Mutia bekerja di sebuah salon di kota Lombok dan mencoba menabung uang gajinya di salon untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Ada benang merah menarik yang menghubungkan para perempuan peserta BFBL ini, yaitu hampir sebagian besar mereka menjadi bagian dari tradisi Merarik, yaitu tradisi laki-laki yang menculik perempuan karena ingin menikah. Mereka menikah di usia belasan tahun, seperti Marni yang menikah saat ia masih duduk di bangku SMA.

Pada perjalanan yang hanya berlangsung sehari tersebut, saya merasa bahagia sekali melihat bagaimana sebuah program yang sederhana bisa memberikan dampak yang sangat besar bagi kehidupan perempuan. Saya berharap putri dari Halimah bisa tumbuh menjadi dokter yang memiliki empati tinggi. Saya optimis bahwa Marni akan mengingatkan perempuan remaja agar jangan terjebak oleh tradisi Merarik sehingga mereka bisa menikmati masa sekolah dan membangun mimpi, dan saya juga berharap, para perempuan tersebut juga dapat membangun kesempatan untuk diri mereka sendiri dan orang lain di negeri sendiri tanpa terekspos oleh kemungkinan menjadi korban eksploitasi sebagai buruh migran.

President Director L’Oreal Indonesia, Umesh Phadke (tengah) bersama peserta pelatihan BFBL Mataram.

BAGIKAN HALAMAN INI: