Mencari Rasa Aman Di Dunia

Masyarakat dunia kini tengah dilanda kecemasan dan kekhawatiran. Sejumlah konflik antar Negara, peperangan, ancaman terorisme serta tindakan brutal sekelompok orang tak bertanggungjawab menghiasi wajah media setiap hari. Ketakutan dan kecemasan pun menjadi makanan sehari-hari. Akankah hari ini akan aman? Akankah hari ini akan damai?

Mungkin Anda masih mengingat peristiwa penembakan brutal yang dilakukan oleh seorang laki-laki pada malam pergantian tahun di sebuah club malam di Istanbul, Turki. Ketika masyakarat tengah menantikan detik-detik pergantian tahun dengan berkumpul, mengadakan pesta, mengangkat gelas untuk bersulang, menetapkan sejumlah resolusi dan memandang indahnya kembang api yang saling bersautan, sesosok laki-laki tak dikenal masuk ke dalam keramaian dan menembak secara brutal. Luapan kegembiraan dalam sekejap mata berubah menjadi jeritan histeris penuh kepanikan. Seorang laki-laki yang diduga mengenakan kostum santa klaus menodongkan senjata kepada setiap orang secara acak.

Penembakan tersebut terjadi di Club Reina yang merupakan salah satu club teramai dan terpopuler di Istanbul, Turki pada 1 Januari lalu. Setelah melakukan penembakan secara brutal yang menewaskan 39 orang dan hampir 70 orang dirawat di rumah sakit, pelaku melarikan diri dengan menceburkan diri ke dalam Sungai Bosphorus. Sementara itu, ISIS menyebutkan bahwa serangan yang dilakukan di Club Reina tersebut merupakan serangan balas dendam atas keterlibatan Turki dalam perang sipil di Suriah.

Beberapa hari setelah itu, masyarakat dunia semakin dilanda kengerian. Bagaimana tidak? Kejadian tersebut seolah memberikan tanda bahwa penembakan, pengeboman dan konflik bisa terjadi kapan saja. Tidak perduli tempat dan waktu. Masyarakat semakin dicekam ketakutan, seolah tidak ada waktu yang terlewat tanpa diliputi rasa khawatir. Institute for Economics and Peace melaporkan dalam laporan tahunan 2016 bahwa dunia mengalami kemunduran dalam hal perdamaian dengan rata-rata nilai buruk di kisaran 0.53 per sen. Selama setahun terakhir, sebanyak 79 negara mengalami penurunan rasa damai yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan kejahatan meningkat di 13 negara dan memburuk di lima Negara dengan terbesar terjadi di Libya. Keadaan terburuk terjadi diakibatkan oleh dampak teroris dan ketidakstabilan kondisi politik.

Dalam data tersebut juga dijelaskan bahwa sebanyak 77 negara memburuk akibat terorisme dan hanya 37 negara dari 163 negara yang diukur tidak terkena dampak terorisme. Indikator terbesar berada di Timur Tengah dan Afrika Utara. Kita juga masih bisa melihat dan merasakan pertempuran yang makin memanas di Suriah hingga hari ini. Keterlibatan Turki, Rusia dan Amerika pun tidak lantas membuat konflik segera mereda. Dalam tujuannya untuk melindungi Negara, jutaan rakyat yang tak berdosa pun menjadi korban.

Dari Teroris Hingga Penculikan Anak

Berbicara tentang teroris tidak bisa dilepaskan dari ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang mulai menabarkan ancaman terornya melalui penguasaan Irak dan Suriah pada Maret 2015. Sejak kemunculannya, ISIS langsung menarik perhatian masyarakat dunia dengan beragam aksi keji yang di luar akal pikir manusia. Mereka mulai menculik orang-orang yang dinilai bersebrangan paham, memerkosa para perempuan di sejumlah Negara konflik dan mendokumentasikan dengan penuh percaya diri adegan pemenggalan kepala orang-orang yang mereka anggap berdosa. ISIS menjadi kekuatan baru yang mencekam dunia dengan penuh kekhawatiran.

Pergerakan ISIS mulai tersebar di seluruh dunia melalui beberapa perwakilannya termasuk di Indonesia. Menurut data kepolisian, terdapat peningkatan yang sangat signifikan dari kasus terorisme yang terjadi di Indonesia. Di tahun 2015, kepolisian mencatat terdapat 82 kasus yang kemudian melonjak naik menjadi 170 kasus pada tahun 2016. “Peningkatan ini disebabkan oleh dinamika politik Suriah dan Irak yang tidak stabil akibat serangan ISIS, sehingga memengaruhi peningkatan kasus terorisme di Indonesia,” ucap Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian seperti dikutip dalam sebuah pernyataan.

Kasus-kasus terorisme di Indonesia memuncak ketika terjadinya pengeboman di daerah Thamrin, Jakarta pada awal Januari 2016 yang menewaskan 8 orang termasuk diantaranya 4 orang pelaku. Pergerakan yang menyatakan dirinya merupakan sekelompok jihadis secara perlahan menyebar di saentero nusantara. Percikan-percikan kebencian antar umat beragama pun semakin menajam. Masyarakat seolah kehilangan pegangan pada akar budaya yang sejatinya mencintai keberagaman.

Kita juga masih bisa mengingat ketika ISIS melakukan penyerangan di enam tempat di Paris pada November 2015. Kejadian tersebut bermula dari penembakan brutal yang dilakukan oleh sesosok pria tak dikenal di sebuah restoran Place de la Republique dan menwaskan 11 orang dan melukai setidakya tujuh orang. Kemudian, serangan berlanjut dengan penembakan brutal kedua yang terjadi di dekat teater di Boulevard Voltaire, Paris dalam sebuah konser acara musik. Dalam insiden tersebut sebanyak 15 orang tewas dan puluhan orang dilaporkan disandera di ruang konser bersama dengan beberapa laji-laki bersenjata.

Penyerangan yang terjadi pada malam hari tersebut masih berlanjut dengan peledakan bom di dekat stadion Stade de France di St. Denis saat pertandingan persahabatan antara Perancis dan Jerman berlangsung. Insiden tersebut menewaskan tiga orang. Malam itu, Paris berdarah oleh serangkaian serangan teroris terencana yang telah diakui dilakukan oleh ISIS atas upayanya untuk balas dendam akibat keterlibatan Perancis pada konflik di Suriah dan Irak. Insiden malam itu adalah terparah yang terjadi di Paris sejak perang dunia ke II. Ketiga insiden itu telah menwaskan sedikitnya 130 orang dan 352 orang lainnya terluka.

Berbagai kejahatan lain terus terjadi di berbagai belahan dunia. Salah satu insiden yang paling menarik perhatian dunia adalah kasus penculikan anak yang dilakukan oleh Boko Haram pada 2014. Penculikan terjadi tidak hanya ditujukan kepada anak-anak perempuan, tetapi juga anak laki-laki yang dipersiapkan untuk menjadi serdadu perang. Wall Street Journal menyebutkan bahwa dalam tiga tahun Boko haram telah menculik lebih dari 10.000 anak laki-laki. Kemudian, pada April 2014 kembali terjadi penculikan terhadap 276 anak sekolah di Kota Chibok, Nigeria. Ketika anak laki-laki diberikan pelatihan untuk menjadi serdadu perang, anak-anak perempuan banyak yang diperkosa dan bahkan hamil di usia yang sangat muda.

Perempuan dan Kejahatan

Dalam kondisi politik yang semakin semrawut ini, perempuan ternyata tidak tinggal diam. Bagaimanapun, perempuan ternyata memiliki andil yang cukup besar dalam beberapa insiden kekerasan terhadap kemanusiaan yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan. Di dalam tubuh ISIS misalnya, banyak perempuan merasa terpanggil untuk ikut bersama melakukan aktivitas jihadis. Sidney Jones, Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) mengungkapkan dalam sebuah pernyataan bahwa pada tahun 2015 terdapat sekitar 200 orang Indonesia yang sudah bergabung dengan ISIS di Suriah yang kemudian 100nya dipulangkan dari perbatasan Turki dan setengah dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.

Dalam sebuah serangan yang terjadi di Paris pada September 2016 lal pun pihak keamanan setempat mencurigai dua perempuan, Ines Madani (19) dan Ornella Gilligmann (29) yang menempatkan gas canister di dalam mobil dan mencoba untuk meledakannya untuk kemudian mereka tinggalkan di tengah malam di sebuah tempat dekat dengan Notre Dame. Dalam pengakuannya terhadap polisi, Ornella mengaku membawa gas sedangkan Ines menyiapkan mobilnya. Bahkan, Ornella mengakui ketertarikannya untuk pergi ke Suriah. Polisi lantas mengecek saluran data telepon Ines dan menemukan bahwa terdapat dua perempuan lainnya yang telah merencanakan untuk melakukan serangan di sebuah stasiun di Boussy Saint Antoine, 20 mil di selatan Paris.

Francois Molin, seorang Jaksa Paris yang menangani bidang Investigasi Teroris untuk seluruh negara mengungkapkan bahwa perempuan kini merupakan bagian dari ISIS untuk Perancis. “Organisasi teroris tidak hanya menggunakan laki-laki tetapi juga perempuan. Perempuan muda bertemu dan kemudian mengembangkan proyek mereka secara virtual,” ucap Francois. Kemudian, perempuan juga berpartisipasi dalam pelatihan teroris, terutama yang berasal dari kelompok kerjasama dengan ISIS yang mengizinkan perempuan untuk ikut bertempur. Al Khansaa menjadi salah satu brigade perempuan terbesar yang dimiliki oleh ISIS. Sejak dibentuk pada awal tahun 2014, brigade Al Khansaa memiliki tugas khusus sebagai polisi moral di wilayah Raqqa dan Mosul dan menerapkan dengan ketat aturan-aturan yang diberlakukan oleh ISIS. Jika ada perempuan yang gagal melakukan peraturannnya, maka akan dikenakan sanksi.

Selain itu, juga terdapat pembagian tugas untuk perempuan, yakni bertugas menyiapkan dukungan dalam bentuk kapasita slogistik dan sebagian lainnya bekerja untuk menyediakan dana jika suami mereka tertangkap. Peneliti George Washington University’s Center for Cyber and Homeland Security melihat bahwa adanya peningkatan dalam keterlibatan perempuan di kelompok teroris. Dalam data mereka tercatat sebanyak 13% perempuan Amerika didakwa atas kejahatan yang berkaitan dengan ISIS.

Perempuan dan Perdamaian

Dalam konteks kejahatan terhadap manusia yang banyak terjadi beberapa tahun belakangan, perempuan memiliki peranan yang sangat penting. Meskipun beberapa diantaranya ikut andil dalam gerakan penghancuran kedamaian melalui sejumlah aksis teror maupun tindak kejahatan lainnya, perempuan juga banyak menjadi korban. Di bidang kekerasan seksual misalnya, perempuan menjadi korban terbanyak yang dilaporkan mengalami kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, banyak hak-hak perempuan yang dilanggar oleh sejumlah pihak.

Salah satu bentuk protes yang diajukan oleh perempuan di seluruh dunia yang belum lama ini berlangsung melalui long march menyuarakan mengenai persamaan rasial dan gender, perawatan kesehatan yang murah dan hak aborsi yang dicabut oleh Trump. Di bawah kepemimpinan presiden yang baru, perempuan Amerika banyak merasakan kekhawatiran atas pencabutan hak-hak mereka. Melihat fenomena itu, sebenarnya tidak hanya perempuan, anak-anak pun tidak luput menjadi korban kejahatan. Melihat peningkatan akan kejahatan yang terus-menerus terjadi menimbulkan rasa kekhawatiran, cemas dan ketakutan semakin menjadi. Kini, masyarakat terus dituntut untuk selalu waspada dan berharap dalam hati bahwa suatu hari dunia menjadi tempat yang lebih aman dan damai.

BAGIKAN HALAMAN INI:



Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 - Saksikan eksklusif live streaming Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 yang akan dilangsungkan di Paris pukul 2.30 pm waktu Paris atau Pukul 7.30 pm waktu Jakarta.