Mencari Setitik Harapan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak pernah terlintas sekalipun di benak saya untuk meninggalkan kota kelahiran dan negara saya secepat itu dan dengan cara yang demikian buruk. Saya tidak bisa lupa, hari ketika kota kami diserang, Quetta, oleh pasukan Taliban yang sebelumnya telah lebih dulu menyerang Afghanistan. Saya kehilangan kedua kakak saya, rumah saya hancur bersama puluhan rumah lain yang berada di kawasan distrik barat daya Pakistan tersebut. Dari data yang saya lihat dalam berita, pemboman yang terjadi sebanyak tiga kali di awal Januari tersebut telah menewaskan sebanyak 130 penduduk dan 270 lebih lainnya terluka.

Serangan ini mungkin bukan yang pertama di negara kami, Pakistan. Tetapi lambat laun serangan tersebut menjadi semakin gencar bahkan gerakan separatisme yang semakin berkembang di kota kami menargetkan para perempuan pekerja yang dinilai telah menyimpang dari ajaran agama, termasuk perempuan yang bekerja di organisasi non pemerintah maupun perempuan pekerja biasa untuk dibunuh. Kami, para perempuan yang bekerja berada dalam posisi yang tidak aman. Saya yang saat itu bekerja di organisasi PBB untuk pengungsi, UNHCR menjadi salah satu sasaran pembunuhan yang dilakukan oleh para teroris. Saat itu saya berpikir bahwa tidak ada lagi yang dapat kami lakukan di sana. Kami harus segera meninggalkan tempat ini. Kemudian, saya dan kakak laki-laki saya mendatangi agen perjalanan untuk pergi mencari perlindungan ke negara yang lebih aman.

Meninggalkan Pakistan

Saya mengeluarkan biaya sebesar USD 7000 (dengan nilai tukar Rp10.900 di tahun 2013) untuk dapat keluar dari Pakistan. Saya dan kakak saya bersama dengan 13 penumpang lainnya ditempatkan dalam sebuah boat dengan tujuan utama Australia. Pada awalnya saya pikir, perjalanan ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan keselamatan kami di Quetta. Tetapi, ternyata saya salah. Saya mengalami perjalanan yang begitu buruk hingga saya tidak sadarkan diri.

Boat berisi 15 penumpang yang kami tumpangi terombang-ambing di tengah laut Arab yang membawa kami ke persinggahan pertama di Srilanka. Kami singgah sebentar untuk berganti kapal kemudian melanjutkan kembali ke Malaysia. Di sana, kami harus menunggu boat berikutnya yang akan membawa ke Indonesia untuk selanjutnya ke Australia. Saya menunggu sekitar 10 sampai 15 hari di Malaysia. Mereka memberikan kami makanan seadanya. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Indonesia dan ini adalah bagian tersulit dari perjalanan.

Saya masih dapat mengingat dengan jelas bagiamana usaha keras yang harus kami lakukan untuk dapat naik ke atas boat. Saya harus melawati hutan dan menunggu boat di antara pepohonan hutan yang cukup lebat. Hal itu benar-benar menjadi pengalaman yang tak akan terlupa seumur hidup saya, bagaimana emosi dan tenaga kami terkuras dalam perjalanan yang terasa tak ada habisnya itu. Saat itu, hujan lebat tengah mengguyur wilayah hutan dan perairan laut. Baju saya basah kuyup dan terombang-ambing di lautan yang begitu luas. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi saya, kakak saya dan 13 penumpang lainnya saat itu mengarungi lautan sambil berdesakan. Guncangan boat serta guyuran hujan lebat membuat tubuh saya lemas, kedinginan dan seperti mati rasa. Saya muntah berkali-kali, bibir saya gemeletuk dan seluruh tubuh saya basah.

Perjalanan panjang itu akhirnya mnegantarkan kami ke Medan pada pukul 5 sore. Tetapi, saya tahu bahwa perjalanan kami masih panjang. Terapung di laut dengan tubuh basah dan kedinginan benar-benar membuat saya lemah hingga tak sadarkan diri. Beruntung saya pergi bersama kakak saya dan dia lah yang kemudian merangkul saya untuk teru berjalan ke pemberhentian berikutnya. Kami tidak bisa berlama-lama di Medan, mengingat jumlah kami yang cukup banyak dapat menarik perhatian masyarakat sekitar. Saya berjalan sambil dirangkul oleh kakak saya dan kenalan kami selama di boat. Kami lantas disuruh masuk ke dalam mobil dan berdesakan di dalamnya dengan baju basah dan AC mobil yang menyala. Saya berulang kali meminta kepada supir agar AC-nya dimatikan, tetapi ia menolak. Kami terus melakukan perjalanan sampai pukul 5 pagi. Kami tidak berhenti sekalipun, bahkan untuk makan.

Di tengah emosi dan tenaga yang telah terkuras habis, saya masih menaruh harapan dan keyakinan bahwa kami bisa mendapatkan tempat tinggal yang aman. Saya berkali-kali menguatkan diri saya sendiri untuk tetap bertahan dan terus melanjutkan perjalanan. Saya tahu bahwa mungkin ini adalah satu-satunya kesempatan yang kami punya untuk tetap hidup dan mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik. Setelah menempuh perjalanan mobil seharian penuh kami kemudian diberikan waktu untuk istirahat dan pergi ke bandara untuk selanjutnya terbang ke Jakarta.

Perjalanan masih terus berlanjut. Setibanya kami di bandara Soekarno-Hatta, semua terasa lebih menakutkan dan membingungkan. Jika sebelumnya masih ada satu orang yang membimbing jalan kami, di bandara sama sekali tidak ada. Kami terasing di tempat yang begitu ramai. Kami tidak memiliki siapapun. Di sanalah kami harus memutuskan kemana kami akan melanjutkan hidup. Saya kemudian naik taksi untuk kemudian menginap di hotel selama dua hari dan selanjutnya menghadap ke UNHCR untuk mendapatkan asylum card dan melapor ke bagian imigrasi.

Ini adalah pengalaman yang mengenaskan. Bisakah Anda bayangkan ketika beberapa hari sebelumnya saya yang mengurus pengungsi, menempatkan mereka di camp penampungan dan melakukan segala sesuatunya untuk mereka. Kini, sayalah yang menjadi pengungsi, seorang pengungsi yang berada di negara kepulauan yang begitu luas. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala saya saat itu, kemana saya harus melangkah, apa yang harus saya lakukan, berapa lama saya harus berada di sini untuk kemudian ke Australia, bagaimana hidup kami selanjutnya, dan semua pertanyaan semakin memperlambat langkah saya.

Kami kemudian bertemu dengan sesama pengungsi yang terlebih dulu sampai di sini. Kami banyak berbincang dan akhirnya mendapatkan informasi untuk menemukan tempat tinggal yang aman di daerah Cipayung, Bogor.

Face Thee Truth

Kini sudah empat tahun saya dan kakak saya berada di Cipayung. Benar saya menemukan tempat yang aman dan nyaman. Lingkungan rumah kami berada di kawasan Puncak yang rimbun dan sejuk. Sejak kedatangan kami, masyarakat sekitar pun berlaku ramah dan tidak pernah bermasalah dengan kami yang notabene-nya merupakan pengungsi dari negara timur tengah. Kami tidak pernah mengalami masalah dengan penduduk sekitar. Meraka baik dan ramah dan tak segan membantu kami. Meskipun, di awal kedatangan rumah saya sempat beberapa kali dimasuki orang tak dikenal.

Namun, empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Saya merasa begitu tidak berdaya. Saya tidak dapat bergerak. Sebagai staf di UNHCR Pakistan, saya terbiasa dengan rutinitas yang padat dalam menangani pengungsi. Saya juga aktif dalam gerakan kemanusiaan. Tetapi di sini, tidak ada yang bisa saya lakukan.  Larangan dari kantor imigrasi untuk pengungsi begitu menyiksa saya. Kami dilarang untuk bekerja dan melanjutkan pendidikan di Indonesia. Tak ada yang bisa saya lakukan jika itu berhubungan dengan peraturan dan larangan untuk tidak melanjutkan pendidikan adalah yang paling menyiksa saya. Anda tahu bagaimana rasanya berada di negeri orang hampir empat tahun tanpa bisa melanjutkan sekolah dan bekerja? I’m useless. Saya memang aman berada di sini, tapi hidup saya bergantung pada orang lain, pada ibu dan kakak saya yang mengirimkan uang. Tanpa mereka saya tidak bisa melanjutkan hidup.

Untuk dapat bertahan di Indonesia, saya sama sekali tidak mendapatkan bantuan dari lembaga manapun. Ya, saya masih lajang dan ini juga yang membuat saya menjadi golongan terakhir untuk mendapatkan bantuan. Meskipun bantuan tersebut tak kunjung datang sampai kini. Lembaga yang menangani pengungsi lebih memprioritaskan pada anak-anak, keluarga dan seorang ibu. Saya sendiri, meskipun berdua dengan kakak saya, kami sama-sama belum berkeluarga. Hal ini pula yang membuat kami harus bergantung pada kiriman uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti menyewa sebuah rumah, membayar listrik, dan keperluan lainnya.

Bangkit dan Berdaya

Pada awal saya berada di sini dan mengetahui larangan itu, saya tahu hidup saya telah berubah 180 derajat. Semua terasa menjadi semakin asing dan saya pun harus mengubur semua mimpi saya. Termasuk impian saya untuk menikah dengan kekasih yang saya tinggalkan di Pakistan. Ie memberi kabar bahwa ia tidak bisa menunggu saya pulang ke Pakistan. Saya sendiri pun tidak tahu kapan saya bisa bertemu lagi dengannya maupun dengan keluarga saya sendiri.

Keputusasaan tersebut perlahan menyeret saya semakin dalam. Namun, saya kemudian sadar bahwa saya tidak bisa hanya menunggu dengan pasrah nasib saya. Saya harus melakukan sesuatu. Kesulitan yang saya alami saat ini bukan tidak mungkin juga dialami oleh banyak pengungsi lainnya. Saya kemudian mendirikan Women Support Group dan  mengajak para pengungsi lainnya yang kebanyakan datang dari Pakistan, Irak, Iran dan Afghanistan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan berdaya jual. Saya juga kemudian mengajarkan bagaimana cara menjahit kepada para perempuan pengungsi yang berada di sekitaran tempat tinggal say di Cipayung.

Saya membutuhkan perlengkapan jahit dan kemudian meminta bantuan dari teman saya yang berada di Australia untuk memberikan mesin jahit. Saat ini, kami punya 11 mesin jahit yang bisa digunakan untuk membuat celana dan clutch. Kami memutuskan memberi nama Beyond The Fabric untuk produk yang kami buat dan mulai mengenalkan kepada masyarakat hasil karya dari para perempuan pengungsi. Seiring dengan berjalannya waktu bisnis tersebut mulai tumbuh. Saya juga aktif mengikuti pameran-pameran kecil untuk menjual produk-produk Beyond The Fabric di stand yang disediakan. Bahkan, teman saya juga membantu untuk memasarkannya di Australia.

Beyond The Fabric bukanlah satu-satunya aktivitas yang saya lakukan di Indonesia. Saya menyadari larangan pendidikan bagi para pengungsi, termasuk anak-anak sangatlah memberatkan. Namun, anak-anak tersebut harus tetap mendapatkan pendidikan yang layak. Jadi, saya berusaha semampu yang saya bisa untuk memberikan “sesuatu” sebagai pelajaran bagi anak-anak pengungsi melalui Cipayung Educational Refugee Center. Saya ingin tidak hanya anak-anak pengungsi yang berada di Cipayung yang dapat bersekolah, tetapi juga yang berada di Jakarta. Namun, saya sadar itu akan membutuhkan dana yang sangat besar. Itulah mengapa saya bekerjasama dengan Kitabisa.com untuk menggalang dana untuk membangun sekolah di Jakarta. Saya berharap masyarakat akan turut membantu melalui donasi terbuka yang dapat diakses transparansinya.

Selain untuk anak-anak, saya juga ingin mengusahakan para perempuan untuk menjadi berdaya, memberikan mereka suatu aktivitas yang dapat menyibukkan diri mereka dan melupakan sejenak himpitan emosi, rasa kehilangan dan ketakutan akan masa depan. Saya membuka kelas bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan menjahit di rumah saya. Ada 30 orang yang mengikuti kelas saya setiap harinya. Saya bertekad untuk melakukan appaun yang dapat membuat saya sibuk sambil kembali merencanakan langkah apa yang akan saya lakukan ke depan.

The Hope

Salah satu peraturan singgah bagi pengungsi di Indonesia adalah masa tinggal 5 tahun. Dan saya sudah berada di sini empat tahun, tetapi saya belum mendapatkan kepastian akan penempatan saya berikutnya. Waktu empat tahun terasa semakin sulit. Hal ini ditambah tidak ada perubahan atau pun kemajuan yang saya alami. Kian hari emosi dan pikiran saya semakin berkecamuk. Sejumlah pertanyaan awal mulai menghantui saya kembali. Usia saya 33 tahun saat ini, tanpa kepastian masa depan dan tanpa mengetahui bagaimana perjalanan hidup saya ke depan. Saya lelah secara emosi dan pikiran yang kemudian membuat saya jatuh sakit bahkan sampai di rawat inap di rumah sakit terdekat beberapa waktu lalu.

Benar apa yang saya dapatkan di sini adalah sebuah kemanan dan kenyamanan, tapi hidup saya terbatas dan itu tidak cukup. Saya tidak bisa menempatkan harapan pada kesia-siaan, tanpa jaminan keputusan akan kemana saya setelah ini. Saya mencoba berbagai cara untuk berkonsultasi dengan lembaga pengungsi di Indonesia untuk meminta ditempatkan di negara manapun  di mana saya bisa kembali melanjutkan pendidikan saya atau bekerja. Saya tidak lagi perduli di mana saya akan ditempatkan. Entah itu di Australia, Kanada, Selandia Baru atau negara manapun. Saya tidak perduli selama saya bisa melanjutkan pendidikan dan bekerja.

Keinginan terbesar saya saat ini adalah dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang master of Public Health. Saya sudah terlalu lama menghabiskan waktu di sini tanpa kepastian. Jika sampai tahun depan saya masih tidak ditempatkan ke negara lainnya, mungkin lebih baik saya kembali ke Pakistan. Rasanya lebih baik dibunuh secara langsung oleh teroris, dibandingkan “dibunuh” secara perlahan di sini.

BAGIKAN HALAMAN INI:



Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 - Saksikan eksklusif live streaming Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 yang akan dilangsungkan di Paris pukul 2.30 pm waktu Paris atau Pukul 7.30 pm waktu Jakarta.