Menyelamatkan Gajah Bersama Tiffany & Co. dan Save the Elephants

“Gajah tidak dapat diproduksi. Ketika mereka sudah tiada, maka mereka tidak dapat digantikan,” begitu ungkap Dr. Iain Douglas-Hamilton, DPhil, CBE, Penemu dan CEO dari organisasi non-profit Save the Elephants.

Image: Save the Elephants

Ungkapan di atas seperti menjadi sebuah titik fokus bagi Dr. Iain untuk terus memperjuangkan keberlangsungan mamalia ini. Pasalnya, jumlah gajah di semua wilayah Afrika dan Asia sudah mengalami jumlah penurunan yang besar selama abad ke-20 ini. Ancaman paling mendesak bagi gajah adalah perburuan berskala besar untuk memasok perdagangan gading ilegal. Pada tahun 1989, Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora Liar (CITES) melarang perdagangan gading internasional. Namun, masih ada beberapa pasar gading dalam negeri yang berkembang dan tidak diatur di sejumlah negara yang dapat memicu perdagangan internasional ilegal. Perburuan untuk memenuhi permintaan dari negara-negara Asia membuat tingkat perburuan liar semakin meningkat. Bahkan di beberapa negara, kerusuhan politik juga berkontribusi pada perburuan gajah. Kabar baiknya adalah kini Cina telah mengumumkan bahwa mereka akan melarang semua perdagangan gading komersial di tahun 2017. Apa yang dilakukan oleh Cina diharapkan dapat segera diikuti oleh negara-negara lain.

MENGAPA GAJAH HARUS DILINDUNGI?

Seorang laki-laki yang ditangkap karena terlibat perburuan dan perdagangan gading gajah ilegal. Image: FRANK AF PETERSENS

Gajah merupakan hewan yang paling cerdas di antara hewan-hewan lainnya. Di Afrika, mereka menjadi sebuah daya tarik wisata yang dapat menambah dana untuk membantu melindungi kawasan liar. Mereka juga merupakan spesies kunci yang berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati dalam ekosistem yang menjadi tempat tinggal mereka. Gading gajah merupakan kunci kesuksesan mereka dalam berkembangbiak. Gading juga digunakan untuk alat bersaing dan mengintimidasi gajah jantan lain yang memiliki gading lebih panjang, karena ukuran adalah hal yang penting bagi gajah betina. Ancaman lainnya adalah adanya konflik dengan manusia dan hilangnya habitat dan degradasi gajah yang terjadi di Afrika dan Asia. Pada musim kemarau, gajah menggunakan gadingnya untuk menggali tanah untuk menemukan air. Hal tersebut tidak hanya menyelamatkan kehidupan gajah saat sedang mengalami kekeringan, tetapi juga menolong hewan lain yang tinggal di sekitar mereka. Bahkan saat gajah hutan makan, mereka akan menciptakan sebuah celah yang memungkinkan bagi tanaman baru untuk tumbuh, serta menciptakan jalur bagi hewan kecil. Di daerah padang rumput, gajah yang memakan pohon- pohon kecil dan semak-semak membantu agar dataran tetap terbuka. Dimanapun mereka tinggal, gajah juga meninggalkan kotoran yang penuh dengan bibit tanaman yang mereka makan sehingga jika kotoran tersebut diendapkan benihnya dan ditaburkan, maka benih tersebut akan tumbuh menjadi rumput baru, semak dan pohon yang tentunya dapat meningkatkan ekosistem di padang rumput. Faktor-faktor tersebut yang kemudian mendorong berbagai pihak untuk terus berupaya mengakhiri perburuan gajah secara ilegal.

TIFFANY FOR ELEPHANTS

Dalam upaya mengakhiri perburuan gajah, Save the ElePhants dan Wildlife Conservation Network yang bermitra dengan Leonardo DiCaprio Foundation (organisasi yang bertujuan untuk menghentikan pembantaian gajah, perdagangan manusia dan permintaan gading) membentuk Elephant Crisis Fund (ECF) sebagai bentuk inisiatif untuk mencari dana bantuan. Dalam waktu tiga tahun, ECF bersama dengan mitra-mitranya telah berhasil melakukan ratusan projek di 30 negara yang dampaknya telah dirasakan di seluruh wilayah Afrika dan negara-negara lain yang menjadi tempat perdagangan gading.

Organisasi yang berbasis di Kenya ini juga melakukan penelitian mendalam mengenai perilaku gajah dan ekologinya. Save the Elephants juga mengembangkan dan Menerapkan sistem pelacakan terdepan untuk memantau dan melindungi gajah di Afrika. Selain itu, mereka juga membantu memantau pembunuhan gajah ilegal dalam tingkat PBB. Bahkan, data ilmiah yang mereka kumpulkan telah membantu mengubah kebijakan internasional menjadi lebih baik, bekerjasama dengan departemen satwa liar, pengelola kawasan lindung, serta masyarakat lokal untuk mempertahankan upaya memerangi pembunuhan dan perdagangan gajah.

Tim Save the Elephants sedang mengawasi pelacak radio GPS untuk memantau aktivitas gajah. Image: FRANK AF PETERSENS

Melalui Elephant Crisis Fund (ECF), Save the Elephants mendukung lebih dari 49 mitra dalam melakukan lebih dari 141 proyek yang berbeda dengan tujuan menghentikan pembunuhan, menghentikan perdagangan dan mengakhiri permintaan gading. Salah satu proyek mereka adalah bekerjasama dengan perusahaan perhiasan asal Amerika Serikat, Tiffany & Co.

Selama dua dekade terakhir, Tiffany & Co telah bekerja untuk mengintegrasikan sistem keberlanjutan dalam bisnisnya. Hal itu mereka terapkan pada praktik sosial dalam lingkungan yang selama ini menjadi sumber bagi perusahaan, hingga saat pemilihan bahan yang masuk dalam kategori sustainability untuk Blue Box dan tas ikoniknya. Setiap tahun, Tiffany selalu berusaha untuk memimpin dengan memberi contoh dan melanjutkan komitmennya untuk melindungi planet ini.

Pada tahun 2016, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk memerangi perdagangan satwa liar, Tiffany memberikan dukungan kepada ECF dan melakukan kampanye tahunan mereka, yakni #KnotOnMyPlanet yang berfokus pada bidang fashion, di mana para public figure di dunia industri berjanji untuk tidak melupakan gajah dan mengajak masyarakat luas untuk turut berpartisipasi dalam kampanye tersebut. Setiap orang yang terlibat dalam kampanye #KnotOnMyPlanet harus membuat simbolis berupa ikatan simpul dan berkomitmen untuk memberikan sumbangan kepada proyek ECF untuk mengakhiri krisis gading yang dihadapi oleh gajah.

Kini di tahun 2017, Tiffany & Co. merilis koleksi Tiffany Save the Wild untuk penambahan dana bagi Elephant Crisis Fund (ECF). Koleksi ini terdiri dari sebuah gantungan dan bros berbentuk kepala gajah yang terbuat dari rose gold senilai 18 karat yang dilengkapi dengan berlian dan sterling silver beraksen batu tsavorite, batu yang diproduksi oleh Tiffany pada tahun 1974 setelah ditemukan di sekitar daerah Tsavo National Park di Kenya yang merupakan tempat asal dari gajah dengan gading terbesar hingga menjuntai ke tanah di Afrika. Koleksi ini rencananya akan dirilis pada bulan September 2017 mendatang.

Pemeriksaan langsung di lapangan oleh tim Save the Elephants. Image: Save the Elephants

Tiffany & Co. telah terinspirasi oleh alam sejak awal kehadirannya. Hal itu dapat dilihat dari beberapa koleksinya mulai dari motif floral dari meja bergaya Victoria hingga klip serangga yang dipopulerkan oleh Jean Schlumberger di tahun 1950an. Perhiasan Starfish Elsa Peretti, serta keeksotisan flora dan fauna dalam Blue Book Collection 2017 adalah contoh kontemporer tentang bagaimana Tiffany menghargai alam yang kemudian dijadikan sebagai DNA estetika desainnya. Maka tidak heran jika perusahaan ini selalu setia untuk melindungi lingkungan dan selalu menghadirkan koleksi yang indah. Tiffany juga telah menunjukkan kepeduliannya terhadap alam melalui The Tiffany & Co. Foundation, yang didirikan pada tahun 2000 untuk melestarikan alam.

Dalam kampanye #KnotOnMyPlanet yang menampilkan model seperti Linda Evangelista, Doutzen Kroes, Christy Turlington Burns dan Naomi Campbell telah mengikat simpul sebagai tanda komitmen untuk tidak pernah melupakan gajah dan untuk membantu meningkatkan kesadaran akan ancaman yang ditimbulkan oleh pemburu gading. Karena sesungguhnya perburuan ilegal tersebut tidak hanya membahayakan bagi gajah, tetapi juga mengancam keamanan di Afrika, Asia, dan bahkan di seluruh dunia.

BAGIKAN HALAMAN INI:



Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 - Saksikan eksklusif live streaming Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 yang akan dilangsungkan di Paris pukul 2.30 pm waktu Paris atau Pukul 7.30 pm waktu Jakarta.