Mr Trump VS Women

Kemenangan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat tidak hanya berarti kekalahan bagi perempuan Amerika, namun juga ancaman terhadap kemajuan perempuan di negaranya sendiri maupun dalam skala global.

Meskipun Amerika tidak masuk ke dalam peringkat 10 besar dalam Laporan Kesenjangan Gender 2016 berdasarkan data Forum Ekonomi Dunia, kemajuan yang dialami oleh para perempuan Amerika dapat dikatakan berkembang dengan cepat. Kedudukan penting sebagai pengambil kebijakan dalam ranah publik, pemimpin perusahaan, posisi penting di bidang hukum dan kedokteran sudah mulai banyak diduduki oleh perempuan.

Sebagai negara besar, Amerika juga dapat dikatakan sebagai contoh kemajuan terbesar bagi perempuan. Hal ini juga dapat terlihat pada hasil pemilu Amerika di tahun 2016. Meskipun Hillary Clinton tidak berhasil menjadi presiden perempuan pertama di Amerika, tetapi sejumlah perempuan sukses menduduki kursi penting dalam pemerintahan, mulai di pusat, negara bagian hingga daerah. Di tahun ini, sejumlah perempuan dari kelompok minoritas akan duduk di senat yang melebihi jumlah sebelumnya. Bahkan, diperkirakan akan ada lebih banyak anggota parlemen perempuan. Catherine Cortez Masto akan menjadi perempuan Latin pertama yang duduk di kursi Senat mewakili Nevada, sedangkan di Cupertino, Silicon Valley, California, Savita Vaidhyanathan menjadi walikota perempuan India-Amerika pertama.

Namun, berbagai kemajuan yang telah dicapai perempuan Amerika, yang juga menjadi referensi bagi perempuan global terancam oleh terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS yang ke-45. Donald Trump, seorang milyuner dari perusahaan developer raksasa, bintang reality show dan mantan pemilik acara Miss Universe yang telah mendunia, sejak lama dikenal sebagai seorang misoginis dan menganggap perempuan rendah. Hal tersebut tergambar dari beberapa ucapan yang telah ia lontarkan dalam banyak wawancara. Salah satu wawancaranya yang terkenal saat ia memperebutkan kursi nominasi sebagai calom presiden dari partai Republik. Trump mengejek penampilan saingannya, Carly Fiorina. “Lihatlah wajah itu!” ucap Trump dalam wawancara dengan Rolling Stone. “Apakah ada yang memilih untuk (wajah) itu? Dapatkah Anda membayangkan bahwa ia adalah wajah presiden berikutnya?!”

Wawancara tersebut bukanlah satu-satunya. Trump juga menyebut mantan Miss Universe, Alicia Machado dengan sebutan Miss Piggy karena berat badannya naik beberapa kilo dan Miss Housekeeping, karena ia berasal dari Latino. Ungkapan ini sempat mengemuka pada debat pilpres pertama Trump VS Hillary. Saat hal ini diungkit, Trump bahkan tidak menyangkal hal itu dan malah mempermalukan Alicia Machado dengan menyebutnya sebagai “yang terburuk” di antara para kontestan Miss Universe lainnya.

Sikap ini juga tetap ia tunjukkan selama kampanye presidensial melawan Hillary Clinton pada tahun 2016 dan dalam kampanye di partai Republik sebelumnya. Ia misalnya pernah menyebut Hillary memiliki “sirkuit pendek”di otaknya. Trump juga menambahkan bahwa Hillary merupakan “api yang tidak sehat”. Penggunaan istilah ini merujuk pada semangat menggebu-gebu yang ditunjukkan oleh Hillary dalam mengagendakan isu-isu perempuan pada kampanyenya. Hillary juga sempat mengalami drop yang membuatnya harus dirujuk ke dokter. Kondisi Hillary saat itu bahkan dijadikan bulan-bulanan oleh Trump dengan menyebut Hillary secara hormonal dan biologis tidak layak untuk memegang kekuasaan. Dengan sikap Trump yang sangat merendahkan perempuan tersebut, bagaimana wajah dunia perempuan di bawah kepemimpinannya sebagai presiden?

Nasib Perempuan di Tangan Trump

Seperti menjawab ketakutan warga dunia, salah satu kebijakan eksekutif yang ditandatangani Trump sejak menjabat sebagai presiden AS adalah kebijakan yang dikenal dengan istilah global gag rules. Kebijakan ini mengatur bahwa AS tidak akan mendanai organisasi sosial yang memasukkan fasilitas layanan atau advise mengenai aborsi di dalam kegiatan mereka. Aborsi telah lama menjadi isu penting bagi partai Republik dan Demokrat. Amerika merupakan salah satu negara pendonor terbesar bagi kesehatan reproduktif perempuan. Setiap tahunnya, Amerika mengeluarkan dana sekitar USD 600 juta untuk kesehatan reproduksi yang memberikan kontribusi pada keluarga berencana sekitar 27 juta peremouan di seluruh dunia.

Kebijakan tersebut menyulitkan organisasi-organisasi sipil yang mendapatkan pendanaan dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat untuk layanan pengguguran kandungan. Organisasi-organisasi tersebut dihadapkan pada dua pilihan sulit, yaitu harus menerima larangan aborsi untuk tetap mendapatkan dana atau menolak larangan tersebut namun kehilangan sumber dana. Brian Dixon, perwakilan lembaga Population Connection Fund mengungkapkan bahwa kedua pilihan tersebut sama-sama merugikan perempuan.

Padahal untuk mengantisipasi kebijakan yang sudah diperkirakan sebelumnya ini, sehari setelah Trump dilantik pada 20 Januari 2017, jutaan warga Amerika tumpah di jalanan melakukan Women’s March. Salah stau agenda yang diusung warga Amerika, baik laki-laki maupun perempuan yang ikut dalam march tersebut adalah mengenai hak untuk aborsi dan akses terhadap kebijakan kesehatan reproduksi.

Selain itu, Trump juga mengancam akan menghentikan pendanaan terhadap organisasi di bawah badan PBB, termasuk UN Population Fund yang menyediakan kontrasepsi puluhan ribu perempuan di Afrika dan beberapa area termiskin di berbagai belahan dunia. Beberapa penasihatnya bahkan mengungkapkan pandangan pemerintah AS bahwa program-program gender selama ini yang diusung oleh AS adalah program berbahaya dan bagian dari agenda feminis radikal yang mempromosikan prostitusi, sexual promiscuity dan menghancurkan keluarga-keluarga di seluruh dunia.

Beberapa penasihat terdekat Donald Trump juga dikenal sebagai anti program pemberdayaan perempuan yang progresif. Salah satunya adalah Steve bannon, manajer kampanye Trump yang memberi kritik tajam pada agenda PBB yang menyangkut pada pemberdayaan perempuan. Ia juga menunjukkan ketidakpedeluliannya terhadap isu perkawinan anak. Selain itu, sejak 40 tahun terakhir, kabinet Trump adalah kabinet yang paling sedikit memiliki menteri perempuan.

Ivanka Trump, putri Trump yang dianggap memiliki pandangan progresif terhadap isu perempuan, mencoba angkat bicara untuk membela ayahnya. Dalam pidatonya pada acara konvensi nasional partai Republik, Ivanka mengungkapkan bahwa ayahnya sangat mendukung kesetaraan upah, cuti untuk keluarga dan pelayanan anak. “Sebagai presiden, ayah saya akan mengubah undang-undang ketenagakerjaan yang dulu dibuat pada saat jumlah tenaga kerja perempuan masih sedikit dan belum signifikan,” ucap Ivanka.

Namun, jika dilihat dari website Trump selama masa kampanye, kita tidak bisa melihat posisi mereka pada isu-isu ksetaraan upah, aborsi, cuti untuk keluarga, pelayanan anak maupun isu-isu untuk pelecehan seksual.

Perlawanan Perempuan

Melihat kesewenang-wenangan Trump dalam menjalankan Amerika di masa pemerintahannya yang baru beberapa bulan, para perempuan telah merencanakan sebuah perlawanan yang dilakukan pada 8 Maret 2017. Perlawanan yang dilakukan dengan mengusung tema “A Day Without Women” ini mengajak perempuan di seluruh dunia untuk bersatu menyampaikan pesan pembebasan atas perilaku Trump yang mengabadikan penindasan. Dalam akun Twitternya, gerakan Women’s March mempertanyakan kelanjutan Amerika yang kini dijalankan selayaknya sebuah bisnis oleh Trump. Gerakan yang telah sukses dilakukan pada Januari silam menjadi landasan kuat bahwa gerakan yang direncanakan ini juga akan berhasil.

Selain berencana melakukan perlawanan melalui aksi demonstrasi, para perempuan juga ikut serta dalam sebuah petisi online yang digagas oleh Free Speech for People dan RootsAction. Petisi bertajuk “Impeach Trump Now” ini telah mendapatkan dukungan lebih dari 655.363 suara. Sebuah survey yang dirilis oleh Public Policy Polling bahkan menyebutkan sebanyak 40% responden menginginkan Trump dilengserkan.

Kini, Trump telah menjalankan masa pemerintahannya selama 100 hari pertama. Selama kurun waktu tersebut, Trump menunjukkan gambaran secara garis besar untuk memojokkan perempuan. Tidak hanya hak-hak perempuan yang secara satu per satu dicabut, Trump bahkan membiaskan kembali equality gender yang mulai mengemuka dengan kuat.

BAGIKAN HALAMAN INI:



Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 - Saksikan eksklusif live streaming Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 yang akan dilangsungkan di Paris pukul 2.30 pm waktu Paris atau Pukul 7.30 pm waktu Jakarta.