Najwa Shihab: “Mata Najwa Adalah Titipan Mata Publik”

Sudah 17 tahun Najwa Shihab (39) berkecimpung di dunia jurnalistik televisi. Ia dikenal sebagai salah satu jurnalis perempuan terbaik di Indonesia, dan program khususnya di Metro TV Mata Najwa menjadi favorit audiens televisi. Namun baru-baru ini, ia mengumumkan pengunduran dirinya dari stasiun televisi tersebut dan mengakhiri program Mata Najwa yang membuat audiens  langsung merasa kehilangan. Kami menghadirkan kembali perbincangan eksklusif kami bersama Najwa dua tahun yang lalu yang kami terbitkan di edisi ulang tahun April 2015 di mana Najwa bercerita banyak mengenai kariernya di jurnalistik, keluarga dan misinya untuk siaran televisi yang berkualitas.

Di depan layar Anda terkenal dengan gaya yang kritis dan berani saat bertanya pada narasumber. Apa definisi berani menurut Anda yang berkaitan dengan profesi sebagai seorang jurnalis?

Bertanya kritis pada narasumber adalah naluri setiap wartawan. Karena fungsi bertanya kepada narasumber adalah untuk mengkritisi atau mengulik suatu informasi. Saya tidak pernah bertanya masalah pribadi kepada narasumber, kecuali yang berkaitan dengan kebijakan publik atau hal yang akan memengaruhi kinerjanya sebagai pejabat publik. Jadi saya tidak pernah merasa takut untuk menanyakan hal itu karena berkaitan dengan kepentingan publik.

Saat Anda meliput bencana Tsunami Aceh pada tahun 2004, bisa dikatakan Anda membuat gebrakan karena menjadi reporter pertama yang meliput musibah tersebut. Bagaimana pengalaman liputan tersebut memengaruhi kehidupan Anda?

Pengalaman itu telah memengaruhi hidup saya sebagai seorang manusia. Bayangkan, saya berada di tengah-tengah kehancuran yang diakibatkan oleh bencana terdahsyat abad ini. Saya berada dalam situasi yang sulit, kerusakan itu sedemikian tidak terbayangkan dan kesedihan yang tiada tara tergambar pada wajah-wajah para survivor. Peristiwa tersebut mengingatkan saya untuk selalu bersikap humble, karena di sana terlihat bahwa manusia menjadi sangat kecil dibandingkan alam yang besar. Tidak pernah saya melihat begitu banyak keputusasaan yang terpancar di mata manusia. Pengalaman tersebut juga mengingatkan saya dengan keras bahwa apapun yang kita lakukan, pasti ada sesuatu yang jauh lebih besar di atas kita.

Berkat liputan tersebut Anda dinobatkan sebagai Jurnalis Televisi Terbaik oleh Perhimpunan Wartawan Indonesia pada tahun 2005. Bagaimana perasaan Anda waktu itu?

Sebuah kebanggaan tersendiri ketika apa yang saya lakukan bersama tim membawa manfaat besar bagi orang lain. Ada dampak dan pengaruh besar pada kebijakan yang diambil, misalnya, atau hal-hal kecil yang dapat mengubah cara pikir seseorang terhadap suatu isu tertentu setelah menontonnya. Misalnya ketika saya mengundang Mantan Wakil Presiden,  Boediono ke Mata Najwa. Banyak orang yang berprasangka buruk tentang Boediono karena kasus Century yang melibatkan dirinya dan tak ada yang tahu seperti apa kiprah Boediono karena pada dasarnya ia sangat pendiam dan tidak mau berbicara pada media. Namun setelah wawancara dengannya, terlihat sisi lain dari dirinya yang tidak diketahui banyak orang, tentang bagaimana ia sangat sederhana dan sangat ketat dalam menjaga uang negara. Dan saya ingat ketika kisah itu ditampilkan, ada banyak orang yang kemudian merasa bahwa ia sebenarnya menjadi teladan, bahkan ada yang merespon selama ini mereka salah mengira tentang seorang Boediono.

 Adakah momen dalam pekerjaan atau kehidupan yang menguji keberanian Anda?

Salah satunya adalah ketika meliput konflik di Ambalat dan ketika meliput tsunami Aceh. Terkadang naluri kita sebagai seorang jurnalis untuk mengejar berita eksklusif dan menjadi yang pertama untuk mendapatkan berita tersebut membuat kita lupa dengan unsur keselamatan, sehingga kadang saya harus diingatkan oleh kru yang lain. Kalau dulu tantangannya lebih kepada pemerintah yang berusaha menekan kita untuk tidak menceritakan sesuatu secara utuh, sekarang lebih tentang bagaimana kita menyampaikan suatu peristiwa tanpa takut pada tekanan industri, kepentingan modal, atau kepada orang-orang yang tidak terbiasa atau tidak mau terbiasa dengan kebebasan yang ada.

Apakah pernah mengalami ancaman karena meliput sesuatu yang kontroversial? Bagaimana Anda menanggapinya?

Ketika saya mengundang orang untuk datang ke Mata Najwa, saya sudah menjelaskan bahwa pembahasannya akan melalui angle tertentu, dan narasumber akan menjawab pertanyaan dalam kapasitas ini. Namun memang terkadang seringkali ada permintaan untuk tidak menayangkan bagian-bagian tertentu. Saya menganggapnya bahwa itu adalah upaya orang agar aibnya tidak nampak ke permukaan.

Adakah momen ketika Anda ragu menjalani karier sebagai seorang jurnalis?

Tidak pernah karena alasan pekerjaan, tapi lebih kepada dilema sebagai seorang ibu bekerja. Saya khawatir tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi anak saya, khawatir terlalu fokus pada pekerjaan dibanding keluarga.

Lantas bagaimana Anda membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga?

Saya strict sekali dengan aturan bahwa pada Sabtu – Minggu tidak akan ambil pekerjaan. Serupa seperti pekerjaan, saya juga sangat detail dengan keluarga, sehingga saya harus tahu apa saja kegiatan anak saya. Dibantu dengan teknologi komunikasi era sekarang yang begitu canggih, saya bisa tahu dimana anak saya berada. Saya juga dibantu oleh support system yang kuat, dengan suami yang suportif, mertua yang care dan lain sebagainya.

Anda datang dari keluarga muslim yang moderat. Bagaimana pendidikan keluarga mengenai relasi gender?

Saya lima bersaudara, dan empat di antaranya adalah perempuan. Saya ingat betul dulu pernah ada yang bilang kepada ayah saya bahwa ‘sayang sekali anak laki-lakinya hanya satu’. Ayah saya marah, karena menurutnya anak perempuan sama berharganya dengan anak laki-laki. Ia tidak pernah membedakan adik saya yang laki-laki dengan saya atau kakak-kakak perempuan yang lain. Buat ayah saya, pendidikan itu nomor satu, maka ketika saya memutuskan untuk menikah di usia 20 tahun, ayah saya mengijinkan dengan syarat sekolahnya harus selesai.

Anda menjadi inspirasi bagi perempuan lain dengan berbagai alasan, tapi bagi Anda sendiri sosok yang inspiratif itu seperti apa dan siapa?

Banyak. Tidak bisa spesifik satu orang tertentu. Bahkan dari setiap tamu yang saya wawancara tiap minggunya, mereka memberikan pelajaran yang berbeda-beda. Selalu ada cerita-cerita menarik dan menyentuh dari orang-orang yang saya temui. Karena itu saya merasa terhormat bisa bertemu dan mewawancara orang-orang dengan kisah hidup yang bisa dijadikan pelajaran buat saya.

Di layar kaca Anda dikenal sebagai sosok yang kritis, cerdas dan berani. Namun seperti apa karakter Najwa Shihab sebenarnya di balik layar?

Saya sebenarnya orang yang pendiam dan pemalu serta tidak mudah terbuka dengan orang yang baru. Saya lebih nyaman untuk berbicara tentang pekerjaan dan hanya bisa dekat dengan teman-teman yang memang sudah kenal sejak lama, karena tidak mudah bagi saya untuk dekat dengan orang baru. Maka tak heran jika teman-teman saya itu-itu saja sejak dulu. Selain itu, saya orangnya juga sangat detail.

Dengan sekian banyak penghargaan dan keberhasilan di dunia jurnalistik, impian apa lagi yang ingin Anda raih ke depannya?

Program Mata Najwa baru memasuki usianya yang ke-5 tahun, dan saya berharap saya bisa membawa program ini lebih besar lagi dan lebih banyak hal yang bisa dilakukan. Karena filosofi program Mata Najwa adalah sebagai media bagi publik untuk menitipkan mata mereka untuk mengawasi apa yang terjadi di Indonesia, maka saya berharap program ini dapat melihat suatu peristiwa dari berbagai macam angle, mata ini kemudian menjadi lebih tajam dan bisa mewakili apa yang orang pikirkan ketika publik berbicara soal program televisi yang berkualitas.

(Wawancara dan tulisan oleh Citra Narada)

Foto: Wahyudi Tan/Dok. Marie Claire Indonesia

BAGIKAN HALAMAN INI: