Sulitnya Layanan Kesehatan untuk Pengungsi dan Pencari Suaka di Pulau Nauru

Pengungsi dan pencari suaka asal Australia yang berada di Pulau Nauru kini semakin sulit mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai. Berdasarkan data dari Departemen Imigrasi Australia, terdapat hampir 50 pengungsi dan pencari suaka yang membutuhkan perawatan kesehatan tertentu, namun ditolak oleh pihak rumah sakit Nauru untuk memperoleh akses peralihan medis ke luar negeri. Tiga orang diantaranya merupakan perempuan yang perlu menggugurkan kehamilannya karena alasan budaya, keluarga, dan kesehatan.

Mengingat terbatasnya fasilitas kesehatan dan hanya terdapat satu rumah sakit di Pulau Nauru, akses peralihan medis ini menjadi sangat penting bagi sekelompok orang tersebut. Penolakan atas peralihan medis ini tentunya bertentangan dengan rekomendasi dokter yang diberikan. Adapun, Nauru sebagai negara yang taat terhadap agama Kristen melarang tindakan pengguguran tersebut. Di sisi lain, sejak Juli lalu, Departemen Imigrasi dan Perlindungan Perbatasan Australia padahal telah memerintahkan bahwa seluruh peralihan medis harus disetujui oleh rumah sakit Nauru.

Sebelumnya, peralihan medis yang mendesak dan sensitif langsung diatur antara Pasukan Perbatasan Australia dengan kontraktor kesehatan pemerintah Australia serta Layanan Kesehatan dan Medis Internasional. Dilansir dari theguardian.com, seorang staf dari Pulau Nauru mengatakan bahwa perubahan prosedur yang terjadi saat ini merupakan upaya politik untuk menghalangi peralihan medis. Karena izin untuk melakukan pengguguran harus diajukan kepada komisi peralihan medis ke luar negeri, dapat dipastikan bahwa hal tersebut takkan disetujui.

Terkait kondisi tersebut, seorang psikiater menyatakan bahwa hal ini akan berpengaruh pada kesehatan mental perempuan terkait. Jika mereka tak kunjung menggugurkan kehamilannya, ia akan menghadapi risiko pada kesehatan fisik maupun mentalnya yang ia rasakan dari sisi individu, keluarga, dan komunitasnya. Hal ini menunjukkan mereka tidak dapat memiliki hak untuk mengakhiri kehamilannya sendiri, yang juga merupakan hak mereka atas tubuhnya sendiri.

Para perempuan yang harus menggugurkan kehamilannya ini sebelumnya telah memiliki gangguan kesehatan mental. Melahirkan dan mengasuh anak di Nauru hanya akan meningkatkan tekanan kesehatan mental mereka. Yang perlu diperhatikan adalah jika mereka nantinya malah akan menyakiti diri sendiri, memutuskan bunuh diri, atau bahkan memutuskan untuk melakukan aborsi di rumah. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Nauru bukanlah tempat yang aman untuk membesarkan seorang anak.

 

Teks: Shafina Rahmanida

BAGIKAN HALAMAN INI: