Dr. Sharman Stone: Persiapkan Remaja Perempuan Menghadapi Masa Depan

Image: Dok. Marie Claire Indonesia 2017/ Turida Wijaya

Dalam kunjungannya ke Indonesia November lalu, kami berkesempatan untuk duduk bersama Australian Ambassador for Women and Girls Dr. Sharman Stone dan mengobrol ekslusif mengenai misinya untuk memberi kesempatan yang sama bagi setiap perempuan dan anak perempuan dalam menghadapi abad yang akan datang.

Negara Australia semakin memantapkan komitmen mereka terhadap isu pemberdayaan perempuan. Pembentukan jabatan Australian Ambassador for Women and Girls adalah salah satu sinyal kuat akan komitmen dari negara tersebut. Dibentuk pertama kali pada tahun 2011, tahun ini Australia baru saja menunjuk duta ke tiga mereka yang diemban oleh Dr. Sharman Stone, seorang mantan anggota parlemen yang telah berkarier selama 20 tahun di politik.

Dalam perjalanan karier politiknya, Dr. Sharman telah dikenal fokus terhadap isu minoritas, indigenous people, lingkungan, dan isu perempuan. Datang dari keluarga petani di bagian utara negara bagian Victoria, ia membuat gebrakan menjadi perempuan yang menduduk posisi manajemen senior di Victorial Rural Water Corporation dan menjadi direktur perempuan pertama di Department of Agriculture  dan di Victorian Farmer’s Federation.

Kariernya pada politik dimulai pada tahun 1996 ketika ia terpilih sebagai Federal Member mewakili daerah Murray. “Saya mengambil kesimpulan bahwa jika saya terus mengeluh mengenai isu yang sama, dan belum mendapatkan jalan keluar atas keluhan tersebut, maka mungkin saya harus melakukannya sendiri. Dan di situlah karier saya dimulai sebagai anggota parlemen,” ungkapnya.

Sejak diangkat sebagai Australian Ambassador for Women and Girls pada Februari 2017, Dr. Sharman Stone telah mengunjungi sekitar 20 negara untuk mempromosikan isu-isu perempuan, dan akhir Oktober lalu, untuk pertama kali dalam perannya tersebut, Dr. Sharman Stone berkunjung ke Indonesia. Selama kunjungan tersebut ia bertemu dengan Menteri Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak, dengan pemimpin perempuan dari sektor bisnis, komunitas dan alumni Australia. Di sela agendanya yang padat, Dr. Sharman Stone berkesempatan untuk memberikan wawancara ekslusif terhadap Marie Claire Indonesia.

Marie Claire (MC): Anda baru saja pensiun dari karier politik Anda dan langsung ditunjuk sebagai Australian Ambassador for Women and Girls. Cara yang menarik sekali untuk menikmati waktu pensiun

Sharman Stone (SS): Ya, bagi saya konsep pensiun tidak perlu untuk benar-benar diterapkan. Saya tidak bisa membayangkan setelah bekerja selama puluhan tahun lalu kemudian kita pulang dan menggantungkan perlengkapan kerja kita. Bagi saya ini adalah kesempatan untuk terus bekerja, mengadvokasi isu-isu tentang perempuan dan mempromosikan hak-hak perempuan dan anak perempuan untuk memiliki kesempatan yang sama dalam apapun yang ingin mereka lakukan. Saya merasa beruntung dapat menjalankan peran ini.

MC: Anda sudah sejak dulu mendeklarasikan diri Anda sebagai feminis dan fokus pada isu hak perempuan. Apa yang mendorong komitmen Anda pada isu perempuan?

SS: Bisa dikatakan bahwa nenek saya memiliki pengaruh besar dalam kehidupan saya dan mendorong ketertarikan saya terhadap isu perempuan. Nenek saya dulunya adalah seorang penyanyi opera, namun ia tidak bisa mewujudkan mimpinya menjadi diva karena ia harus mengurus 10 orang anak. Ia memiliki anak hingga sepuluh orang karena ia tidak tahu bagaimana mengontrol fertilitasnya. Itu terjadi sekitar 100 tahun yang lalu. Jadi nenek saya harus melepaskan mimpinya karena keterbatasan pengetahuan mengenai modern family planning.

Lalu pengaruh besar lainnya adalah ibu saya yang tumbuh di daerah terpencil dan bekerja sebagai petani bersama ayah saya. Ia sebetulnya ingin sekali sekolah lebih tinggi namun karena ia tidak bisa mencapai hal tersebut, ia bertekad agar kami empat orang anaknya dapat sekolah setinggi mungkin.

Ibu saya sosok perempuan yang cerdas, independen dan ia mendorong saya untuk memahami bahwa perempuan harus memiliki pilihan hidup, harus independen dan harus mendapat akses pendidikan setinggi mungkin dan sejauh yang ia inginkan. Pengalaman saya tersebut; tumbuh di kota kecil Australia, memberi pengaruh besar dalam membentuk siapa saya. Karena itu saya ingin mengatakan bahwa tempat kelahiran Anda tidak harus mempengaruhi kesempatan Anda dalam hidup. Apakah Anda lahir di pulau kecil yang jauh dari Jakarta atau di daerah rural Australia, fakta tersebut jangan sampai membatasi potensi Anda. Apalagi dengan teknologi yang kita miliki saat ini.

MC: Apa saja role Anda sebagai Australian Ambassador for Women and Girls?

SS: Australia memiliki program bantuan yang cukup besar untuk dialokasikan di luar negeri, jumlahnya mencapai milyaran dolar per tahun. Pemerintah kami sudah menyatakan bahwa dari keseluruhan dana tersebut, 80 persennya harus ditujukan untuk hal yang memiliki dampak terhadap kehidupan perempuan dan remaja perempuan. Dana tersebut bisa saja digunakan untuk membuat jembatan di Mekong (Vietnam), tapi kami harus memastikan bahwa jembatan yang dibangun tersebut akan turut memperbaiki kehidupan perempuan, misalnya membuka akses ke pasar bagi petani perempuan.

Namun ide umum dari peran duta untuk perempuan dan anak perempuan ini adalah untuk melihat program atau strategi apa yang berjalan baik untuk mengatasi permasalahan-permasalah yang dihadapi perempuan baik di Australia dan negara lain, dan kemudian bagaimana kita menerapkan strategi tersebut di kawasan kita. Bagaimana kita bisa saling belajar, membangun hubungan baik, bekerja dengan komunitas, memastikan bahwa perempuan dan anak perempuan dapat memasuki abad yang akan datang, masa depan, dengan kecakapan dan kesempatan seperti yang dimiliki laki-laki sejak berabad-abad.

MC: Apa isu yang menjadi agenda utama Anda selama memegang peran ini?

SS: Ada tiga pilar dalam bantuan yang diberikan Australia. Pertama adalah women leadership- bagaimana perempuan mendapatkan lebih banyak tempat sebagai pemimpin, baik di bisnis, pemerintah maupun di bidang lain.

Kedua adalah bagaimana memberdayakan ekonomi perempuan terutama terkait akses terhadap pekerja.  Banyak perempuan yang bekerja di sektor informal dan seringkali tanpa ada perlindungan dalam pekerjaan mereka. Jadi isunya adalah bagaimana perempuan tersebut pindah ke ekonomi formal dengan perlindungan dari pemerintah. Masyarakat cenderung mengharapkan perempuan untuk menjadi superwoman. Perempuan harus merawat anak, orangtua, anggota keluarga yang cacat misalnya, dan pada saat bersama perempuan juga diharapkan untuk bekerja di ruang public dan mendapatkan penghasilan. Women can’t do it all. Karena itu kita harus melibatkan lebih banyak laki-laki dan meyakinkan laki-laki bahwa sebagai seorang pasangan atau ayah, mereka harus mau berbagi peran tradisional yang biasa dibebankan pada perempuan.

Ketiga adalah mengatasi masalah kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan berbasis gender adalah isu yang sangat penting di kawasan kita, termasuk di Australia. Perempuan menderita 3 lapis kekerasan, yaitu fisik, psikologi, dan kekerasan ekonomi. Di Australia, sekitar 63 perempuan setiap tahunnya meninggal akibat kekerasan dari intimate partner, artinya ada setidaknya satu perempuan yang meninggal setiap minggu. Pikirkan berapa orang yang terluka, lalu bagaimana dampaknya terhadap anak-anak.  Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya berdampak pada perempuan, tapi juga memberikan dampak serius pada anak-anak. Anak laki-laki akan tumbuh sebagai laki-laki dewasa yang juga melakukan kekerasan dan anak perempuan akan mengira hal sama akan terjadi pada mereka. Jadi ini adalah masalah antargenerasi.

Tidak ada magic solution dalam waktu yang dekat untuk semua persoalan ini, tapi kita terus bekerjasama untuk mencari solusi dan mencapai tujuan kita.

 

Wawancara dan Teks: Fitria Sofyani

BAGIKAN HALAMAN INI: