Hot Issue

Polemik Marijuana: Rekreasi vs Medis

Perdebatan mengenai tanaman bergerigi ini tak pernah habis dibahas sejak dinyatakan sebagai tanaman berbahaya oleh pemerintah Federal Amerika Serikat pada tahun 1970. Sedangkan di Indonesia, tanaman ini dinyatakan golongan terlarang. Namun, seiring kemajuan ilmu medis, ganja mulai mengemuka sebagai tanaman yang diyakini sebagai harta karun pengobatan bahkan menjadi bahan makanan dengan nilai fantastis.

Cerita mengenai ganja untuk pengobatan di Indonesia mulai kembali mengemuka pada kasus Fidelis Ari di Singgau, Kalimantan Barat. Fidelis menanam ganja yang ia gunakan sebagai pengobatan untuk istrinya yang menderita kista tulang belakang pada Maret 2017 lalu. Kondisi istri Fidelis diungkapkan membaik setelah beberapa kali diberikan ekstrak ganja.

Namun, Fidelis kemudian ditangkap pihak berwajib sehingga pengobatan untuk istrinya pun terhenti. Tak lama kemudian sang istri pun meninggal dunia. Kasus ini mengundang perdebatan tentang efek dan manfaat ganja yang sebenarnya.

Bagaimanapun, di Indonesia ganja merupakan salah satu tanaman yang digolongkan sebagai narkotika golongan 1 bersama zat lainnya seperti heroin, kristal meth atau sabu, dan dinyatakan terlarang menurut Undang-Undang No.35 tahun 2009 tentang Narkotika. Mengemukanya kasus Fidelis kemudian dimanfaatkan oleh sebagian kelompok masyarakat untuk menuntut pelegalan ganja di Indonesia dengan alasan kandungan dalam tanaman tersebut memiliki manfaat yang bisa digunakan untuk pengobatan. Masyarakat pun mulai bereaksi, benarkah tanaman yang diketahui secara umum sebagai tanaman terlarang sebagaimana narkotika bisa memiliki kandungan tertentu yang bisa digunakan untuk pengobatan?

LEGALITAS GANJA

Ganja atau yang disebut dalam istilah ilmiah sebagai Cannabis Saliva telah dinyatakan legal di 29 negara bagian Amerika, khususnya di district of Columbia untuk penggunaan medis. Bahkan mayoritas orang Amerika juga mendukung legalitas ganja untuk penggunaan rekreasi atau penggunaan pribadi. Beberapa negara lain saat ini mulai meninjau legalitas ganja di negara mereka, seperti Uruguay yang telah memutuskan untuk melegalkannya dan Portugal untuk mendeskriminalisasikannya. Sedangkan, Israel, Kanada dan Belanda memiliki program khusus untuk pemanfatan ganja dalam bidang medis. Di Indonesia, ganja masih menjadi tanaman terlarang yang menjerat siapa saja dengan hukuman penjara bagi yang kedapatan memilikinya.

Jika dilihat dari kasus ganja di Indonesia, dalam laporan akhir tahunnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 2016 menangkap sebanyak 1.238 tersangka pengedar narkoba, termasuk di dalamnya ganja dengan jumlah 807 kasus. Kemudian narkoba jenis ganja menjadi barang bukti yang paling banyak disita. Tercatat ditemukan sebanyak 6,2 ton ganja kering, 20.000 batang ganja dan 16 hektar areal ganja yang berada di Aceh. Pandangan ganja sebagai tanaman terlarang dan hanya digunakan oleh para kriminal begitu kuat di benak masyarakat. Maka tak heran jika kepemilikan atas tanaman tersebut menjadi begitu berbahaya. Hal ini pula yang membuat para peneliti di seluruh dunia memiliki kekhawatiran tinggi untuk melakukan penelitian lebih jauh atas kandungan yang disinyalir dapat digunakan sebagai obat.

Penggunaan ekstrak ganja seperti yang dilakukan oleh Fidelis untuk pengobatan istrinya, bukanlah yang pertama. Pada tahun 1963, seorang peneliti asal Israel, Raphael Mechoulam menemukan suatu senyawa dalam ganja yakni tetrahydrocannabinol (THC) yang merupakan bahan aktif utama ganja. Esensi senyawa tersebut dapat mengubah pikiran serasa melayang. Raphael, seperti dilansir dari National Geographic, menghabiskan seumur hidupnya untuk mempelajari ganja dan menyebut tanaman tersebut sebagai “harta karun obat yang menunggu untuk ditemukan”.

Meskipun telah ditemukan bahwa ganja memiliki kandungan yang dapat digunakan sebagai obat, Raphael tidak mendukung legalisasi ganja untuk penggunaan rekreasi. Mengutip sebuah penelitian, Raphael menunjukkan bahwa penggunaan ganja THC dalam jangka panjang dapat mengubah cara otak berkembang. Ia mencatat pada beberapa orang, ganja dapat memprovokasi serangan kecemasan yang serius dan melemahkan, serta memicu timbulnya skizofrenia bagi mereka yang memiliki predisposisi genetik terhadap penyakit ini.

Hal ini senada dengan yang diutarakan oleh Direktur Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA, Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH, mengenai alasan belum dilegalkannya penggunaan ganja di Indonesia. “Tentu ganja memiliki manfaat, karena dia berguna sebagai preparat atau penghilang rasa sakit. Tetapi, untuk legalitas ganja di Indonesia tidak bisa dilakukan tanpa mengubah terlebih dulu penggolongan yang terdapat dalam UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika,” ucap Fidiansjah.

“Perubahan UU harus Terlebih dulu melalui kajian yang dilakukan oleh para ahli dan tentu juga melihat dari hasil penelitian. Dan munculnya kasus Fidelis yang menggunakan ganja sebagai pengobatan juga tentu tidak bisa lantas menjadi generalisasi bahwa ganja memiliki manfaat dalam bidang medis. Karena ini akan menjadi pembenaran sepihak. Ini harus dibuktikan terlebih dulu melalui penelitian.” Fidiansjah melanjutkan bahwa sebuah penelitian tidaklah sama dengan testimoni, yang mana ketika terjadi satu peristiwa yang menghasilkan sesuatu maka bisa dikategorikan hal tersebut sudah benar. “Namun, adanya kasus Fidelis ini kami setuju bisa menjadi salah satu pencetus pentingnya untuk membahas penggunaan ganja di bidang medis,” ucap Fidiansjah.

KENIKMATAN BARU BAGI PEREMPUAN

Rupanya ganja memang menjadi salah satu tanaman istimewa yang kini mulai menguak ke permukaan. Setelah dilegalkan di sejumlah negara bagian di Amerika, ganja telah bermetamorfosis menjadi bahan makanan yang paling banyak dicari dan dinikmati oleh kalangan atas perempuan profesional Amerika. Ganja digunakan sebagai bahan masakan oleh sejumlah koki yang menghasilkan hidangan istimewa berharga fantastis.

Hidangan steak daging yang merupakan salah satu varian makanan cannabis-infused yang banyak digemari di Amerika Serikat

Makanan dengan infus ganja bahkan telah menjadi sajian yang dinikmati di beragam taman rooftop di hotel butik yang berada di Hollywood, mulai dari makan malam pribadi hingga jamuan khusus untuk sejumlah tamu penting. Para perempuan kalangan atas tersebut menginginkan keunikan rasa yang membuatnya melayang dengan cara yang tidak biasa. Ini seperti sudah menjadi gaya hidup bagi kalangan atas di sepanjang jalur Los Angeles hingga ke New York.

Perubahan gaya hidup ini bahkan telah menaikkan angka penjualan ganja hingga 17% menjadi USD 5,4 juta (Rp71,7 milyar) di tahun 2015 berdasarkan data dari Arcview Market Research dan diproyeksikan meningkat hingga mencapai USD 21,8 juta (Rp289,8 milyar) di tahun 2020. Olivia Alexander, Co-Founder dari agensi kreatif di LA mengungkapkan betapa makanan dengan infus ganja begitu lezat. “Rasa makanan menjadi lebih kuat. Perasaan Anda semakin meningkat, Anda lebih selaras dengan diri Anda sendiri. Ini (juga) meningkatkan selera Anda. Rasa sup menjadi lebih kenyal. Kemudian, makanan penutup menjadi lebih manis dan kaya rasa. Semuanya terasa meledak, seperti orgasme di mulut Anda. Semua ini terjadi saat Anda mencapai relaksasi puncak,” ucap Olivia Alexander yang telah menikmati lebih dari 10 kali makan malam dengan infus ganja seperti dilansir dari Marie Claire US.

Industri ganja terus tumbuh secara signifikan di Amerika Serikat, terutama yang digunakan dalam infus makanan di acara-acara khusus. Seperti yang dilakukan oleh salah satu perusahaan event di LA yang menyediakan acara jamuan makan malam dengan mengundang 10-20 tamu dengan harga makanan mulai dari USD 180-500 (Rp2,3-6,6 juta) per orang. Bisnis ini terbilang sukses dan bahkan antrian tamunya telah full book hingga empat bulan ke depan. Selain dalam jamuan makan malam, ganja juga digunakan dalam makanan untuk pesta. Biasanya ini dimaksudkan untuk membangun mood pesta menjadi lebih seru dan mengasikkan. Ganja yang digunakan sebagai bahan makanan tidak dijual sembarangan. Penjual harus memastikan tanaman ganja berada dalam ph level yang tepat, fertilizer, serta temperatur suhu saat dalam proses menanam. Satu pesta di mana menggunakan ganja sebagai bahan makanannya, diberikan harga USD 3500 (Rp46,5 juta).

MANFAAT VS KERUGIAN

Meskipun di beberapa negara telah terjadi perubahan pandangan mengenai ganja, nyatanya tanaman tersebut tetap menjadi perdebatan untuk kelegalitasannya. Untuk memutuskan hal tersebut, diperlukan suatu penelitian sebagai landasan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya kandungan dalam ganja yang bisa digunakan untuk pengobatan dan bagian dari gaya hidup baru.

Israel sebagai salah satu negara yang memiliki program ganja medis tercanggih di dunia telah lama melakukan penelitian terdalam mengenai khasiat ganja untuk pengobatan. Raphael bersama timnya menjelaskan struktur kimia cannabidiol (CBD) yang merupakan bahan kunci dalam ganja ternyata memiliki banyak kegunaan medis potensial, namun tidak memiliki efek psikoaktif pada manusia. Dari hasil penelitiannya tersebut, lebih dari 20.000 pasien telah memiliki lisensi penggunaan ganja untuk pengobatan, seperti glokoma, penyakit Crohn, peradangan, kehilangan nafsu makan, sindrom Tourette dan asma. Lain halnya dengan penggunaan ganja sebagai bagian dari gaya hidup.

Jika negara bagian Amerika mulai akrab dengan makanan yang diinfus dengan ganja, Indonesia juga sebenarnya sudah lama akrab dengan masakan daerah yang menggunakan ganja sebagai bahan campuran. “Di Aceh ada masakan daging yang kalau menggunakan ganja, itu menjadi empuk dan lezat sekali,” ucap Fidiansjah. “Inilah yang harus diperhatikan bahwa penggunaan ganja bisa menjadi bermanfaat jika dilakukan dengan cara yang benar.” Namun, pandangan ganja sebagai tanaman terlarang masih begitu kuat di benak masyarakat. Diperlukan waktu dan sejumlah penelitian untuk mulai mengubah pandangan tersebut. Well, mengutip pernyataan Nolan Kane, peneliti yang mengkhususkan diri pada biologi evolusioner di Universitas Colorado Boulder, sepertinya ganja memang masih menjadi kekayaan yang memalukan saat ini.

 

Teks: Dede Kartika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *