Starbucks Buka Kesempatan Untuk Imigran Muslim

 

Ketika Donald Trump mengesahkan larangan bagi imigran yang berasal dari negera-negara muslim untuk memasuki Amerika termasuk imigran yang lari dari perang, Starbucks justru membuka lebar kesempatan bagi muslim untuk dapat bekerjasama.

Kebijakan Trump yang disebutnya sebagai kebijakan untuk menjaga teroris Islam radikal dari Amerika, telah banyak menuai banyak protes dari seluruh dunia. Salah satu protes dikemukakan langsung oleh Howard Schultz, CEO dan Chairman Starbucks melalui surat terbuka. Dalam pernyataannya, Howard mengutuk kebijakan Trump dan berniat untuk memerangi kebijakan tersebut.

Howard mempertanyakan janji American Dream yang disebutkan oleh Trump ketika berkampanye. Ia juga menyangsikan bahwa kebijakan ini benar-benar terjadi di Amerika yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Starbucks. Howard menguraikan empat tindakan penting yang akan mereka ambil untuk menunjukkan sikap mereka atas kebijakan tersebut.

Langkah pertama, Starbucks akan tetap melanjutkan dukungan terhadap program Deferred Action for Childhood Arrivals (DACA) dengan membayar kembali biaya yang dikeluarkan setiap dua tahun sekali yang dibutuhkan untuk menjadi bagian dari program dan menawarkan jasa DACA terkait dengan layanan dalam proses pameran perekrutan mereka. Kedua, Howard akan menggandakan upaya mereka dalam menerima para imigran muslim. “Selamat datang bagi mereka yang melarikan diri dari perang, kekerasan, penganiayaan dan diskriminasi,” tulis Howard. Dalam melakukan upayanya tersebut, ia mengklaim Starbucks saat ini sedang mengembangkan rencana untuk merekrut 10.000 pengungsi dalam lima tahun ke depan yang dimulai dengan orang-orang yang telah lama bekerjasama dengan tentara Amerika sebagai penerjemah dan tenaga pendukung di berbagai negara.

Ketiga, Howard menentang perintah Trump untuk membangun dinding di sepanjang perbatasan AS-Meksiko dengan menyatakan niat Starbucks untuk terus melakukan bisnis dengan negara tersebut dan mendukung mereka sebanyak yang mereka bisa. “Kami siap untuk membantu dan mendukung pelanggan kami di Meksiko, mitra dan keluarga mereka karena mereka menavigasi dampak yang diusulkan dari sanksi perdagangan, pembatasan imigrasi dan pajak pada bisnis mereka karena kepercayaan mereka terhadap orang Amerika. ”

Kemudian, Howard menentang ancaman Trump atas Undang-Undang untuk Perawatan Terjangkau (a.k.a Obamacare) dengan meyakinkan bahwa semua karyawan akan mendapatkan manfaat dan memiliki akses ke asuransi kesehatan dan menambahkan bahwa perusahaan siap untuk bekerjasama dengan siapapun yang memiliki perhatian atas adanya celah akan kehilangan cakupan asuransi mereka.

“Dalam menghadapi peristiwa baru-baru di seluruh dunia, izinkan saya meyakinkan Anda bahwa kami akan tetap setia pada nilai-nilai kami dan melakukan segala sesuatu yang mampu kami lakukan untuk mendukung dan berinvestasi dalam setiap mitra untuk kesejahteraan,” tulis Howard. “Kami berada dalam bisnis untuk menginspirasi dan memupuk jiwa manusia, satu orang, satu cangkir dan satu lingkungan terlepas dari apakah lingkungan yang ada berada di suatu dalam zona merah maupun biru, sebuah negara Kristen atau negara Muslim, sebuah negeri yang terbagi atau bangsa bersatu. ”

Howard meyakinkan bahwa hal itu tidak akan berubah dan kata-kata yang dituliskan dapat dipertanggungjawabkan.

BAGIKAN HALAMAN INI: