Stephanie Kurlow: Hijabi Ballerina yang Bersinar Melalui Keberagaman

Image: Wardah

 

Di usianya yang masih 15 tahun, Stephanie Kurlow, Balerina berhijab asal Australia ini telah banyak menginspirasi perempuan dan generasi muda. Ia memiliki keinginan besar untuk membangun Performing Art School yang berbasis diversity.

Marie Claire (MC): Sejak kapan Anda belajar menari?

Stephanie Kurlow (SK): Saya mulai belajar menari sejak berusia 2 tahun. Kemudian saat berusia sekitar 9 tahun, saya memutuskan untuk vakum selama tiga tahun. Saat itu saya merasa sudah tidak memiliki koneksi lagi dengan balet dan lebih memilih untuk berfokus memperdalam ilmu agama. Namun setelah satu atau dua tahun kemudian, saya sangat merindukan balet dan kembali menekuninya hingga sekarang.

MC: Di tahun 2010, Anda dan keluarga memutuskan untuk menjadi mualaf. Bagaimana hal tersebut mengubah hidup Anda?

SK: Keputusan tersebut benar-benar mengubah hidup saya karena sebagian dari keluarga besar kami bukan Muslim, jadi butuh waktu yang cukup lama bagi mereka untuk mendukung keputusan kami. Dan perubahan yang terlihat adalah saya mengenakan hijab saat ini.

MC: Setelah memutuskan untuk memakai hijab dan tetap melanjutkan balet, Anda sempat mendapatkan komentar negatif. Bagaimana perjuangan Anda dalam menghadapi hal itu?

SK: Saya lebih memilih untuk tidak menghiraukannya. Saya mencoba untuk tidak membaca komentar tersebut dan tidak membiarkannya memengaruhi pikiran saya, karena mereka tidak mengenal saya yang sesungguhnya dan saya juga tidak mengenal mereka. Jadi mereka tidak dapat benar-benar menyakiti saya melalui komentar-komentar negatif mereka.

MC: Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi sebagai seorang Hijabi Ballerina?

SK: Menurut saya tantangan terbesarnya adalah untuk menciptakan lingkungan yang dapat menerima dan mendukung balerina yang memiliki perbedaan dari balerina pada umumnya, seperti misalnya balerina yang mengenakan hijab, berbeda budaya atau ras, serta mengubah pola pikir masyarakat mengenai perbedaan itu sendiri.

MC: Sebagai balerina pertama yang mengenakan jilbab, apa saja yang ingin Anda lakukan untuk menginspirasi perempuan muda lainnya?

SK: Saat ini merupakan masa-masa yang cukup sulit, khususnya bagi para perempuan muda yang mengenakan hijab. Banyak orang yang mengatakan bahwa dengan berhijab kami tidak dapat melakukan banyak hal, bahkan perempuan biasa juga kerap mendapatkan perlakuan seperti itu. Saya ingin memberitahu bahwa meskipun berhijab, generasi muda tetap dapat melakukan banyak hal dan tidak ada yang dapat membatasi mereka untuk mencapai semua keinginannya.

MC: Apa rencana Anda untuk membantu para pemuda seperti Anda dalam mencapai impian mereka?

SK: Ketakutan untuk tidak dapat menjadi balerina profesional karena berhijab membuat saya ingin mendirikan Performing Art School berbasis diversity yang terbuka bagi semua kalangan. Tujuannya adalah agar semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengekspresikan dirinya tanpa memandang perbedaan. Karena saya lihat sekarang belum ada sekolah yang seperti ini. Saya ingin menciptakan sebuah dunia di mana semua orang dapat menonjol. Untuk dapat mewujudkannya saya membuat sebuah proyek fund rising agar mendapat dukungan dari masyarakat di seluruh dunia.

MC: Mengapa Anda ingin melakukan hal tersebut?

SK: Saya melakukannya karena hal itu selalu terngiang dalam benak saya dan benar-benar saya butuhkan saat ini. Saya rasa itu merupakan cara yang akan dilakukan oleh semua perempuan muda seperti saya untuk membantu perempuan lainnya agar mereka dapat mencapai keinginannya dengan lebih mudah.

MC: Lalu dalam berkarier, apa rencana Anda selanjutnya?

SK: Saat ini saya sedang berlatih untuk menjadi penari balet profesional, mengikuti banyak kompetisi, dan saya juga sedang berkolaborasi dengan Wardah dalam program Wardah Inspiring Movement dan saya berharap kami dapat melakukan banyak hal untuk ke depannya.

MC: Siapa inspirasi terbesar Anda dalam berkarier?

SK: Saya memiliki banyak inspirasi, salah satunya adalah balerina dari Cina, Li Cunxin. Sejak kecil ia pindah ke Amerika Serikat dan terpisah dari orang tuanya. Perjuangannya untuk menghadapi isu perbedaan saat berada di Amerika Serikat begitu menginspirasi saya hingga saat ini.

MC: Di usia yang masih muda, bagaimana Anda melihat diri Anda dalam waktu lima tahun ke depan?

SK: Saya ingin berada dalam sebuah tim profesional, berkompetisi di seluruh dunia, dan terus terlibat dalam acara-acara inspiratif untuk menginspirasi banyak orang. Saya juga ingin melakukan banyak hal yang berbeda seperti misalnya menjadi seorang aktris.

MC: Apakah Anda ingin menulis buku tentang kisah Anda setelah memenangkan kompetisi menulis di tahun 2013?

SK: Tentu saja. Saya ingin menulis buku tentang kisah perjalanan hidup dan karier saya. Mengenai tantangan yang saya hadapi agar dapat menginspirasi para perempuan dan generasi muda lainnya.

MC: Apakah Anda memiliki ritual tersendiri sebelum melakukan pertunjukan?

SK: Setiap kali akan tampil saya mengonsumsi coklat. I really like chocolate! Karena cokelat dapat menjaga agar mood saya tetap baik.

BAGIKAN HALAMAN INI:



Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 - Saksikan eksklusif live streaming Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 yang akan dilangsungkan di Paris pukul 2.30 pm waktu Paris atau Pukul 7.30 pm waktu Jakarta.