Women Seven Summits: Perempuan Penakluk Puncak Dunia

Fransiska dan Mathilda bersama tim pendakian siap menaklukkan Puncak Vinson Massif, Antartika (Dok. WISSEMU)

Fransiska Dimitri Ingkiriwang (23) dan Mathilda Dwi Lestari (23) berhasil melakukan pendakian di lima puncak gunung tertinggi di dunia. Keduanya harus berjuang untuk menemukan jalur yang mudah dilalui bagi pendaki perempuan serta untuk menjadi perempuan Indonesia pertama yang berhasil melakukan Seven Summits.

Dahulu mendaki gunung merupakan salah satu kegiatan di luar ruangan yang identik dengan laki-laki, di mana perempuan dianggap tidak mampu melakukannya. Namun, Junko Tabei berhasil membuktikan bahwa hal itu tidak benar. Ia menjadi perempuan pertama yang menjejakkan kaki di puncak Everest pada tahun 1975. Ia juga menjadi perempuan pertama yang berhasil meraih Seven Summits. Seven Summits merupakan ekspedisi pendakian puncak-puncak gunung tertinggi di tujuh benua, yakni puncak Kilimanjaro di Afrika, puncak Vinson di Antartika, puncak Jaya atau Kosciuszko di Lempeng Australia, puncak Everest di Eurasia, Denali di Amerika Utara, puncak Mauna Kea di Lempeng Pasifik, dan puncak Aconcagua di Amerika Selatan. Sekitar 40 tahun setelah pencapaiannya dan banyak perempuan yang telah mengikuti jejaknya, saat ini, lebih dari 400 perempuan berhasil mencapai puncak Everest, termasuk pendaki perempuan termuda, Malavath Poorna, yang masih berusia 13 tahun dan Lapka Sherpa, perempuan yang paling sering mencapai puncak Everest. Sedangkan untuk di Indonesia dan Asia Tenggara, Clara Sumarwati tercatat sebagai perempuan pertama yang berhasil menaklukkan puncak Everest pada tahun 1996.

Dibutuhkan waktu delapan jam untuk mencapai Low Camp Vinson Massif, di Antartika pada ketinggian 2781 mdpl ini (Dok. WISSEMU)

Saat ini perempuan di seluruh dunia terus membuktikan bahwa tidak ada batasan apapun untuk mencapai keinginan mereka, termasuk untuk meraih Seven Summits. Dari Indonesia, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, dua mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Katolik Parahyangan Bandung yang tergabung dalam The Women of Indonesia’s Seven Summits Mahitala Unpar (WISSEMU) sedang menjalani misi pendakian tersebut. Kedua perempuan yang juga menjadi anggota dari Mahitala Unpar ini telah memulai perjalanan mereka dari tahun 2014. Lima gunung tertinggi di dunia yakni Gunung Carstenz di Papua, Gunung Elbrus di Rusia, Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Gunung Aconcagua di Argentina, dan terakhir Gunung Vinson Massif di Antartika telah berhasil mereka daki.

Fransiska dan Mathilda saat berada di pesawat menuju Union Glacier Blue-Ice Runway, Antartika, sebelum melakukan pendakian (Dok. WISSEMU)

“Kami ingin menginspirasi para perempuan, terutama yang masih muda bahwa perempuan juga dapat melakukan hal-hal besar yang cenderung dianggap sulit oleh kebanyakan orang,” ungkap Mathilda Dwi Lestari saat kami wawancarai melalui telepon. Keduanya berusaha untuk mencetak prestasi atas nama perempuan Indonesia di kancah internasional melalui ekspedisi Seven Summits tersebut.

Melawan Diri Sendiri

Fransiska Dimitri saat melakukan tyrolean traverse di Gunung Cartenz, Papua. (Dok. WISSEMU)

Upayanya untuk mengharumkan nama bangsa tidak luput dari berbagai tantangan. Kelima gunung yang berhasil ditaklukkan oleh Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Selain harus mendaki hingga ketinggian 4.892 di atas permukaan laut, mereka juga harus menghadapi suhu hingga -33 derajat celsius saat berada di Antartika. Penyesuaian dari iklim tropis ke iklim yang ekstrim seperti yang terjadi di pegunungan es menjadi salah satu tantangan terberat. Selain itu, mereka juga harus mencari peralatan yang memadai, sebab di Indonesia tidak banyak yang menjual peralatan pendakian gunung es.

Saat melakukan scrambling dalam pendakian Gunung Kilimanjaro, Tanzania. (Dok. WISSEMU)

Namun bukan hanya itu saja yang harus mereka hadapi, kesiapan mental juga menjadi salah satu hal penting dalam melakukan sebuah pendakian. “Tantangan terbesar dari ekspedisi ini sebenarnya adalah untuk melawan diri sendiri. Kami juga harus meyakinkan diri sendiri jika semangat kami mulai goyah. Terlebih lagi karena kami mengorbankan banyak hal seperti waktu bermain, kuliah dan juga bersama keluarga. Kami harus selalu ingat bahwa pengorbanan yang kami lakukan itu tidak akan sia-sia,” ungkap Hilda, sapaan akrab dari Mathilda Dwi Lestari.

Mereka juga merasa bersyukur karena mereka tidak pernah diremehkan sebagai seorang pendaki perempuan. Fransiska dan Mathilda justru mendapat dukungan dari para pendaki lainnya. “Saat kami bertemu dengan pendaki lain mereka justru merasa heran dan termotivasi saat melihat kami, dua perempuan dari negara tropikal dan berperawakan kecil yang berjuang menaklukan pegunungan es di tujuh benua,” cerita Hilda sambil tertawa.

Pendakian menuju Puncak Aconcagua setelah beberapa hari tertunda karena cuaca buruk. (Dok. WISSEMU)

Pendakian yang mereka lakukan ini sebelumnya memang sudah dapat dilakukan para laki-laki. Tentunya jika ada perempuan yang menjadi anggota pendakian maka mereka harus mengikuti jalur yang sudah dibuat. Namun sebagai perempuan Indonesia pertama yang akan menuntaskan misi Seven Summits ini, Hilda dan Fransiska harus mencari jalan dan meraba jalur yang mudah dilalui bagi perempuan, sehingga nantinya dapat diteruskan oleh pendaki perempuan selanjutnya.

Fransiska saat mencoba duduk di toilet yang terdapat di basecamp Vinson Massif, Antartika. (Dok. WISSEMU)

Melihat perjuangan mereka, maka tidak heran jika ketakutan untuk tidak dapat pulang kembali ke Indonesia atau kehilangan nyawa saat mendaki menjadi kekhawatiran terbesar. Perubahan cuaca yang sangat drastis juga menjadi salah satu ketakutan mereka untuk tidak dapat mencapai puncak. Ketakutan mereka seakan bertambah dengan adanya kejadian yang menimpa teman seperjuangan mereka, Dian Indah Carolina. Carolina yang juga merupakan anggota dari WISSEMU, terpaksa harus kembali turun karena mengalami sebuah gangguan kesehatan saat mendaki di Aconcagua, Amerika Selatan. Hal tersebut menjadi pengalaman buruk yang sempat membuat semangat dan kondisi emosional kedua pendaki berusia 23 tahun tersebut menurun. Namun kejadian yang menimpa Carolina juga menjadi pelajaran berharga bagi mereka agar tidak luput dalam melakukan persiapan baik fisik maupun mental.

Pengorbanan Untuk Mencapai Puncak

Mathilda Dwi Lestari mengibarkan bendera Merah Putih dengan sepeda di Union Glacier, Antartika. (Dok. WISSEMU)

Bagi Mathilda menjadi pendaki bukanlah sebuah cita-cita yang ia impikan sejak dulu. Ia juga sempat tidak didukung oleh orang tuanya untuk bergabung dalam tim pecinta alam dan harus memberikan penjelasan ekstra saat akan melakukan ekspedisi Seven Summits. Tetapi kemudian ia berhasil menetapkan hati dan mengenyahkan keraguan orang tuanya. “Dapat berada di posisi saya saat ini, telah mendaki lima dari tujuh gunung tertinggi dari tujuh benua dan telah menjadi perempuan Indonesiapertama yang melakukan Seven Summits adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya. Saya tidak menyangka hobi saya dapat tersalurkan sekaligus mencetak sebuah prestasi,” ungkap Mathilda.

Berbeda dengan Fransiska. Ia mendapat pengaruh mendaki dari keluarga besarnya. Sang ayah dulu pernah melakukan ekspedisi ke Mont Blanc di Aosta Valley, Italia dan Haute-Savoie, Perancis, pada tahun 1980an dan kakak laki-lakinya juga melakukan pendakian di pegunungan Sudirman di Papua pada tahun 2009. “Mereka menjadi inspirasi terbesar saya dalam mendaki. Saya bergabung dengan tim pecinta alam di kampus karena ingin mendapat pengalaman mendaki dan sama sekali tidak memiliki tujuan untuk melakukan Seven Summits,” cerita Fransiska.

Menikmati makanan bersama dengan pendaki lain di Vinson Massif. (Dok. WISSEMU)

Untuk melakukan ekspedisi ini tentunya dibutuhkan komitmen yang besar. Fransiska dan Mathilda bahkan rela menunda kelulusan demi menuntaskan Seven Summits ini. “Sejak awal merencanakan ekspedisi ini kami memang sudah siap jika harus tertinggal dalam hal perkuliahan. Namun kami bersyukur karena meskipun sempat tertunda namun kuliah kami tidak terbengkalai dan saat ini kami sedang menjalani tugas akhir,” cerita Fransiska. Tidak hanya kuliah saja, mereka bahkan hampir tidak memiliki waktu untuk sekadar me time.

Mereka harus menjalani proses latihan panjang untuk persiapan pendakian mulai dari persiapan mental dan fisik yang menguras tenaga, menggali pengetahuan mengenai gunung yang akan didaki dan mempelajari strategi di berbagai medan berbeda yang akan ditempuh selama pendakian. Kini Fransiska dan Mathilda tengah bersiap untuk melanjutkan pendakian selanjutnya ke gunung ke-6, yakni Gunung Denali di Amerika Utara yang akan dilakukan pada awal Juni 2017 mendatang.

BAGIKAN HALAMAN INI: