Adek Berry: Menjadi Mata Masyarakat

Sudah hampir 20 tahun Adek Berry menekuni bidang fotografi. Bagi ibu dari dua anak ini, profesi yang sampai kini ia tekuni sebagai Jurnalis Fotografi AFP adalah passion yang menuntun hidupnya menjadi lebih berwarna. Fotografi jugalah yang membawanya keliling dunia, mengunjungi berbagai tempat konflik, bencana alam, olimpiade, hingga peristiwa-peristiwa penting lainnya. Fotografi seolah telah menjadi satu kesatuan yang terpisahkan dari diri Adek Berry, karena baginya ia telah dipinjamkan mata oleh masyarakat dunia untuk melihat beragam peristiwa dan melaporkannya secara istimewa.

Adek mengaku bahwa dasar memotret telah ia tekuni sejak kuliah Jurusan Teknologi Pertanian di Jember. Ia juga aktif mengikuti komunitas fotografi, bahkan sampai menghasilkan uang dari hobinya tersebut. Kemudian, ia mendapatkan hadiah berupa kamera SLR Yashica FX-3. “Ketika mendapatkan hadiah kamera itu saya jadi makin mendalami lagi fotografi. Kamera SLR itu memang tantangan, karena untuk mendaptkan gambar yang bagus maka secara teknis harus benar bukan seperti kamera smartphone yang bisa mempercantik sendiri yah, haha. Jadi satu rol film itu saya gunakan sebaik mungkin untuk mendapatkan gambar yang maksimal,” ucap Adek.

Sejak bergabung dengan AFP pada tahun 2000, telah banyak pengalaman yang ia dapatkan. Salah satu yang selalu diingatnya adalah ketika dirinya ditugaskan ke Afghanistan di keberangkatan yang kedua. Saat itu, Adek ditugaskan untuk mengumpulkan story mengenai perempuan Afghanistan yang mengalami KDRT. Ia bertemu dengan salah seorang perempuan yang melakukan aksi bakar diri bernama Parwan. Tubuhnya terbakar seluruhnya dan yang terlihat hanya mata dan telapak kakinya saja. Adek mengaku bahwa itu menjadi satu pengalaman yang begitu mengena di hati.

Ketika sedang menjalankan tugas yang begitu menggugah sisi emosionalnya seperti ketika memotret Parwan misalnya, Adek mengaku ia tetap berusaha untuk profesional. Baginya, ketika bekerja ia adalah seorang Adek Berry, jurnalis fotografi AFP. Tapi setelah itu selesai, ia adalah seorang Adek Berry yang memiliki sisi kemanusiaan untuk sesama. “Saya memegang tangan dia sambil membisikkan kalimat-kalimat Tuhan. Saya mencoba berkomunikasi dengan sentuhan dan sorot matanya, merasakan betapa berat penderitaan yang ia alami. Parwan adalah seorang istri yang mengalami KDRT oleh keluarga suaminya. Sebagai perempuan, ketika saya memegang tangannya dan melihat matanya kami seolah saling mengerti dan saya mencoba sebisa saya untuk menguatkannya,” ucap Adek.

Dunia fotografi yang dinamis dan penuh tantangan diakui Adek telah menuntunnya, karena profesi tersebut adalah apa yang diinginkan oleh kata hatinya. Adek menuturkan bahwa sejak lulus SMA, bidang jurnalistik telah dipilihnya sebagai pilihan karier. Ketika ia sempat sekolah kedokteran gigi pda awal masa kuliah, ia tahu bahwa bukan hal itu yang ia inginkan. “Menjadi seorang jurnalis fotografi itu juga hobi saya, karena kita bertugas untuk mengangkat suatu permasalahan dan melaporkannya kepada masyarakat. Kita menjadi matanya masyarakat, baik nasional maupun mancangera,” ucap Adek.

BAGIKAN HALAMAN INI:



Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 - Saksikan eksklusif live streaming Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 yang akan dilangsungkan di Paris pukul 2.30 pm waktu Paris atau Pukul 7.30 pm waktu Jakarta.

What’s On