Hot Issue

Siapa Calon Gubernur Pilihan Anda?

Sudah lima tahun berlalu sejak periode kepemimpinan Jakarta yang terakhir. Dalam hitungan hari, Jakarta akan memiliki pemimpin baru. Sejumlah pihak pun telah ramai saling melontarkan isu dan mendebatkan siapa yang paling pantas dan layak untuk memimpin Jakarta dalam lima tahun ke depan. Anda pun sudah melihat kemampuan dari masing-masing kandidat pada masa kampanye dan debat pilkada. Namun, sudahkah Anda menentukan pilihan?

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meramalkan bahwa di tahun 2030 sekitar 60% penduduk dunia akan menempati kota. Sedangkan Bank Dunia memperkirakan pada tahun 2025 terdapat sekitar 70% penduduk Indonesia akan terpusat di daerah kota. Dari angka itu, 60% penduduknya akan terpusat di kota-kota besar di pulau Jawa, termasuk Jakarta. Ini menjadi tantangan besar bagi ketiga pasangan kandidat dalam merebut hati penduduk Jakarta melalui masa-masa kampanye yang telah ditentukan. Debat kandidat yang dilakukan sebanyak tiga sesi pun menjadi cerminan tolak ukur kompetensi pada kandidat dalam memahami persoalan Jakarta dan mengubahnya menjadi lebih baik.

Data jumlah pemilih tetap penduduk Jakarta secara keseluruhan seperti yang dilaporkan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta adalah sekitar 7.108.589 dan  sebanyak 3.546.899 adalah perempuan. Tentunya ini merupakan jumlah yang tidak sedikit mengingat lebih dari setengah penduduk Jakarta adalah perempuan. Perempuan dan anak-anak dapat menjadi tolak ukur kemajuan suatu daerah. Kemudahan akses terhadap pendidikan, kesehatan dan peluang karier yang setara dengan laki-laki menjadi salah satu indikator yang patut diperhitungkan. Sebagai ibu kota negara, Jakarta merupakan cerminan yang akan menjadi panutan bagi kota-kota besar lainnya di Indonesia. Dari ketiga kandidat yang turut serta meramaikan panggung pemilihan, terdapat beberapa poin yang kami highlight berkaitan dengan janji-janji yang ditawarkan untuk perempuan dan anak.

 

 

Jakarta Butuh Pemimpin Anti-Mainstream

Menurut Mercy Chriesty Barends, Anggota DPRD Komisi VII yang membidangi energi sumber daya mineral dan lingkungan hidup, karakter masyarakat Indonesia, tidak terkecuali Jakarta masih menganut paham politik simbolisme dimana masih mengkotak-kotakan orang pada suku, agama dan ras. Untuk dapat membangun Jakarta sebagai ibukota negara yang lebih baik, dibutuhkan pemimpin yang mampu melahirkan narasi baru, narasi spirit kebangsaan yang ketika dia berdiri semua merasa terlindungi, terayomi dan terlayani dengan baik. Mercy membagikan pandangannya kepada Marie Claire mengenai sosok ideal untuk memimpin Jakarta dalam lima tahun ke depan.

Marie Claire (MC) : Bagaimana Anda melihat kondisi Jakarta saat ini?

Mercy Barends (MB) : Saya melihat jakarta banyak perubahan dari sisi tata ruang, pembersihan daerah bantaran kali dan tata pemerintahan. Dari segi tata ruang bisa dilihat dari barea taman yang semakin banyak, daerah kumuh berkurang, revitalisasi dan lain sebagainya. dari segi pemerintahan, kita juga melihat pemantauan keuangan menjaid lebih transparan di mana alokasi dana banyak disalurkan kepada pemberdayaan masyarakat dan perbaikan infrastruktur, pemberantasan korupsi dan layanan pemerintahan yang jauh lebih efisien.

MC : Bagaimana jika dilihat dari kacamata perempuan? Apakah terjadi perkembangan yang lebih baik untuk perempuan dan anak?

MB : Dari aspek kesehatan, terutama daerah Sungai Bambu, banyak masyarakat yang mengadu telah mendapatkan manfaat dari program Kartu Jakarta Sehat (KJS), terutama untuk layanan kesehatan ibu hamil. Sedangkan dari aspek pendidikan, para ibu rumah tangga merasa sangat terbantu karena pemerintah lebih perduli dengan anak-anak dalam hal bayaran sekolah hingga pada peralatan penunjang, seperti tas, baju, sepatu dan lain sebagainya. dari segi pemberdayaan perempuan untuk home industry, para perempuan juga merasa diuntungkan. Walaupun masih terdapat kekurangan dalam hal pembagian dana pemberdayaan, tetapi menurut saya secara garis besar pemerintah Jakarta telah selangkah lebih memerhatikan kesejahteraan perempuan.

MC : Sosok seperti apa yang dibutuhkan Jakarta saat ini?

MB : Harus berani, anti mainstream dan bisa memimpin dalam segala zona, karena dia harus mampu mengatakan yang benar adalah benar dan salah adalah salah tanpa pandang golongan. Pemimpin Jakarta juga harus memiliki kemampuan sebagai CEO perusahaan yang senantiasa berinovasi. Kita tidak bisa mendapatkan pemimpin yang hanya bisa copy paste dari program pendahulunya.

MC : Dari ketiga kandidat yang maju pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, yang manakah menurut Anda yang paling ideal untuk Jakarta?

MB : Berbicara mengenai Jakarta tidak bisa hanya sekadar konstekstual dan hitung-hitungan matematika, tetapi yang benar-benar harus melihat kondisi aslinya dulu sebelumnya. Dari debat kandidat saja sudah terlihat mana calon yang rasional dan tidak rasional. Pemimpin yang paling ideal adalah yang betul terlihat nyata kerjanya dan tidak segan membongkar yang memang seharusnya dibongkar.

 

Agenda Kesetaraan Gender Belum Jadi Fokus Utama

Menjelang pemilihan kepala daerah, terutama daerah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, isu suku, ras dan agama begitu panas dan menjadi fokus utama masyarakat. Menariknya lagi, dari enam orang pasangan calon gubernur dan wakil gubernur hanya ada satu orang perempuan. Menanggapi hal ini, Ketua Partai Kebangkitan Bangsa sekaligus Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid membagikan pandangannya kepada Marie Claire dalam obrolan santai di kantor Wahid Foundation secara ekslusif kepada Editor In Chief Marie Claire, Fitria Sofyani.

Fitria Sofyani (FS): Bagaimana Anda melihat situasi politik yang berkembang saat ini?

Yenny Wahid (YW): Saya lihat tidak jauh berbeda dengan situasi yang terjadi di negara lain, seperti di Amerika. Ada perang retorika yang berpotensi membelah masyarakat, retorika politik yang tidak berlandaskan fakta dan tidak bertanggung jawab, yang sekarang kita dengar dengan istilah hoax. Lalu fenomena intoleransi yang menyebar terutama melalui media sosial melalui ujaran kebencian. Ini juga bagian dari fenomena global. Dengan adanya revolusi digital, orang jadi berpikir bahwa ada platform baru, ada alat baru yang bisa digunakan untuk menyuarakan obsesi mereka. Tapi dalam platform baru tersebut belum terbentuk etika penggunnaanya.

FS: Sebagai seorang perempuan, warga dan politisi apakah fenomena ini membuat Anda khawatir?

YW: Ujaran kebencian yang tidak terkontrol itu merupakan fenomena yang menyulitkan, dan harus dilawan dengan common sense, akal sehat, sikap yang menahan diri. Saya sebagai publik figur sering sekali dibully di sosial media. Salah sedikit dibully. Kalau perempuan biasanya dari bentuk tubuh dan cara berpakaian. Selalu, hampir selalu. Kalu laki-laki penyerangannya selalu difokuskan kepada apa yang diucapkan. Kalau perempuan, jadi cara berpakaiannya, atau bentuk fisiknya. Misalnya, kaya saya sering dibully mengenai tubuh saya yang besar, apalagi ketika saya habis melahirkan.

FS: Lalu apa yang Anda lakukan untuk mengatasinya?

YW: Saya sekarang memilih tidak aktif di media sosial karena terlalu banyak mengaktifkan energi dan bisa fokus untuk melakukan hal-hal yang produktif. Dengan apa yang saya lakukan, saya juga sudah memiliki kekebalan terhadap bully hingga level tertentu. Dan sosial media bagi saya adalah ketika hal lain yang menjadi prioritas hidup saya sudah dilakukan terutama urusan keluarga.

FS : Bicara mengenai kandidat kepala daerah Jakarta. Menurut Anda yang mana yang paling bisa menjawab persoalan ibukota yang sangat kompleks ini?

YW: Setiap kandidat memiliki kekuatan yang jika saja bisa disatukan hasilnya akan sangat luar biasa. Agus Yudhoyono akan membawa fresh thinking dan memiliki mesin politik yang kuat. Ia juga perwira militer yang sudah pernah ditempatkan di luar negeri, cukup berpendidikan jadi secara basic cukup punya potensi. Basuki Cahya adalah orang yang berorientasi pada hasil dan memang terbukti. Ia berpikir kreatif dan out of the box dan memiliki keberanian yang patut dikagumi. Sementara Anies Baswedan sudah pernah menjadi pemimpin beberapa organisasi maupun lembaga. Secara teoritis mempunya basis yang sangat kuat. Dan saya rasa pengalamannya sebagai menteri juga memberikan pespektif dan memperkaya teori-teori yang pernah dipelajarinya.

FS : Lalu yang mana pilihan Anda?

YW : Rahasia! Hahaha….Tapi anggota komunitas saya ada yang menjadi tim sukses di semua pasangan. Saya sendiri harus netral, tapi jika tim saya ingin turut serta, saya fasilitasi mereka semua.

FS: Nah, dari ketiga pasangan ini, mana yang menurut Anda sudah mendukung agenda perempuan?

YW: Saya tidak melihat dan tidak mendengar bahwa itu menjadi salah satu fokus mereka,

FS : Oke. Tapi ada satu kandidat perempuan dalam pemilihan ini. Apakah Sylviana Murni menurut Anda akan mewakili kepentingan warga perempuan Jakarta jika mereka terpilih?

YW:  Saat ini saya tidak melihat figur perempuannya, karena sekarang banyak juga perempuan yang tidak sensitif gender. Banyak yang masuk politik hanya mau jadi primadona, ada merasa paling hebat sendiri, paling pintar sendiri. Dan ada kecenderungan perempuan tidak mau saling bantu. Padahal sikap seperti ini malah makin merugikan perempuan bahkan ada yang saling menyalahkan. Contoh paling sederhana adalah masalah pemerkosaan, kita sering sekali banyak mendengar sesama perempuan banyak yang menyalahkan korban perkosaan karena cara berpakaian. Jadi orang yang menyalahkan korban itu tidak hanya dari laki-laki.

Jadi buat saya kandidat siapapun yang menang harus kita infiltrasi dengan agenda-agenda perempuan. Kita harus memastikan bahwa mereka akan mengusung agenda perempuan, seperti transportasi yang aman dan nyaman, ruang publik untuk ibu menyusui, gizi baik untuk anak-anak, keamanan di jalan raya. Itu semua harus diadopsi oleh semua kandidat, tidak hanya kandidat yang ada perempuannya saja. Saya harap kesetaraan gender juga menjadi fokus utama dalam pilkada ini.

 

Suara Perempuan

Kami bertanya kepada 50 perempuan dalam sebuah survey online mengenai pilihan mereka dan konsen utama yang diharapkan dalam Pilkada DKI pada 15 Februari mendatang.

 

Apapun hasilnya dari pemilihan yang berlangsung pada 15 Februari 2017, beberapa poin yang penting untuk diperhatikan sebagai saran dari perempuan-perempuan Jakarta adalah:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 - Saksikan eksklusif live streaming Dior Haute Couture Autumn-Winter 2018-19 yang akan dilangsungkan di Paris pukul 2.30 pm waktu Paris atau Pukul 7.30 pm waktu Jakarta.

Popular Posts

Latest Issue